Pencarian populer

Keluarga Gerald Liew Pilih Tak Tuntut dr. Terawan

Gerald Liew, pebisnis Singapura, lumpuh setelah kegagalan pemasangan koil (kawat tipis untuk menyumbat pembuluh darah yang membengkak) saat “operasi kecil” oleh Dokter Terawan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Januari 2015.

Pasca-operasi, keluarga Liew memilih untuk tak menuntut Terawan. “Kami dari pihak keluarga enggak mau menuntut, karena kayaknya enggak makes difference juga,” kata Sarah Diana, kemenakan Gerald, di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Rabu (4/4).

Saat itu, ujar Sarah, istri dan putra sulung Gerald, Becky dan John Liew, langsung mencarter pesawat medis untuk memulangkan Gerald yang lumpuh ke Singapura.

Ucapan itu diamini oleh John. “Saya secepatnya menghubungi ahli bedah saraf di Singapura, dan menerbangkan ayah saya kembali ke Singapura.”

Saat itu, kata John, Terawan sempat menawarkan prosedur lain terhadap Gerald apabila kondisi ayahnya itu telah stabil. Namun, keluarga sudah kadung ketakutan.

“Saat itu saya meragukannya. Maksud saya, yang benar saja, (percaya padanya) setelah semua yang terjadi?”

Dia (Terawan) tidak mengakui itu kesalahannya. Dia hanya mengatakan, itu kecelakaan yang sungguh disesalkan.

- John Liew, putra Gerald Liew, eks pasien Terawan

Keluarga Gerald juga tak mau ribut-ribut sementara mereka harus fokus pada kondisi kesehatan Gerald yang amat buruk.

“Karena dia (Terawan) juga bilang kliennya pejabat-pejabat, dan dia pensiunan jenderal. Intinya sih, aku nangkepnya, ‘Lo jangan ngutak-ngatik gue, gue punya backing-an.’ Ya udah,” ujar Sarah.

Sarah Diana, keluarga pasien gagal dr. Terawan. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Sarah menceritakan, saat itu Terawan sempat berkata kepadanya bahwa ia merasa terpukul karena kegagalan operasi Gerald.

“Dia (Terawan) sempat bilang, ‘Saya itu down banget. Saya tuh udah mau berhenti loh gara-gara kejadian ini. Tapi terus saya diingatkan sama orang-orang di sekitar saya kalau saya tuh bisa membantu orang banyak. Saya tuh punya talenta. Ini tuh dari Tuhan, semua ini.’ Terus dia bilang, ‘Saya tuh pensiunan jenderal, jadi nggak perlu nih kayak gini.’ Segala macam dia bilang,” kata Sarah.

“Sewaktu mengeluarkan ayah dari rumah sakit, mereka meminta saya membayar penuh. Tapi (karena kegagalan operasi itu), saya bilang saya tak mau menanggung biaya penuh. Akhirnya mereka memberikan potongan 30 persen,” ujar John. Jumlah usai didiskon itu lebih dari Rp 122 juta.

Kuitansi pengobatan Gerald di RSPAD (Foto: Dok. John Liew)

Keluarga Gerald Liew tak menuntut apa pun hingga kini.

Kami males ngeluarin duit untuk sesuatu yang nggak pasti. Mendingan duitnya buat berobat. Apalagi dia (Terawan) udah bilang, dia pensiunan jenderal, sedangkan keluargaku WNA. Pasti akan cuma buang-buang uang dan waktu.

- Sarah Diana, keponakan Gerald Liew, eks pasien Terawan

Setelah kejadian itu, Sarah melakukan riset kecil-kecilan via internet untuk mengetahui lebih lanjut soal operasi macam apa yang sesungguhnya ditempuh pamannya.

Ia paham hasil operasi akan berbeda-beda untuk tiap orang. Masalahnya, ujar Sarah, pamannya sesungguhnya tidak sakit. Namun, akibat “operasi kecil” itu, ia justru invalid.

Kalau udah sakit, misalnya lumpuh, terus ke Dokter Terawan, kemungkinannya adalah tetap lumpuh atau sembuh. Tapi kalau dari sehat jadi lumpuh total (seperti paman), itu yang kami permasalahkan. Ada orang-orang yang sukses (cuci otak), ya wajar. Kalau keluarga aku yang dihadapkan dengan (kondisi) papaku mau mati, sakit keras, terus tiba-tiba disembuhin (Terawan) bisa berhasil, I’ll be grateful.

- Sarah Diana, kemenakan Gerald Liew, eks pasien Terawan

Gerald yang berkewarganegaraan Singapura sebelumnya tak pernah berobat di Indonesia meski kerap bolak-balik Jakarta-Singapura untuk keperluan bisnis. ‘Cuci otak’ Dokter Terawan adalah kali pertama dan terakhir baginya ‘berobat’ di Indonesia.

Menurut Sarah, Gerald diajak oleh rekan bisnisnya untuk menjajal ‘brain wash’ Terawan yang terkenal. “Katanya, ‘Ini ada dokter famous banget, semua pejabat ke dia. Udahlah lo coba, bisa dapet antrean spesial,’” tutur Sarah.

Alur tindakan ‘cuci otak’ dr. Terawan di RSPAD. (Foto: Johanes Hutabarat/kumparan)

Berdasarkan pemeriksaan MRI (magnetik resonance imaging), Gerald didiagnosis berpotensi terserang aneurisma (pembengkakan pembuluh darah) yang bisa memicu stroke hemoragik (stroke akibat pembuluh darah pecah).

Ia lalu disarankan untuk melakukan ‘cuci otak’ dan memasang koil guna mencegah aneurisma tersebut.

Terlepas dari itu, cuci otak Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) berdasarkan jurnal ilmiah Terawan, Intra Arterial Heparin Flushing Increases Manual Muscle Test – Medical Reserch Councils (MMT-MRC) Score in Chronic Ischemic Stroke Patient yang dipublikasikan Bali Medical Journal, hanya untuk mengobati stroke jenis iskemik (stroke akibat penyumbatan pembuluh darah).

Metode cuci otak Dokter Terawan. (Foto: Basith Subastian/kumparan)

Dokter Terawan yang beberapa kali dihubungi kumparan, belum bisa memberikan keterangan terkait kasus Gerald Liew karena agendanya yang padat. Namun, usai pertemuan dengan Komisi I DPR di RSPAD, Rabu (4/4), ia sempat mengatakan bahwa semua prosedur tentu memiliki risiko.

Semua ada risikonya. Yang penting coba dikerjakan dengan cermat, dengan persiapan yang baik, dan didukung doa.

- Dokter Terawan

Video

------------------------

Ikuti terus perkara Geger Terawan di Liputan Khusus kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53