Apa Reaksi Asosiasi Islam China soal Desakan Penutupan Kamp Uighur?

Wakil Ketua Asosiasi China Islamic Association, Abdul Amin Jin Rubin, menyadari bukan kapasitasnya menanggapi desakan Turki yang meminta kamp konsentrasi Uighur di Xinjiang ditutup. Namun, Abdul Amin memastikan program pelatihan pendidikan di sana berjalan baik.
China selama ini memang selalu membantah soal isu diskriminasi dan kekerasan terhadap Uighur. Mereka berdalih, kamp-kamp itu sengaja dibangun untuk pelatihan keterampilan kerja dan bahasa mandarin agar masyarakat Uighur tak terpapar terorisme, radikalisme dan ekstremisme.
"Xinjiang vocational training program banyak diatur oleh pemerintah daerah dan banyak perusahaan. Setahu saya, program vokasi berlangsung baik. Situasi ekonomi politik dan sosial stabil, baik-baik saja," ujar Abdul Amin saat ditemui wartawan di Nanhengxijie Street, Xicheng District, Beijing, China, Senin (19/2).
Desakan Turki bukan tanpa alasan. Mengutip BBC, musisi asal Turki keturunan Uighur, Abdurehim Heyit, dikabarkan tewas setelah ditahan di 'penjara' Uighur. Heyit dianggap membahayakan keamanan negara melalui lagu-lagunya yang menyinggung kuasa China di Xinjiang, salah satunya berjudul "Stubborn Guest".
Sejumlah laporan media barat lainnya turut mengamini bahwa isu diskriminasi terhadap Uighur betul-betul terjadi. Semisal Washington Post, yang melaporkan China telah mencuci otak para tahanan lalu membekali mereka dengan berbagai propaganda Partai Komunis, termasuk meninggalkan Islam. Warga Uighur yang disinyalir pernah bersinggungan dengan kelompok radikal --namun belum bisa dibuktikan-- akan dimasukkan ke dalam kamp tersebut.
Atau pemberitaan media Prancis AFP pada Oktober 2018, mencatat kamp itu dikawal ketat oleh ribuan sipir bersenjata. Seluruh penjara dikelilingi beton, CCTV, kamera infra red hingga kawat berduri.
Ditambah pengakuan para saksi mata dan korban yang mulai bersuara beberapa tahun belakangan. Dunia lalu mengecam diskriminasi terhadap Islam oleh pemerintah China.
Ketika disinggung soal diskriminasi agama, khususnya Islam, Abdul Amin berani menjamin China selalu terbuka dengan keberagaman. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya penduduk muslim di China, yakni sekitar 22 juta penduduk muslim yang tersebar di berbagai provinsi, yakni Gannzu, Xinjiang, Qinghai, Yunnan, Ningxia, Hebei, Shandong hingga Henan.
"Muslim di China menikmati kebebasan, di Beijing, masjid selalu terbuka. Banyak pula restoran halal di sini. Bahkan sengaja diangkat untuk menumbuhkan ekonomi pasar. Pemerintah justru mendukung produk halal di China," imbuhnya.
"Saya menganggap tidak ada diskriminasi melawan orang-orang di Xinjiang. Pemerintah justru melindungi hak hukum, kekerasan melalui pendidikan edukasi di Xinjiang. Saya tak melihat adanya kekerasan dan diskriminasi di sana," tegasnya.
Islam di Xinjiang memang sudah bercokol sejak abad ke-8. 'Kahgra:Oasis City and China's Old Silk Road' mencatat identitas muslim Uighur --yang lekat dengan orang-orang Turki-- mulai terbentuk dari jalur perdagangan dan penyebaran Islam oleh tentara Arab.
Setelah abad ke-19 di bawah Dinasti Qing, Uighur dimasukkan ke dalam wilayah kekaisaran China. Penaklukkan wilayah itu membuat Xinjiang masuk dalam wilayah administratif dan otonomi.
Konflik mulai muncul pada 1933, saat orang-orang Uighur yang ingin mendeklarasikan diri sebagai Republik Turkistan tampil dan berada di garda terdepan. China menganggap hal ini sebagai bentuk separatisme, ditambah masuknya Al-Qaida ke wilayah itu dan membuat orang-orang Uighur diduga terpapar radikalisme.
Saat ini, Xinjiang kembali difokuskan sebagai jalur sutra dengan nilai investasi triliunan dolar. Peluang ini dimanfaatkan oleh etnis Han, etnis terbesar di China, untuk berdatangan dan menguasai Xinjiang. Akibatnya, konflik antaretnis Uighur dan Han terjadi.
Anak-anak muda Han yang terampil dan berkualitas dikirim ke Xinjiang untuk menempati posisi-posisi terbaik. Dalam sensus tahun 2000, sekitar 40 persen etnis Han sudah menguasai Xinjiang. Di sisi lain, laporan menyoal kekerasan dan diskriminasi terhadap Uighur semakin bermunculan.
