Pencarian populer

Gatot: Kuda Hitam Pilpres 2019

Gagah, tegas, religius, dan menyatukan umat. Kira-kira itulah sosok Gatot Nurmantyo di mata para pendukungnya. Paling tidak, ada lima kelompok relawan mendeklarasikan dukungan untuk Gatot dalam kurun waktu tiga minggu setelah mantan Panglima TNI itu purnabakti pada Sabtu (31/3).

Letupan-letupan dukungan ini tak muncul tanpa sebab. Ia merupakan akumulasi, hasil dari geliat politik Gatot yang mulai terbaca pada 2016. Puncaknya adalah ketika Gatot menyatakan, “Saya siap menjadi presiden”.

Gatot menjadi sosok baru di antara nama-nama lama seperti Joko Widodo dan Prabowo Subianto--dua nama yang diprediksi akan kembali bertanding di gelaran Pemilu Presiden 2019.

Lipsus Menerka Langkah Gatot (Foto: Joko Widodo/kumparan/Puti Cinintya, Gatot Nurmantyo/Istimewa, Prabowo/Antara/Muhammad Adimaja)

Sosok Gatot yang masih segar dalam percaturan politik, perlahan tapi pasti kian dikenal. Elektabilitasnya merangkak naik. Pada akhir 2017, Gatot disebut-sebut sebagai calon wakil presiden yang potensial.

Kini, dalam beberapa survei elektabilitas calon presiden, nama Gatot bahkan berada di peringkat ketiga setelah Jokowi dan Prabowo, meski dengan angka yang relatif masih kecil.

Satu hal krusial yang saat ini dibutuhkan oleh Gatot adalah ‘tiket’ menuju arena Pemilu Presiden 2019, yakni kendaraan politik. Sebab, ia tak mungkin maju tanpa diusung partai politik.

Sayangnya, tawaran Gatot ke Gerindra untuk menjadi capres ditolak oleh partai itu--yang bersikukuh tetap mengusung sang ketua umum, Prabowo, ke Pilpres 2019.

Hal itu membuat Gatot terpaksa mengambil jalan memutar. Ia mendekati partai-partai yang selama ini berada di sekeliling Gerindra seperti PAN dan PKS yang hingga kini belum mendeklarasikan capres.

Gatot adalah calon alternatif yang paling siap. Ia punya banyak waktu untuk meyakinkan partai dan melakukan komunikasi politik, sehingga bisa terbentuk koalisi untuk mengusung dia. Pendekatannya ke partai politik harus intensif.

- Hanafi Rais, Wakil Ketua Umum PAN

Gatot Nurmantyo Maju Pilpres 2019? (Foto: Faisal Nu'man/kumparan)

Apakah Gatot mampu merebut hati partai-partai politik? Mampukan ia membentuk poros ketiga dan melawan petahana? Calon wakil presiden seperti apa yang tepat untuk mendongkrak elektabilitasnya?

Berikut analisis para pengamat politik: Siti Zuhro (LIPI), Rico Marbun (Median), dan Yunarto Wijaya (Charta Politika) yang diwawancara secara terpisah oleh kumparan.

Bagaimana peluang Gatot Nurmantyo untuk mencalonkan diri di Pilpres 2019?

Siti Zuhro: Tergantung antusiasme, animo masyarakat seluruh Indonesia. Karena ini pemilu nasional, bukan cuma provinsi atau kabupaten/kota.

Nah, animo masyarakat secara keseluruhan apakah menghendaki munculnya pemimpin baru? Artinya, harus dilihat dan diamati kecenderungan masyarakat mengharapkan hadirnya pemimpin baru ini cenderung tinggi atau biasa-biasa saja, terlepas dari pasti tetap ada yang mendukung petahana.

Jika ada antusiasme, animo masyarakat kepada pemimpin baru, bukan petahana, berarti kansnya Pak Gatot itu tidak tertutup, kemungkinan terus naik.

Rico Marbun: Saya pikir peluangnya (ada). Pertama, karena tema pemimpin alternatif atau pemimpin baru ini sangat mengemuka. Maka idealnya ada sosok yang baru, bukan sosok yang pernah bertarung (di pemilu) atau sosok lama.

Jadi, Pak Gatot ini lambat laun elektabilitasnya semakin naik karena konsolidasi suara pemilih yang menginginkan pemimpin baru itu beranjak ke beliau.

Kedua, faktor representasi politik umat. Itu faktor utama yang berkumpul di Pak Gatot dibanding tokoh-tokoh lain.

Yunarto Wijaya: Gatot cenderung lebih fresh secara elektoral. Sama-sama jenderal (seperti Prabowo), bahkan dia bintang empat. Celetukan Kivlan Zein juga mengatakan logistiknya banyak. Itu menarik, meski jadi pertanyaan.

Kader-kader partai juga mulai menyebut nama Gatot. Artinya, posisi dia tidak kalah. Peluangnya juga tidak kalah dibanding Prabowo.

Dari sisi brand, Gatot menarik. Kalau Prabowo kan produk yang sudah di-launching dua kali, dan dua kali itu gagal, kini berharap berhasil di kali ketiga. Sementara Gatot itu brand yang belum pernah diuji di level nasional, sehingga lebih punya daya kejut atau ‘wow effect’ seperti Anies pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

- Yunarto Wijaya, Charta Politika

Survei boleh rendah, tapi efek kejutnya ada. Nah, itu yang membuat bargaining position-nya jadi lebih kuat.

Elektabilitas Gatot Nurmantyo (Foto: Putri S. Arifira/kumparan)

Bagaimana Anda melihat meningkatnya elektabilitas Gatot?

Siti Zuhro: Berarti sebagai kandidat, yang bersangkutan (Gatot) prospektif. Dan itu kan nggak ujug-ujug juga. Animo itu akumulasi dari kehendak masyarakat.

Lalu kenapa masyarakat cenderung menghendaki yang baru? Ini yang kelihatan, starting point-nya di Pilkada DKI, terus di Aksi 411, Aksi 212, dan terus berlanjut.

Simpati umat datang ke Gatot. Simpati dari suara (Alumni) 212--mereka yang tidak simpati kepada Jokowi.

- Kivlan Zen, purnawirawan AD pendukung Gatot

Lalu yang bersangkutan (Gatot) turun dari jabatan (lebih cepat), tidak ditunggu sampai purnabakti. Dan sekarang sudah pensiun, membuat masyarakat makin leluasa untuk menokohkan Gatot.

Masyarakat kan sedang ingin sosok yang berkarakter, yang betul-betul memiliki strong leadership, yang kokoh. Dengan karakter seperti itu, diyakini masyarakat, negara ini akan dibawa lebih kuat, enggak lembek.

Dan tampaknya yang bersangkutan (Gatot) juga siap menerima itu. Kan gaya militer selalu seperti itu, selalu siap, nggak tedeng aling-aling. Apalagi kan sudah (pensiun), tidak ada beban lagi.

Rico Marbun: Pertama, Gatot sebelum pensiun, namanya tersosialisasikan dengan cukup baik. Dia bermain di isu-isu yang sifatnya agak populis, seperti soal nonton film Pengkhianatan G30S/PKI dan ngomongin impor senjata. Dia itu sering berada dalam pusaran pembicaraannya.

Manuver Gatot Nurmantyo (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Kedua, yang juga ada dalam data survei kami, yaitu faktor pergantian Panglima TNI sebelum waktunya pensiun. Itu memiliki efek persis seperti Pak SBY dulu waktu ingin maju capres pertama kali. Jadi ada efek simpati. Waktu kami tanya “Kenapa pilih Pak Gatot?”, karena ada efek simpati lantaran ia turun sebelum waktunya.

Ketiga, langkah Pak Gatot saat marak-maraknya Gerakan 212 membuat dia direpresentasikan sebagai tokoh yang membela aspirasi politik umat. Itu yang bisa kami rekam dalam survei kenapa orang memilih Pak Gatot.

Gatot banyak memanfaatkan isu untuk mengambil ceruk suara kelompok muslim. Apakah itu cukup untuk maju Pilpres?

Siti Zuhro: Ya belum cukup, itu kan baru langkah awal. Kalau nggak ada populisme seperti itu, kan siapa yang mau nengok dia. Itu baru langkah awal.

Dan jangan main-main, semua itu adalah kontrak politik, janji yang harus ditepati. Sehingga apapun yang akan diusung oleh seorang yang sudah dipercaya seperti itu, harus punya tanggung jawab moral.

Jadi, ada moral obligation yang besar dari tokoh yang mendapat kepercayaan masyarakat. Kalau dalam agama, ia dianggap sebagai pemimpin atau calon yang amanah. Nah, bagaimana citra pemimpin yang amanah itu bisa disampaikan ke masyarakat bahwa dia punya program visi misi yang amanah.

Yang selanjutnya adalah program. Pak Gatot, apa programmu? Apa visi misimu? Kamu melihat negara ini bagaimana?

- Siti Zuhro, pengamat politik LIPI

Rico Marbun: Publik suka dengan karakter beliau, tegas sebagai militer. Beliau juga representasi politik umat. Representasi ini sangat kuat, bahkan lebih lekat (ke Gatot) daripada ke Prabowo maupun Anies.

Tak bisa dipungkiri, geliat politik keumatan mendapatkan momentumnya sekarang ini. Jadi tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena pemilihan pada akhirnya adalah merebut simpati dan merebut arus pemilih. Itulah yang dilakukan oleh Pak Gatot. Dan itu yang tidak berhasil dilakukan Pak Jokowi dan timnya.

Itu start yang sangat baik. Karena memang kenyataan hari ini, kegelisahan dirasakan oleh pemilih keumatan, dan kegelisahan itu bercampur dengan krisis identitas dan krisis ekonomi.

Rasa alienasi dialami pemilih yang berada dalam kelompok politik umat ini, dan mereka mencari sosok yang bisa dijadikan figur untuk membela mereka. Figur itu ada di Pak Gatot.

Jokowi dan Gatot Nurmantyo di Aksi Bela Islam. (Foto: TRIBUNNEWS/HERUDIN)

Cukupkah waktu tiga bulan sebelum pendaftaran untuk meraih simpati publik lebih luas?

Siti Zuhro: Bukan tiga bulan, pemilihan masih April tahun depan, cuma diusungnya (Agustus). Tapi kan sebetulnya saat ini sudah dibikin survei di internal partai. Sosok mana yang dikehendaki sebenarnya, dan bagaimana yang prospektif.

Prospektif itu kan juga nggak ujug-ujug 70 persen, kan enggak. Tapi dia bisa nggelanjang-lah suaranya itu, diberikan kesempatan sedikit langsung melaju. Ibarat kuda sudah kokoh, tinggal dilecut sedikit langsung wuuush, gitu aja. Partai senang kalau ada yang seperti itu.

Karena pemilu ke depan ini adalah pemilu serentak. Jadi kalau partai salah atau koalisi partai salah dalam mengusung calon, itu akan jadi blunder bagi partainya. Sehingga partai tidak ingin salah, karena akan memberikan dampak kepada nasibnya di pemilu nanti.

Kaitan antara sosok yang didukung dengan nasib partai itu terikat erat. Jadi partai yang oke dalam mengusung sosok yang diminati, partainya ya akan disukai. Tentu dampak elektoral tadi yang diharapkan oleh partai, sehingga nasibnya ndak terpuruk, apalagi tidak masuk dalam DPR itu.

Rico Marbun: Untuk mendekati partai, pertama dengan cara lobi, terbuka atau tertutup. Kedua, Pak Gatot harus menunjukkan performanya dan punya potensi untuk mengalahkan incumbent.

