kumparan
16 Sep 2019 17:39 WIB

KLHK: Hujan Satu-satunya Cara Menghilangkan Asap Karhutla

Warga menggunakan masker saat berada di objek wisata bantaran Sungai Kahayan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (15/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Rendhik Andika
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan belum bisa hilang hingga kini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus berupaya menanggulanginya.
ADVERTISEMENT
Kabiro Humas KLHK, Djati Wicaksono, mengatakan, hujan menjadi satu-satunya harapan untuk menghilangkan kabut asap dengan cepat. Karena itu, KLHK bersama BMKG dan sejumlah pihak sedang mengupayakan untuk membuat hujan buatan.
“Jadi memang modifikasi cuaca juga sedang diupayakan oleh kementerian terkait. Sehingga bisa kita dukung yang memang harapannya adalah sempat turun hujan, satu-satunya untuk bisa meniadakan asap karhutla,” ujar Djati di kantor KLHK, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (16/9).
Pengendara kendaraan bermotor menembus kabut asap pekat dampak dari kebekaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9). Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Djati menjelaskan, kemarau panjang memperparah karhutla. Padahal, fenomena iklim El Nino tahun ini cukup lemah.
“Karena ini kemarau panjang seperti 5 tahun yang lalu, El Nino juga. El Nino moderate, ya, sekarang lemah, tapi panjang, itu masalahnya. Sehingga masa keringnya lebih lama dari 2016, 2017, 2018,” jelas Djati.
ADVERTISEMENT
Sejauh ini, Djati menjelaskan, harapan untuk hujan di beberapa daerah sudah ada. Dengan demikian, ia berharap tidak akan ada dampak yang lebih besar dari kabut asap, apalagi sampai ke negara-negara tetangga.
“Perkembangan yang sudah menetapkan (ada karhutla) itu sekarang sudah mulai hujan juga, lihat-lihat lagi di beberapa daerah yang rawan kemarin yang bergeser dari Sumatera sudah mengarah ke Kalimantan. Kalimantan juga tergantung arah anginnya ya, kita harapkan (kabut asap) enggak sampai ke negara tetangga,” pungkasnya.
Pesawat dan helikopter yang disiagakan untuk operasi pemadaman udara. Foto: Dok. BNPB
Saat ini, pemerintah telah menyiapkan 3 pesawat untuk memproduksi hujan buatan melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Provinsi Riau. Yaitu, pesawat Cassa 212-200 dengan kapasitas 1 ton. Pesawat ini sudah beroperasi di Riau sejak 26 Februari 2019.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, operasi memproduksi hujan buatan untuk mengatasi karhutla sangat tergantung dengan keberadaan awan potensial hujan. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, tahun ini cukup sulit menciptakan hujan buatan karena kadar air di awan belum mencukupi.
“Sejak Juli hingga hari ini, langit di Indonesia itu bersih hampir tidak ada awan. Sehingga upaya yang dilakukan sejak Juli untuk membuat hujan buatan itu tidak mudah, karena untuk berhasil bibit-bibit awan yang akan disemai itu hampir tidak ada,” ujar Dwikorita di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (14/9).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan