Pencarian populer

Kashmir, 'Surga Dunia' Sumber Konflik India dan Pakistan

Warga Kota Kashmir. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA

Musim panasnya tidak menyengat, hangat, dan menyenangkan dengan hijau dedauan yang menyejukkan mata. Di musim gugur, dedaunan yang berwarna-warni menghiasi perbukitannya. Sementara di musim salju sangat indah, dengan putih yang membentang hingga pegunungan.

Tidak salah jika Kaisar Mughal, Jahangir, menyebut Kashmir "surga dunia" ketika mengunjunginya pada abad ke-17.

Terletak di pegunungan Himalaya, Kashmir memiliki banyak pesona alam yang memukau. Betapa akan jatuh cintanya pengunjung pada tenangnya permukaan air Danau Dal, dinginnya lembah Pahalgam, atau eloknya deretan tulip sepanjang mata memandang di distrik Chashma Shahi.

Pengunjung berjalan-jalan di taman bunga Tulp, di Kashmir India. Foto: AFP/Tauseef MUSTAFA

Tapi di balik keindahan itu, siapa kira Kashmir menyimpan kisah penuh darah. Di tempat ini, selama lebih dari 70 tahun India dan Pakistan berkonflik. Terbaru adalah serangan teroris yang menewaskan 41 orang pekan lalu, memicu ketegangan baru kedua negara.

Pakistan dan India pernah tiga kali berperang, dua kali dalam memperebutkan Kashmir pada 1947 dan 1965. Kekerasan antara kelompok separatis di wilayah itu telah menewaskan 47 ribu orang sejak 1989.

Gencatan senjata pernah tercipta pada 2003, namun sangat rapuh. Kini, dua negara pemilik senjata nuklir itu kembali bersitegang.

Suasana di Kashmir. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA

Sejak Merdeka

Perebutan Kashmir telah ada sejak 1947 ketika Inggris melepas kekuasaannya. Pakistan dengan warganya yang kebanyakan Muslim dan India yang mayoritas Hindu terbentuk ketika itu. Kashmir adalah wilayah tak bernegara yang dikuasai oleh para pangeran.

Karena lokasinya, Kashmir boleh memilih harus ikut India atau Pakistan. Pemimpin Kashmir saat itu Maharaja Hari Singh yang beragama Hindu memilih India, namun mayoritas rakyatnya yang Muslim ingin ke Pakistan.

Suasana di Kashmir. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA

Singh meminta bantuan India ketika pasukan Pakistan hendak merebut Kashmir, perang pertama pecah selama dua tahun. Perang kedua terjadi pada 1965 atas alasan yang sama.

India saat ini menguasai satu negara bagian di Kashmir, bernama Jammu dan Kashmir, mencakup 45 persen dari wilayah itu. Sementara Pakistan menguasai tiga wilayah, yaitu Azad Kashmir, Gilgit, dan Baltistan, namun wilayahnya hanya 35 persen dari keseluruhan Kashmir.

Sisanya dikuasai China, tepatnya di Aksai Chin, meliputi 20 persen wilayah Kashmir. Di sepanjang 700 km wilayah India dan Pakistan di Kashmir ditetapkan sebagai Garis Kendali, dijaga ketat pasukan kedua negara.

Suasana di Kota Kashmir. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA

Hantu Separatisme

Kashmir adalah wilayah satu-satunya di India yang warganya adalah mayoritas Muslim, atau sekitar 60 persen. Dikutip BBC, sebagian besar warga Kashmir menolak pemerintahan India, ingin merdeka atau bergabung dengan Pakistan.

Separatisme dan aksi protes massa muncul karena hal ini, ditambah oleh kerasnya cara India memperlakukan warga Kashmir yang dianggap memberontak. India juga menuding Pakistan mendanai kelompok separatis di Kashmir.

Warga Kota Kashmir. Foto: AFP/TAUSEEF MUSTAFA

Pada 2014, Perdana Menteri Pakistan ketika itu Nawaz Sharif mengisyaratkan perdamaian dengan India, yang dipimpin Narendra Modi. Namun setelahnya, ketegangan kembali muncul ketika militan Kashmir menyerang pangkalan militer Pathankot di utara Punjab. Rencana perdamaian batal.

Pekan ini menjadi saat-saat terpanas kedua negara setelah serangan teroris terbesar dalam puluhan tahun terjadi di Kashmir. Lebih dari 40 anggota paramiliter India tewas dalam bom mobil, Pakistan disalahkan.

Tanah subur mirip Eropa, Jammu dan Kashmir Foto: Dok: Flickr/sandeepachetan.com

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan membantah terlibat serangan itu. Dia menegaskan negaranya akan membalas jika India menyerang.

Perlu diingat, Pakistan dan India secara terbuka mengatakan punya senjata nuklir. Perang antara kedua negara bisa merugikan kawasan, bahkan dunia.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53