Partai mana saja yang mungkin bisa digaet Gatot? Apakah pendekatan terhadap PKS dan PAN merupakan strategi untuk meraih dukungan Gerindra?

Siti Zuhro: Yang bisa diajak ngomong kan tinggal Gerindra, PAN, PKS, PKB, lalu Demokrat. Tapi kan Demokrat punya agendanya sendiri.

Jadi bagaimana antarpartai ini menyamakan perspektifnya, tidak ego sektoral. Karena kalau dia bermain di ego sektoral, berarti partai-partai ini belum cukup tangkas dalam merespons aplikasi sistem pemilu serentak di 2019.

Karena pemilunya bukan legislatif dulu baru pilpres, tapi ini langsung, bareng, bersamaan. Kalau serentak seperti ini kan masing-masing tidak tahu nasibnya. Apakah terlempar, atau masih nanti bisa bertahan atau bagaimana.

Ketimbang membayangkan Pak Gatot dengan PDIP atau Pak Gatot dengan Nasdem, membayangkan Pak Gatot di-endorse oleh partai oposisi atau partai kelompok tengah itu masih mungkin.

- Rico Marbun, Direktur Eksekutif Median

Nah, itu, jadi cara kerja genuine itu lebih ditonjolkan. Ya, politik nggak ada yang genuine, tapi relatif untuk bagaimana dia berkolaborasi atau berkoalisi dalam jangka yang tidak seumur jagung. Tapi lebih didorong hitung-hitungan yang dia sendiri nggak tahu nasibnya.

Ini kan nggak bisa kalau masing-masing partai yang tersisa ini ego sektoral. Gerindra juga nggak bisa mengusung sendiri. Dia harus ditopang oleh partai-partai lain. Kalau ditopang seperti itu kan harus bernegosiasi dan harus betul-betul menghitung.

Sehingga kalau saling mengurangi ego sektoral, itu nanti yang akan muncul adalah hitung-hitungan atau kalkulasi yang lebih berkualitas, yang jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Semua masih cair, belum final. Nggak bisa (mendikte), ‘Harus begini, begini.’ Saya masih menakar. Pemimpin-pemimpin partai juga melihat elektabilitas. Jadi lihat bagaimana nanti.

- Gatot Nurmantyo

Rico Marbun: Masih menunggu, itu Pak Gatot yang bisa menjawab. Pilihan itu adalah dari partai-partai oposisi, seperti Gerindra dan PKS. Kemudian ada partai-partai tengah seperti Demokrat dan PKB. Itu masih mungkin.

Ketimbang membayangkan Pak Gatot dengan PDIP atau Pak Gatot dengan Nasdem, membayangkan Pak Gatot di-endorse oleh partai oposisi atau partai kelompok tengah itu masih mungkin.

Gatot Nurmantyo (Foto: Dok. Istimewa)

Wakilnya siapa kira-kira supaya Gatot melejit?

Siti Zuhro: Sebetulnya yang kalau menimbulkan suara waah gitu ya Anies (Baswedan). Dan dia memang bukan politisi ya kelihatannya.

Tapi kan itu harus ada kesepakatan bersama. Menurut saya, tidak bisa ada ego sektoral. Malah bisa kalah semuanya. Ini kan harus menandingi petahana. Maka harus jadi lawan tanding yang setara.

Rico Marbun: Mesti merepresantasikan wilayah demografik yang berbeda, misal dari luar Jawa. Pak Gatot militer, jadi sebaiknya dari kalangan sipil. Dan sebaiknya tokohnya masih dalam spektrum politik umat.

Cak Imin bagus, karena Cak imin jelas dari partai Islam. Kemudian merepresantasikan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, PKB termasuk salah satu partai islam besar saat ini. Menurut saya Cak Imin pilihan yang bagus.

------------------------

Ikuti terus laporan mendalam Otot Gatot di Liputan Khusus kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: