Pencarian populer

Jubir Roy Suryo: Kemenpora Jahat

Mantan Menpora Roy Suryo. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Beberapa waktu belakangan, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Roy Suryo, kerap menjadi bahan perdebatan. Setelah digempur kritikan warganet karena komentarnya yang dicap nyinyir atas perhelatan Asian Games, kini ia menjadi bulan-bulanan karena diduga belum mengembalikan ribuan aset Kemenpora.

Semua bermula dari beredarnya surat tagihan Kemenpora bertanggal 1 Mei 2018 pada awal September. Dalam surat itu, Kemenpora meminta Roy mengembalikan 3.226 barang milik negara berupa barang elektronik dan perabot rumah tangga yang ia beli ketika menjabat menteri pada 2013-2014.

Surat tersebut merupakan upaya ketiga Kemenpora menagih barang milik negara yang diduga masih dikuasai Roy. Sebelumnya, di akhir 2014 dan pertengahan 2016, Roy sempat dikirimi tagihan serupa.

Roy kemudian membantah. Ia menyatakan telah mengembalikan semua barang tersebut. “Saya duga keras ini adalah fitnah untuk menjatuhkan martabat dan nama baik saya.”

Video

Kasus bergulir liar. Respons dari berbagai tokoh nasional hingga kecaman warganet dialamatkan pada Roy. Ia yang sebelumnya melawan sendiri, kini dibantu oleh tim kuasa hukum Tigor Simatupan dan Heru Nugroho, mantan staf khususnya yang kini menjadi juru bicara Roy.

Dalam acara mediasi antara pihak Roy dan Kemenpora, Tigor meminta Kemenpora menunjukkan bukti keterlibatan Roy Suryo. Menurutnya, sangat tidak masuk orang sekelas Roy Suryo mengambil ribuan barang.

“Mungkin nggak seorang menteri menggunakan barang sebanyak itu?” ujar Tigor usai mediasi di Kemenpora, Rabu (12/9).

Senada, Heru juga membantah semua tudingan yang ditujukan pada kliennya. Menurut Heru, apa yang dituduhkan oleh Kemenpora tidak masuk akal dan jahat.

Kemenpora nggak pernah konfirmasi ke orang-orangnya Pak Roy atau ke Pak Roy sendiri. Mereka bebas ngarang cerita. Ini jahat. Kemenpora jahat.

- Heru Nugroho, Jubir Roy Suryo

Kepada kumparan di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Sabtu (15/9), Heru menjelaskan kronologi simpang siur pengembalian barang milik Kemenpora itu.

Juru bicara Roy Suryo, Heru Nugroho (Foto: Prima Gerhard/kumparan)

Roy mengklaim telah mengembalikan aset Kemenpora, bagaimana kronologinya?

Kalau menurut saya, banyak yang bias di duduk persoalannya.

Jadi gini, awalnya dimulai dari kejadian pindah dari rumah dinas. Kalau saya lihat, apa yang terjadi ini diawali pada waktu Pak Roy selesai menjabat. Di rumah dinas Menpora itu, isi rumah kan tercampur antara barang pribadi, barang inventaris, dan sebagainya.

Waktu di ujung masa jabatan, Pak Roy dan kami lagi ada di Incheon, Korea Selatan, dalam rangka (kesepakatan Indonesia sebagai tuan rumah) Asian Games 2018. Nah saat itu, ada imbauan dari Istana lewat Pak Dipo Alam sebagai Seskab: sebelum masa jabatan berakhir, menteri-menteri era SBY keluar dari rumah dinas. Waktu itu sekitar bulan September.

Jadi Pak Roy memerintahkan untuk ngorder jasa pengiriman barang, lalu ngasih tahu orang rumah yang di sana (Yogykarta), dan ngasih tahu orang Kemenpora bahwa akan pindah. Sayangnya waktu proses perpindahan itu, nggak ada orang Kemenpora yang ada di rumah dinas, yang bisa milah-milah antara barang Pak Roy pribadi dan barang inventaris.

Banyak banget barang inventaris yang ikut keangkut ke Yogya. Karena waktu itu hanya dipandu oleh staf rumah tangga.

Ketika pulang ke Jakarta--memang nggak langsung ke Yogya, dia (Roy) nempatin rumah dinas istrinya. Sebulan kemudian Roy pulang ke Yogya, terus mendapati barang yang bukan miliknya.

Satu perusahaan angkutan yang sama, dia kontak. Terus pakai satu tronton dikirim lagi (barang-barang) balik ke Jakarta, ke gudang Kemenpora di Cibubur. Jadi, begitu dikirim balik ke sana, ya udah dianggap selesai.

Kalau terus ada yang lain-lain, ya mungkin satu dua yang kececer. Tapi proses pengembaliannya itu dilakukan kemudian, kalau nggak salah di 2015 atau 2016.

Surat pengiriman barang dari rumah Roy Suryo di Yogya ke kantor Pusat Pemberdayaan Pemuda dan Olahraga (PP PON) di Cibubur. (Foto: Istimewa)

Menurut Anda, di mana akar masalahnya?

Ini yang bermasalah kan sebetulnya barang belanja Kemenpora yang diminta Pak Roy (saat) jadi pejabat di sana, oleh BPK di kemudian hari dipersoalkan dalam hal administratif inventarisnya.

Nah barang yang dipersoalkan itu, apakah barang yang memang ada di tangan Pak Roy, apakah termasuk barang-barang yang sebetulnya bukan dibawa Pak Roy. Barang itu kemudian oleh BPK dipersoalkan karena administrasi inventarisasinya bermasalah, tapi dituduhkan ke Pak Roy.

Tujuan pembelian barang-barang itu apa?

Jadi, waktu Pak Roy masuk rumah dinas, ya hampir kosong (rumahnya). Ketika menteri ganti dari Pak Andi Mallarangeng ke Pak Roy itu kan prosesnya panjang. Nggak langsung. Pak Andi pergi, lalu Pak Roy masuk. Sempet diselangi oleh Pak Agung Laksono yang tidak mengisi rumah dinas itu sama sekali.

Jadi rumah dinas waktu Pak Roy masuk kan kosong, sehingga sewajarnya Kemenpora belanja barang untuk mengisi rumah dinas. Itu sesuatu yang sangat normatif.

Potret Roy Suryo di toko elektronik. (Foto: Agritama Prasetyanto)

Kalau soal pembelian puluhan kamera, lensa, tripod, dan lain-lain, itu bagaimana?

Ada kamera, tripod--yang boleh dibilang memang hobinya Pak Roy-- karena kebetulan memang waktu tahun 2014 itu ada satu kebijakan atau keputusan, Kemenpora ingin bikin studio mini.

Studio mini ini boleh dibilang kesepakatan di waktu rapat pimpinan. Studio mini itu untuk bikin rekaman kegiatan dan sebagainya.

Pak Roy ini kan bidangnya memang sebetulnya hal semacam itu--fotografi atau multimedia. Di internal, istilahnya Pak Roy itu yang nge-guide--nanti beli apa saja dan di mana.

Dibanding yang lain, dia tahu barang apa yang (perlu) dibeli. Kemudian, Pak Roy ngasih tahu kalau beli barang itu di Jakarta Kamera, Glodok Elektronik, dan Ace Hardware. Tiga tempat ini yang direkomendasikan Pak Roy.

Barang-barang itu dikirim langsung ke rumah dinas, bukan ke Kemenpora?

Inilah yang sampai detik ini saya masih tanda tanya. Kami lagi diskusi sama Pak Roy, kenapa barang itu--kan barang untuk studio mini yang tempatnya di kantor Kemenpora, tapi sebagian besar ada di rumah dinas.

Saya juga bingung. Ini kok bisa barang yang harusnya di Kemenpora tapi dikirimnya ke Widya Chandra (alamat rumah dinas Menpora). Apakah ini inisiatif toko, atau orang Kemenpora yang meminta barangnya dikirim ke rumah dinas.

Kabarnya Roy Suryo tidak mau barang-barang itu dilabeli atau diinventarisasi?

Itu pasti cerita dari Kemenpora. Nggak gitulah.

Pak Roy itu nggak mau (barang-barang) di-barcode-kan. Padahal kalau nggak (ada barcode), nanti nggak ada bukti kalau itu milik Kemenpora.

- Gatot S. Dewa Broto, Sesmenpora

Kalau cerita dari Kemenpora, mereka nggak pernah konfirmasi ke orang-orangnya Pak Roy atau ke Pak Roy sendiri. Jadi kan mereka bebas ngarang cerita. Ini yang saya bilang jahat. Kemenpora ini jahat.

Jadi, kalau asumsinya Roy memawa barang, menipu, menggelapkan, itu apa sih? Saya bilang, jahat amat sih. Kemenpora membiarkan ini aja, menurut saya jahat. Jahat banget gitu loh.

Kalau ini bisa diselesaikan baik-baik, ya udah. Tapi kalau enggak bisa diselesaikan baik-baik, ayo dah kita main di pengadilan aja. Karena begini, apa yang terjadi itu bukan sebuah kejadian yang ada di kantor, itu kejadian di rumah dinas.

Roy Suryo dan Misteri 3.226 Aset Negara (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Berdasarkan audit BPK, Roy Suryo langsung membeli barang lalu reimburse...

Barang itu ditaruh di rumah, kemudian di-reimburse ke kantor, nggak gitu ceritanya. Kan ada prosedur.

Orang BPK kan nggak tau. Itu pasti ceritanya orang Kemenpora. Ini yang menurut saya nggak fair gitu loh. Kalau BPK bicara bahwa Pak Roy membeli barang kemudian di-reimburse, saya mau nanya, BPK tahu dari mana? Wong BPK itu baru masuk mengaudit belanja Kemenpora tahun 2014--itu kan baru masuknya, harusnya paling nggak di kuartal kedua tahun 2015.

Bagaimana Pak Roy dituduhkan bahwa dia belanja barang kemudian di-reimburse, kan nggak masuk akal. BPK itu belum pernah manggil Pak Roy, mengonfirmasi apa benar begini dan begini.

Kronologi pembelian barang oleh Roy Suryo versi BPK. Lembar dalam Laporan Hasil Pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Kemenpora Tahun 2014. (Foto: Dok. Istimewa)

Menurut audit BPK, yang bermasalah mulai dari sistem pengadaan.

Nggak gitulah. Artinya, saya tahu itu barang bukan barang yang dibeli oleh Pak Roy. Nggaklah. Itu prosesnya adalah proses belanja barang seperti biasa.

Kalau satu dua yang jumlahnya nggak sampai ribuan, ratusan, diambil terus di-reimburse ke sana, itu mungkin. Tapi nggak terus semuanya jadi dibikin seperti itu.

Saya tahu persis kok. Apalagi mayoritas barang-barang yang ada, dari jumlah item-nya barang itu memang barang yang ada di rumah dinas.

Bagaimana jika ada indikasi korupsi karena sistem pengadaan itu bermasalah?

Kalau saya menyimpulkan, ini belanjanya Kemenpora untuk pemenuhan kebutuhan rumah dinas Menpora. Dan mungkin ada barang-barang lain yang ada hubungannya dengan jabatan dia (Roy) sebagai Menpora yang dibelanjakan oleh Kemenpora.

Waktu itu barang-barang semuanya ada di rumah dinas. Nggak ada barang yang sebetulnya barang kantor, tapi ada di rumah dinas.

Surat sudah kali ketiga dikirim Kemenpora. Mau bagaimana untuk menyelesaikannya persoalan ini?

Jadi waktu 2016 itu Pak Roy (sudah sempat) dipersoalkan. Saya juga tanya waktu itu, ‘Terus gimana waktu 2016 menyelesaikan itu?’

Itu lembaga (Kemenpora) kan pernah Roy pimpin. Di sana banyak kolega dia. Jadi dia mikir ini pasti ada persoalan administrasi. Kan kita tahulah memang administrasi di sana itu amburadul. Dan katanya Roy sempet ketemu sama menterinya (Imam Nahrawi), dan sudah selesai waktu itu.

Diselesaikan secara baik-baik. Prinsipnya begitu. Nah, sekarang meledak lagi, bahkan menurut saya liar ke mana-mana. Bahkan persepsinya itu jadi menduga, persepsinya kok jadi kayak gini sih. Dianggap Pak Roy mengambil barang terus dibawa. Nggak gitu ceritanya.

Kronologi Kasus Roy Suryo. (Foto: Brian Hikari Janna/kumparan)

Anda kenal Roy Suryo sudah lama?

Saya kenal Roy sejak dia belum jadi apa-apa. Aku awal-awal jadi Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. Nah, Roy saya ajak gabung masuk komunitas untuk bantu.

Kan kami sering melakukan sosialisasi ke berbagai daerah. Waktu kami melakukan proses sosialisasi itu banyak sekali (hadirin). Sebelumnya, kalau kami bicara teknis, itu yang dengerin pada tidur. Makanya kami butuh orang kayak Roy.

Awalnya Roy kan dianggap pakar telematika. Karena waktu awal-awal kasus foto syur (seorang artis), ada wartawan minta wawancara aku soal analisis foto. ‘Wah edan aku ngurusin iki, enggak mau.’

Nah di sebelah aku lagi ada Roy. Roy kan ngerti fotografi. Akhirnya Roylah yang ditanyain. Terus dia banyak mengomentari kasus begitu, hingga dia populer. Sampai SBY tertarik, kepengaruh bahwa Roy itu pakar telematika.

Waktu tahun 2004, SBY jadi presiden. Ujug-ujug saya sama Roy dipanggil sama Pak SBY, diminta untuk ngurusin IT-nya Istana. Nah itulah (awal) Roy masuk ke politik. Terus habis begitu Roy aktif di Demokrat, langsung diminta jadi kader sekalian.

Buat saya, Roy itu masih kayak anak-anak. Bercanda, guyon, kayak anak kecil.

SK Demokrat untuk Roy Suryo. (Foto: Dok. Istimewa)

Kenapa kini Roy harus nonaktif dari Demokrat?

Aku yang menyarankan. Artinya gini, nonaktif dari Demokrat supaya jangan sampai Demokrat jadi kena getahnya dan (kasus ini) dianggap mengotori Demokrat.

Kami selesaikan persoalan ini. Begitu sudah selesai, baru nanti bicara lagi sama Demokrat.

------------------------

Simak geger Roy Suryo di Liputan Khusus kumparan: Catutan si Roy

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57