kumparan
16 Jul 2018 12:36 WIB

Insiden di Yogya dan Indramayu Bentuk Serangan Balik Teroris

Kapolri Tito Karnavian memberikan arahan pada acara upacara kenaikan pangkat dari AKBP ke Kombes di Rupatama Mabes Polri. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan aksi serangan teroris di Indramayu dan Yogyakarta merupakan serangan balik dari pihak teroris. Hal itu terjadi karena polisi sebelumnya telah menangkap banyak anggota jaringan mereka.
ADVERTISEMENT
“Yang di Yogya dan Indramayu ini bukan serangan terorisme yang diinisiasi, diinspirasi, inisiatif mereka. Tapi ini operasi surveillance operasi penjejakan, dan operasi hunting dalam rangka penangkapan jaringan terorisme," ucap Kapolri di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Senin (16/7).
Tito juga mengatakan peristiwa bom Surabaya menjadi salah satu peluang bagi aparat kepolisian untuk memberantas tindak pidana terorisme. Meski begitu Polri turut merasa sedih karena dalam insiden tersebut memakan korban jiwa.
“Tapi di sisi lain memberikan peluang yang sangat besar kepada Polri untuk masuk ke dalam jaringan ini dan menangkap mereka karena di sistem demokrasi saat ini ada kebebasan menyampaikan pendapat, berserikat, dan berkumpul,” ujarnya.
“Namun kalau mereka lakukan pidana seperti bom Surabaya itu bagi kami ini adalah mereka membuka pintu gerbang yang tadinya kami enggak bisa masuk hanya melihat dari luar, mengawasi, sekarang mereka buka pintu kami untuk masuk," kata Tito.
ADVERTISEMENT
"Karena Anda melakukan pelanggaran hukum, kami punya alasan melakukan penangkapan kepada Anda dan mengungkap jaringan Anda seluas-luasnya,” sambung Kapolri.
Serangan ke Polres Indramayu terjadi Minggu (15/7) pukul 02.35 WIB. Dua terduga teroris G dan NH menerobos Mapolres menggunakan sepeda motor dan menerobos penjagaan di kantor polisi tersebut. Saat itu, polisi sempat 11 kali melakukan tembakan ke arah dua orang tersebut saat melemparkan bom panci dan melarikan diri. Pelaku merupakan pasangan suami istri.
Sementara untuk di Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta, ada tiga pelaku teror yang ditembak saat dikejar anggota Densus 88. Mereka menyerang balik petugas dengan senjata tajam. Tiga orang teroris diketahui tewas ditembak karena melawan dan seorang pelaku melarikan diri.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan