kumparan
23 Agu 2019 13:18 WIB

Pengajian Berbahasa Indonesia Kembali Digelar di Masjid Nabawi

Suasana Kajian Bahasa Indonesia oleh Ustaz Ariful Bahri, di Masjid Nabawi, Madinah. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Pengajian berbahasa Indonesia kembali digelar di Masjid Nabawi, Madinah, setelah sempat vakum sekian lama. Sekitar seribu jemaah haji Indonesia antusias mengikuti kajian yang disampaikan oleh seorang ustaz yang dipilih khusus pengelola Masjid Nabawi.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya pengajian tersebut diampu dua orang ustaz asal Indonesia, yaitu Ustaz Firanda Andirja dan Ustaz Abdullah Roy. Kini kajian disampaikan oleh Ariful Bahri, mahasiswa S3 Jurusan Akidah di Universitas Islam Madinah, yang terpilih khusus dan telah menjalani serangkaian ujian untuk jadi penceramah di Masjid Nabawi.
"Ustaz Firanda sekarang ada di tanah air, saya diminta untuk menggantikannya," kata Ariful kepada jemaah pada pengajian Kamis (22/8).
Suasana jemaah yang mengikuti kajian Bahasa Indonesia oleh Ustad Ariful Bahri, di Masjid Nabawi, Madinah. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Pengajian itu digelar di depan antara pintu 20 dan 21 Masjid Nabawi. Pengajian yang membahas Al Quran dan Sunnah itu akan diadakan setiap hari, bakda Magrib. Pantauan kumparan di lokasi, pengajian tidak hanya dihadiri jemaah Indonesia, melainkan juga jemaah lain dari berbagai negara, seperti Bangladesh dan Turki.
ADVERTISEMENT
Dalam pengajian pertama itu, Ariful berceramah soal makna syukur kepada Allah. Dia mengatakan, sepatutnya manusia bersyukur atas apa yang diberikan Allah, terutama para jemaah haji yang mendapat kesempatan mengunjungi Masjid Nabawi dan Masjidil Haram di Makkah.
"Apabila kita bersyukur, dampak dari syukur itu akan kembali kepada diri kita," kata Ariful.
"Kalau kita kurang bersyukur, ingatlah bahwa Allah tidak butuh kepada kita, tapi kitalah yang butuh kepada Allah," lanjut dia.
Suasana jemaah yang mengikuti kajian Bahasa Indonesia oleh Ustad Ariful Bahri, di Masjid Nabawi, Madinah. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Kebanyakan peserta kajian adalah jemaah haji khusus yang telah tiba lebih dulu ketimbang haji reguler. Kajian digelar di hari kedua kedatangan jemaah haji reguler ke Madinah untuk melaksanakan ibadah Arbain.
Ada sekitar 120 ribu jemaah haji reguler yang akan datang ke Madinah bulan ini. Jika jemaah sudah datang semuanya, diperkirakan kajian Ariful setiap hari akan penuh sesak oleh jemaah haji Indonesia.
Ustaz Ariful Bahri saat mengisi kajian Bahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Para jemaah mengaku senang dengan adanya kajian di Masjid Nabawi. Selain untuk menambah ilmu agama selama di Madinah, kajian itu juga untuk menjadi bekal pahala yang besar selagi menunggu azan Isya. Salah satu jemaah yang bergembira adalah Roy Hidiya asal Bali.
ADVERTISEMENT
"Alhamdulillah keberadaan kajian ini sangat membantu jemaah. Ilmu yang disampaikan setiap hari akan berbeda, soal beribadah dengan baik dan benar," kata Roy.
Ustaz Ariful Bahri usai mengisi kajian Bahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah. Foto: Denny Armandhanu/kumparan
Bekal ilmu dan pahala inilah yang menjadi target program kajian bahasa Indonesia. Ariful mengatakan, oleh-oleh terbesar dari jemaah haji dari tanah suci bukan barang atau makanan, melainkan ilmu yang didapat.
"Kalau kita belajar dan mengajar, sama seperti kita berjihad di jalan Allah. Ke Makkah dan Madinah adalah kesempatan untuk belajar. Semoga dengan demikian, kebaikan tersebut bisa kita bawa pulang ke negara kita" kata Ariful.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan