Harimau Bonita dan Atan Bintang Dilepasliarkan di Riau

Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera (PRHSD) milik PT Arsari berhasil memulihkan dua ekor harimau Sumatera, Bonita (betina) dan Atan Bintang (jantan). Keduanya akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya, di belantara Riau, Sumatera.
Pemilik PT Arsari, Hashim Djodjohadikusumo, datang langsung untuk menyaksikan pemberangkatan dua kucing besar ini.
“Selamat jalan, Atan Bintang, selamat jalan Bonita, hati-hati di jalan,” ucap Hashim sembari menepuk kap mobil yang mengantar dua harimau itu pergi, di Dharmasraya, Sumatera Barat, Senin (29/7).
Keputusan PRHSD untuk melepas dua satwa tersebut dirasa tepat. Manajer Operasional PRHSD, drh. Saruedi Simamora, mengatakan, selama rehabilitasi, mereka menunjukkan peningkatan perilaku menjadi agresif. Hal ini ditujukan untuk membuat harimau menjadi liar kembali.
“Pada umumnya, harimau itu menghindar jika bertemu manusia. Manusia juga bukan pakan alami dari harimau,” kata Saruedi.
Saruedi menjelaskan, selama rehabilitasi, mereka memberi pakan enrichment. Yakni, umpan hidup untuk mengembalikan insting alami dari harimau tersebut.
“Jadi di belakang kandang karantina, kita beri babi hutan. Nanti harimau akan mengejar dan berburu, sama seperti di alam atau habitat aslinya,” kata Saruedi.
Salah satu tolok ukur harimau telah liar adalah ia enggan berburu jika masih ada tim dokter di sekitarnya. “Jadi dia menunggu agak sepi, baru dia mau memangsa,” kata Saruedi.
Bonita direhabilitasi pada April 2018 setelah sempat berkonflik dengan manusia di Kabupaten Indragiri, Riau, selama dua tahun ini.
Sedangkan Atan Bintang pernah terjebak di sebuah ruko di Pasar Pulau Burung pada 16 November 2018. Atan Bintang baru bisa dibebaskan pada 17 November 2018, dan tiba di Dharmasraya keesokan harinya di tahun yang sama.
Sebelum dilepasliarkan, Bonita dan Atan Bintang telah dinyatakan sehat secara fisik. Mereka tidak memiliki kelainan anatomi.
Namun, Bonita mengalami patah pada bagian taring kiri bawah, patah pada gigi taring kiri atas dan gigi taring kanan bawah. Sementara Atan Bintang, menunjukkan kondisi kesehatan baik, nafsu makan bagus, dan perilaku agresif.
Program rehabilitasi yang dilakukan untuk Atan Bintang berfokus pada observasi kesehatan, perilaku, dan perbaikan nutrisi. Pada masa rehabilitasi, Atan Bintang sempat mengalami penurunan kesehatan berupa gangguan pernafasan bagian atas.
Harimau Sumatera menyusut jadi 600 individu, KLHK temukan 1.700 jerat
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ikut mengawal pelepasliaran Bonita dan Atan Bintang. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno, bertekad memerangi pukat hewan liar yang banyak tersebar di penjuru Indonesia.
Pasalnya, jerat tersebut mengancam keberlangsungan hidup dan ekosistem satwa liar, khususnya ekosistem satwa endemik di Indonesia, seperti Harimau Sumatera.
“Harimau Sumatera ini kemungkinan tinggal 600 individu, dan selain masalah habitat mereka terancam jerat. Dari 2012 sampai 2019, tim kami bersama-sama mitra kita di Taman Nasional Leuser-Kerinci, Jambi, menemukan tidak kurang dari 1.700 jerat,” kata Wiratno, saat prosesi pemberangkatan pelepasliaran.
Wiratno menyebut bahwa beberapa jerat menggunakan sling (tali) baja. Jika terkena satwa, jerat tersebut akan menembus tulang, alhasil satwa harus diamputasi untuk bisa diselamatkan dari pukat.
PRHSD juga tengah mendapat seekor Harimau Sumatera yang terkena jerat sling tersebut. “Saya tadi tunjukkan, peta jeratnya, dan jerat sling itu, kalau kena tulang harus diamputasi. Karena semakin hewan memberontak, jerat tersebut semakin menusuk,” kata Wiratno.
Wiratno mengaku telah berkoordinasi dengan ribuan desa yang berbatasan langsung dengan taman nasional Leuser-Kerinci. Ia melibatkan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan agama untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang bahaya jerat sekaligus pelestarian satwa.
“Kami juga aktif di medsos, banyak laporan masuk warga menemukan jerat dan sebisa mungkin kami langsung tindak,” kata Wiratno.
Salah satu satwa yang menjadi korban jerat adalah Gajah Sumatera di Waykambas, Lampung. Gajah tersebut bernama Erin. Ia harus kehilangan belalainya yang terkena jerat.
“Akhirnya erin tergantung dengan satu keeper yang mendampingi saat ini. Karena, tanpa belalai, gajah tak bisa makan. Belalai bagai tangan bagi gajah,” kata Wiratno.
Wiratno juga menyebut, seekor gajah terkena jerat sling semalam sebelum ia hadir di PRHSD. “Semalam di Aceh timur, satu ekor gajah terjerat. Jadi kesempatan ini saya nyatakan perang melawan jerat. Mohon dibantu para pihak, karena ini peran kolektif,” tutup Wiratno.
