KPK Telusuri Rekening Eks Dirut Garuda Emirsyah Satar di Singapura

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mantan Dirut Garuda, Emirsyah Satar usai menjalani pemeriksaan di KPK, Rabu (17/7). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mantan Dirut Garuda, Emirsyah Satar usai menjalani pemeriksaan di KPK, Rabu (17/7). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Penyidik KPK telah memeriksa 2 saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat dan 50 mesin pesawat Airbus A330-300 untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada periode 2004-2015.

Dua orang itu ialah advokat Andre Rahadian dan mantan Financial Controller PT Jimbaran Villas, Sallyawati Rahardjada. Mereka diperiksa untuk tersangka mantan Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, Emirsyah Satar.

Menurut juru bicara KPK Febri Diansyah, pemeriksaan keduanya untuk menelusuri aset yang dimiliki oleh Emirsyah di Singapura.

"Penyidik menelusuri kepemilikan aset tersangka ESA (Emirsyah Satar), termasuk rekening bank di Singapura," kata Febri saat dihubungi, Kamis (18/7).

Saat diperiksa KPK pada Rabu (17/7). Emirsyah telah mengakui mempunyai rekening di Singapura. Namun, ia membantah tudingan memiliki puluhan rekening.

"Enggak, rekening saya cuma satu, itu bukan rekening saya. Rekening saya cuma satu," ujar Emirsyah.

Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar (kiri) bersiap menjalani pemeriksaan di Gedung KPK. Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Emirsyah dan eks Beneficial Owner Connaught International dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi, Soetikno Soedarjo, sebagai tersangka.

Soetikno diduga menyuap Emirsyah sebesar 1,2 juta euro dan USD 180 ribu atau setara Rp 20 miliar agar Emirsyah memilih mesin Rolls-Royce ketika Garuda membeli pesawat Airbus A330 pada kurun 2005-2014.

Selain uang, KPK menduga Emirsyah menerima suap selama menjabat Dirut periode 2005-2014. Suap berupa barang senilai USD 2 juta atau setara Rp 26,76 miliar diduga tersebar di Singapura dan Indonesia.

Dalam perkembangan penyidikan, KPK menemukan adanya indikasi transaksi rekening di luar negeri yang diduga berkaitan dengan kasus ini. Transaksi itu diduga melibatkan puluhan rekening.