• 34

Cendana is Back

Cendana is Back


Lipsus Cendana (JANGAN DIPAKAI)

Titiek Soeharto pindak ke Partai Berkarya (Foto: Antarafoto/Andreas Fitri A.)
Soeharto is dead, long live Soeharto!
Baru 20 tahun Orde Baru bubar. Kini, jauh dari kemasyhuran Soeharto dulu, anak-anaknya kesulitan mengembalikan pengaruh keluarga mereka, termasuk di sektor politik.
Di Golkar, peran mereka tereduksi jauh dari tampuk kepemimpinan. Dalam kepengurusan Partai Golkar masa bakti 2016-2019 pimpinan Setya Novanto, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hediati Hariyadi ‘hanya’ menjabat sebagai anggota Dewan Pembina dan Wakil Ketua Dewan Pakar.
Saat Setya lengser karena kasus korupsi pun, Titiek (panggilan Siti Hediati) yang sempat mengutarakan keinginan menjadi ketua umum pun disisihkan oleh Airlangga Hartarto. Memang, posisinya tetap tinggi, tapi tak seberkuasa pucuk pimpinan partai layaknya ayah mereka dulu.
Keadaan berubah beberapa waktu belakangan. Desperate time calls for desperate measure. Titiek menyusul Tommy (sapaan Hutomo Mandala Putra) meninggalkan partai yang selama 32 tahun menyangga rezim sang ayah.
Senin (11/6), empat hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 2018, Titiek bergabung dengan Partai Berkarya yang diketuai oleh Tommy, adiknya sendiri itu. Langkah penting tersebut ia ambil di Kemusuk, Bantul, tanah kelahiran Soeharto yang terletak 10 kilometer di sebelah barat pusat kota Yogyakarta.
“Saya ingin menjerit untuk menyuarakan hati rakyat yang sangat prihatin dengan keadaan kita ini! Tapi saya tidak dapat melakukan hal itu,” ujar Titiek saat mengumumkan kepindahannya di Kemusuk.
Menurut Titiek, menjadi anggota Golkar yang mendukung pemerintah telah membatasi strategi dan manuver politiknya. Ia menganggap, Golkar sebagai partai besar seharusnya bisa berkontribusi lebih banyak untuk bangsa dan negara.
Titiek bahkan sempat-sempatnya mengkritik Golkar dengan ungkapan yang ironisnya berasal dari praktik birokrasi rezim Soeharto. “[Golkar seharusnya] tidak sekadar mengekor dan ABS (Asal Bapak Senang).”
Dengan alasan-alasan tersebut, Titiek memutuskan Berkarya lebih mengakomodasi kepentingannya ketimbang Golkar. Misinya pun tak ia sembunyikan. “Saya adalah anak biologis Pak Soeharto [...] Partai Berkarya harus lolos parliamentary threshold dalam Pemilu Legislatif tahun depan, agar Partai Berkarya dapat melanjutkan cita-cita Pak Harto.”
Pendek kata, Soeharto is back.
Seribu Cara Tommy
Kemunculan Partai Berkarya sebagai armada politik Tommy Soeharto sebenarnya bukan tiba-tiba. Tommy adalah avonturir dalam politik, dan Berkarya adalah peraduannya yang kesekian setelah ia gagal di proyek-proyek sebelumnya.
Berkarya berdiri pada 15 Juli 2016 dan mendapat legitimasi sah dari Kementerian Hukum dan HAM tiga bulan kemudian. Meski begitu, riwayatnya jauh lebih pelik. Embrionya adalah Partai Beringin Karya, bentukan eks kader Golkar yang keluar sebelum pertarungan internal Golkar di Musyawarah Nasional Bali 2014.
Badaruddin Andi Picunang, salah satu penggagas Beringin Karya, mengaku kesulitan membuat partainya diverifikasi Kemenkumham sebagai partai baru. Maka, merger dengan partai yang telah ada sebelumnya dinilai sebagai langkah paling masuk akal.
“Saat itu di Kemenkumham, aturan untuk membuat partai baru sangat susah. Akhirnya disarankan untuk mengikuti jejak Perindo. Perindo waktu itu tidak membentuk partai baru. Dia hanya mengubah partai lama,” ujar Badaruddin pada kumparan di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (13/6).
“Sehingga kami mengajak partai yang sudah ada, walaupun tidak eksis, yakni partai Nasional Republik.”
Nasrep dibentuk pada 2012 dengan menggabungkan Partai Nurani Umat dan Partai Sarikat Indonesia yang sudah mati suri terlebih dahulu. Orang-orang di belakangnya tak lain adalah Tommy Soeharto, Jus Usman Sumanegara, dan Neneng A. Tuty yang kini menjabat bendahara umum di Partai Berkarya.

Lipsus Keluarga Cendana

Tommy Soeharto di Partai Golkar (Foto: Adek Berry/AFP)
Nasrep, yang dulu juga memberikan kursi Ketua Dewan Pembina ke Tommy, sejatinya ingin bertarung di Pemilu 2014, namun tak lolos verifikasi administrasi sehingga massanya menggabungkan diri ke Hanura.
Di sinilah gagasan Badaruddin dan kepentingan Tommy bertemu. Keduanya yang sama-sama tak puas dengan sepak terjang Golkar pasca-Munas Bali 2014, melihat langkah membikin partai sendiri jauh lebih masuk akal ketimbang bertahan di Golkar.
“Ibarat satu keranjang telor, apabila busuk bisa menular ke telor-telor yang masih bagus, sehingga kami memerlukan suatu keranjang telor yang baru,” kata Badaruddin menganalogikan situasi Golkar saat itu menurut versinya.
Untung bagi Tommy, di partai barunya ini tak ada lagi tokoh yang lebih menjual daripada dia. Pengurus partai yakin Tommy layak jadi matahari partai dan mampu membawa partai ke kejayaan. Bagi mereka, Tommy punya modal jelas: trah keluarga Soeharto.
“Tentunya visi misi dan program-program strategis kami sesuaikan dengan program-program Pak Harto dulu, Bapak beliau,” kata Badaruddin.

Lipsus Keluarga Cendana

Poster Soeharto di jalanan (Foto: Anwar Mustafa/AFP)
Kembalinya sang Jenderal
Berkarya jelas bukan ‘anak’ Golkar yang pertama. Sebelumnya, sudah ada Gerindra oleh Prabowo Subianto, Hanura oleh Wiranto, sampai NasDem oleh Surya Paloh. Semua dibesarkan oleh barisan sakit hati Partai Golkar.
Meski begitu, ada satu faktor yang membuat Berkarya punya signifikansi tersendiri ketimbang partai sempalan Golkar lainnya. Faktor itu adalah ‘monopoli’ keluarga Cendana dalam Berkarya.
Sedari awal pembentukannya, Partai Berkarya memang tak pernah malu-malu menyatakan misi politiknya. Dalam setiap wawancara, pendiri dan petinggi partai mengemukakan bahwa program partai Berkarya sengaja “diidentikkan dengan cita-cita Pak Harto di zamannya.”
“Pak Harto adalah ikon utama kami,” ujar Priyo, mantan politisi senior Golkar yang kini menjabat sebagai Sekjen Partai Berkarya.
Maka, bergabungnya anggota keluarga Cendana ke Berkarya dianggap menyempurnakan konservatisme dan romantisasi Orde Baru sebagai dagangan politik.

Partai kan harus punya selling point. Pak Harto itu selling point yang jelas.

- M. Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer

Berkarya menahbiskan diri sebagai satu-satunya partai penerus cita-cita Soeharto, sekaligus meyakini relasi Pak Harto dan Golkar secara tak langsung telah ia putus.
“Magnetnya di keluarga Pak Harto karena jualannya pikiran-pikiran Pak Harto. Biar masyarakat tahu, ini partai yang mengusung pikiran-pikiran Pak Harto,” tegas Badaruddin.
“Di survei terakhir, basis suara Golkar yang memilih karena Pak Harto itu ada di angka 24 persen. Yang memilih Golkar karena ketua umumnya itu hanya 5 persen. Itu berarti pengaruh Pak Harto di Golkar sangat besar,” jelas Badaruddin yakin.

Mbak Tutut

Mbak Tutut, putri sulung Soeharto. (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)
Keping Mozaik Terakhir
Perkara Soeharto itulah yang membuat prospek bergabungnya Mbak Tutut jadi amat penting. Di antara anak-anak Soeharto yang selama ini menunjukkan minat ke politik, Tutut selaku putri sulung Cendana menjadi figur terakhir yang belum resmi bergabung ke Berkarya. Apabila ia mengumumkan bergabung, jangkap sudah status Berkarya sebagai partai penerus titah Soeharto.
Soal Tutut itu, “Tinggal tunggu waktu” jadi frasa favorit para petinggi Berkarya. Ucapan itu misalnya dilontarkan oleh pendiri Berkarya, Badaruddin.
“Mbak Tutut sudah pasti (bergabung). Sudah dibahasakan oleh ketua umum kami,” kata dia.
Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso lebih jauh menjanjikan Tutut akan berperan banyak dalam aktivitas Berkarya menuju Pileg 2019.
“Saya berharap nantinya Mbak Tutut Soeharto juga berkenan roadshow ke daerah-daerah,” ujarnya pada kumparan.
Bagi partai itu, Tutut adalah keping mozaik terakhir yang melengkapi klaim Cendana di Berkarya. Terlebih, generasi kedua trah Soeharto, para cucunya, telah lebih dulu bergabung.
Mantu Tutut, Muhammad Ali Reza, misalnya. Mantan kader muda Golkar yang semula digadang-gadang menjadi salah satu calon Ketua Golkar DKI Jakarta itu malah menyeberang menjadi Ketua Berkarya DKI Jakarta per 5 Juni 2018.
“Pemikiran dan prinsip yang diajarkan oleh Pak Harto akan kami kembangkan di Partai Berkarya, karena selama ini beberapa pemikiran almarhum tidak terlalu berjalan di Golkar,” kata Ali Reza saat berbincang dengan kumparan di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (22/6).
Selain Reza, ada pula cucu Soeharto dari Sigit Harjojudanto, yaitu Retnosari Widowati Harjojudanto (Eno Sigit) yang menyeberang ke Berkarya dari Gerindra.

Keluarga Pak Harto akan membesarkan Partai Berkarya.

- Ali Reza, Ketua Berkarya DKI Jakarta dan menantu Tutut

Ditonjolkannya sosok Soeharto oleh Partai Berkarya dinilai sah-sah saja oleh para petinggi partai. Priyo, misalnya, membandingkan strategi partainya dengan partai besar nasional lain macam PDI Perjuangan.
“PDIP kan trahnya Bung Karno dan sekarang kan lagi berkuasa. Kami menghormati itu. Tapi hak kami juga menyampaikan selain Bung Karno, Pak Harto juga banyak jasanya.”

Lipsus Cendana (JANGAN DIPAKAI)

Soeharto, Presiden ke-2 Indonesia. (Foto: John Gibson/AFP)
Priyo dan petinggi partai Berkarya lain yakin betul nama besar Soeharto dan keluarganya mampu menjadi tulang punggung partai di masa depan.
“Kami melihat ada demam kerinduan pada Pak Harto di banyak lini masyarakat. ‘Piye kabare? Luwih penak jamanku, tho?’ menjadi jargon yang diulang-ulang. Sudah tentu kerinduan itu semakin meyakinkan kami, tokoh-tokoh Partai Berkarya, untuk roadshow ke berbagai daerah menemui masyarakat,” kata Priyo.
Berkarya tak ambil pusing dengan berbagai anggapan miring terkait figur sentral partainya yang pada masanya dulu kerap disebut sosok otoriter tanpa tanding.
“Ada sisi-sisi baik dari zaman Pak Harto yang bisa kami tawarkan sebagai solusi bangsa, yaitu Trilogi Pembangunan: pertahankan pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan pembangunan, stabilitas keamanan mantap,” kata Priyo.
Di sisi lain, catatan kriminal Tommy sang Ketua Umum masih rapi dalam ingatan banyak orang. Ia didakwa menjadi dalang pembunuhan hakim agung yang menghukumnya di kasus korupsi, dan pada Juli 2002 divonis 15 tahun penjara atas kasus pembunuhan, kepemilikan senjata api ilegal, dan menghindari penahanan.
Tapi Tommy tak mesti sampai 15 tahun mendekam di bui. Ia bebas bersyarat hanya empat tahun kemudian, Oktober 2006, setelah mendapat enam kali remisi.

Tommy Soeharto Pangeran Cendana

Tommy Soeharto Pangeran Cendana (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Bagi Berkarya, catatan hitam itu masa lalu yang tak perlu jadi batu sandungan.
Badaruddin menegaskan, “Nggak fair kalau melihat kayak gitu. Isu masa lalu harus kita taruh di atas meja, kita lihat sejajar dengan partai lain, satu-satu, ada nggak yang seperti itu juga?”
Soeharto is dead, long live (Tommy) Soeharto!
------------------------
Ikuti terus manuver putra-putri Soeharto dalam rangkaian ulasan mendalam Cendana is Back di Liputan Khusus kumparan.

Liputan KhususPolitikPartai BerkaryaTommy SoehartoCendana is Back

presentation
500

Baca Lainnya