Pencarian populer
16 Juli 2018 7:24 WIB
0
0
‘Perang’ Tuan Bajang
Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi (TGB). (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
Gubernur NTB Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang tak main-main dengan keputusannya mendukung Jokowi di Pemilihan Presiden 2019. Kini selepas mengantarkan kakaknya naik ke tampuk pemerintahan Nusa Tenggara Barat sebagai wakil gubernur guna melanjutkan pemerintahannya, TGB berpindah ke panggung politik nasional.
Ulama terpandang NTB itu aktif ‘membentengi’ Jokowi dari ragam rumor yang menurutnya tak benar, dan tak segan mengemukakan pendapatnya--disertai berbagai hadis sebagai rujukan--di akun-akun media sosialnya, terutama Instagram yang terlihat paling sering diperbarui dan paling banyak jumlah akunnya (paling tidak terdapat tiga akun IG atas nama TGB, yakni tuangurubajang, tgb.id, dan tgbzainulmajdi).
Dalam salah satu postingan, misalnya, TGB mengunggah potongan video ceramahnya yang menolak penggunaan ayat-ayat perang untuk Pemilu 2019.
“Berhentilah berkontestasi politik dengan mengutip ayat-ayat berperang dalam Al-Quran. Kita tidak sedang berperang. Kita ini satu bangsa. Saling mengisi dalam kebaikan. Siapa bisa menyelesaikan masalah Indonesia sendirian? Kan tidak bisa, harus sama-sama,” ujar TGB yang meraih gelar sarjana hingga doktornya di Universitas Al-Azhar Kairo.
Ucapan itu tak hanya ia sampaikan satu kali dalam ceramah itu, melainkan berulang kali selama sepekan penuh dalam berbagai acara dan wawancara dengan media nasional.

Tidak usah menjadikan pemilu semacam battle field--hidup atau mati, mukmin atau kafir. Karena most probably semua calon yang akan maju adalah Muslim. Masa satu bangsa mau saling menihilkan.

- Tuan Guru Bajang

“Saya beberapa kali menyimak orang-orang yang berorasi, menyampaikan di depan publik, di atas panggung yang disimak umat, ayat-ayat dari surat Al-Imran (Keluarga Imran), Al-Anfal (Jarahan), At-Taubah (Pengampunan), yang semua itu konteksnya adalah peperangan, baik Perang Badar, Perang Uhud, maupun perang-perang lain. Itu kemudian diletakkan dalam konteks persaingan politik di Indonesia. Jangan,” kata TGB dalam perbincangan di Kompas Petang.
“Kalau kita setel frekuensi di situ,” lanjut TGB, “pasti akan ada kebencian dan permusuhan. Belum selesai 2014, kita produksi lagi permusuhan untuk menghadapi 2019, lalu disuburkan lagi dengan sentimen keagamaan menggunakan konteks yang tidak sesuai. Itu bukan hanya tidak sesuai, tapi tidak boleh digunakan untuk pemilu.”
TGB memang tak bilang gamblang siapa yang mengutip ayat perang. Namun, jamak diketahui analogi Perang Badar dalam pemilu digunakan oleh Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional, Amien Rais.
Amien Rais (Foto: Garin Gustavian/kumparan)
Amien pertama kali menggunakan istilah Perang Badar pada Pemilu 2014. Akhir Mei tahun itu, seperti dikutip dari Kompas, Amien mengatakan partainya akan menggunakan mental Perang Badar untuk menghadapi pemilu.
Perang Badar ialah pertempuran antara tentara Muslim yang hanya berjumlah sekitar 300 orang, melawan pasukan Quraisy yang berkekuatan hingga 1.000 orang. Perang yang berlangsung tahun 624 Masehi di Arab ini dimenangi oleh kaum Muslim.
“Kalau mulai maju (dengan niat seperti) Perang Uhud, insyaallah kalah. Kalau (mentalnya) Perang Badar, insyaallah dimenangkan,” kata Amien kala itu.
Perang Uhud yang berlangsung setahun setelah Perang Badar, berujung kekalahan pasukan Islam dari Quraisy. Kemenangan yang sempat digenggam pasukan Muslim menguap seketika karena mereka lengah. Pos di atas Bukit Uhud yang mestinya dijaga, justru ditinggalkan para tentara Muslim yang hendak mengambil harta rampasan perang. Alhasil, pasukan Quraisy yang tersisa berbalik menyerang dari belakang dan berhasil mengepung mereka.
“Dahulukan perjuangan ketimbang bagi-bagi harta rampasan perang,” ujar Amien, mengibaratkan ‘harta rampasan perang’ dengan kursi menteri.
Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi. (Foto: ntbprov.go.id)
Pada 2014 itu, TGB sesungguhnya berada di kubu yang sama dengan Amien. Seperti PAN, Demokrat sebagai partai yang menaungi TGB pun mendukung Prabowo. TGB bahkan menjabat Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta di NTB, dan berhasil membawa kemenangan besar bagi Prabowo di provinsi yang ia pimpin.
“Ketika itu, seorang yang sangat saya hormati meminta saya (membantu Prabowo). Dari pencermatan visi dan misi yang sampai ke saya saat itu, saya mengarahkan dukungan kepada Bapak Prabowo,” kata TGB kepada kumparan di Senayan, Jakarta, Kamis (12/7).
Mewarisi darah ulama besar Lombok dan memimpin ormas Islam paling berpengaruh di NTB, Nahdlatul Wathan, membuat TGB tak terlampau sulit memenangi ‘perang’ apa pun di wilayahnya.
TGB pernah satu kali jumpa Prabowo yang ia bantu. Sementara dengan Jokowi, ia malah terhitung sering bertemu dalam interaksi mereka selaku pemerintah pusat dan daerah. Menurut TGB, Jokowi memberi perhatian besar dan dukungan konkret kepada pembangunan NTB.
Wujud dari rasa sayang Jokowi kepada NTB antara lain Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika yang masuk program prioritas nasional. “Intervensi Jokowi di Mandalika membuat 100 hektare lahan yang selama ini sulit diklirkan, bisa tuntas,” ujar TGB.
PDKT Jokowi di NTB (Foto: Basith Subastian/kumparan)
Berkaca pada dirinya yang memimpin NTB dua periode, TGB lantas mengatakan Jokowi pun perlu memimpin Indonesia dua periode untuk mengeksekusi program pembangunan secara optimal.
Tak lama berselang, giliran Amien mengunggah video di akun Instagram dia, berisi sindiran kepada TGB yang menyeberang ke lawan. Meski begitu, seperti TGB, Amien tak menyebut terang nama orang yang ia maksud.
“Saudara-saudaraku, akhir-akhir ini kita melihat sebagian umat, bahkan sebagian tokoh, membingungkan kita karena berpindah posisi. Dari posisi yang kita anggap sudah benar sesuai hidayah Allah, tiba-tiba ke posisi lain yang membuat kita agak bertanya-tanya. Kita doakan mudah-mudahan mereka kembali ke jalan hidayah,” ujar Amien.
Amien pantas agak kecewa. Berkurang satulah kekuatan penyangga kubu #2019GantiPresiden.
“Ini menimbulkan gejolak di tengah mereka yang menginginkan ada pemimpin baru di 2019. Tapi kita harus hargai pilihan politik beliau (TGB),” kata Bachtiar Nasir, Dewan Pembina GNPF Ulama, Rabu (11/7).
Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi (tengah), bersama Aa Gym (kiri) dan Ustaz Abdul Somad (kanan). (Foto: Instagram @tuangurubajang)
Bukan hanya Amien yang bereaksi negatif atas langkah TGB menyeberang ke Jokowi. Sejumlah tokoh opisisi ikut murka. Mereka menyebut TGB tengah tersudut, dan menudingnya sedang mengemis jabatan.
“Sakit jiwa itu TGB,” kata politikus Gerindra, Desmond Junaidi Mahesa, berseloroh sembari menyindir.
“Kalau TGB hidup di zaman Firaun, maka ia jelas ikut kepada Firaun, bukan Nabi Musa,” ucap Habib Novel Bamukmin, Juru Bicara Persaudaraan Alumni 212, beberapa waktu setelah PA 212 mencoret nama TGB dari daftar rekomendasi capres.
Namun TGB bergeming dan membiarkan hujan caci maki turun dari ‘langit’. “Saya melihat di antara semua tokoh yang ada sekarang, beliaulah (Jokowi) yang terbaik.”
TGB, dalam kunjungannya ke Jakarta sepekan terakhir, lebih banyak bertemu tokoh-tokoh politik yang berada di kubu Jokowi. Sebut saja Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Ketum Umum NasDem Surya Paloh, dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto.
Kejengkelan kelompok oposan bukan tanpa alasan. TGB dianggap ahli strategi yang memiliki kemampuan menggalang dukungan. Kemenangan Prabowo dengan perolehan suara 72,45 persen di NTB jadi bukti.
Paling penting: ia punya massa.
“Nahdlatul Wathan tidak terikat pada figur dan partai. Ketika diberi komando oleh pimpinan, semua kompak, utuh bersatu sampai bawah,” kata Suruji, Bendahara Nahdlatul Wathan, kepada kumparan, Jumat (13/7).
Komando, salah satunya, ada di TGB selaku Ketua Umum Nahdlatul Wathan. Dan figur yang ia dorong kini ialah Jokowi.
“Kami melihat fakta, siapa yang terbukti bisa berkontribusi lebih banyak kepada daerah, siapa yang bisa diharapkan lebih serius memperhatikan jemaah. Setelah sekian tahun, Jokowi menjadi presiden ternyata punya manfaat sangat besar untuk NTB,” ujar Suruji.
Masyarakat NTB, menurut Suruji, secara umum memiliki penilaian positif atas Jokowi. “Dia tidak membeda-bedakan. Walaupun kalah telak di NTB, tapi NTB jadi prioritas pembangunan beliau karena memang punya potensi. Menurut kami Jokowi objektif. Membangun tanpa dendam politik.”
Kekuatan Nahdlatul Wathan di NTB bahkan diprediksi lebih bertaji sekarang ketimbang 2014 kala mereka terpecah menjadi dua kubu antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Kini suara mereka utuh untuk Jokowi.
Jokowi dan TGB berkeliling KEK Mandalika di Lombok, NTB. (Foto: Antara/Ahmad Subaidi)
TGB sejak awal blak-blakan tak sepakat dengan narasi politik identitas yang belakangan kental mewarnai pemilu. Salah satunya, Jokowi disebut tidak pro-Islam.
“Semakin ke sini, saya merasa harus menyampaikan secara terbuka posisi saya sebagai pendukung Presiden Joko Widodo, untuk menghilangkan anggapan bahwa ia tidak ramah kepada umat. Stigma itu tidak beralasan. (Sikap saya) ini sangat penting karena takyat Indonesia 85 persen Muslim,” kata TGB.
Alih-alih anti-Islam, Jokowi di mata TGB justru berupaya serius untuk bekerja untuk umat. “Mungkin belum pernah ada presiden yang mengunjungi pesantren sebanyak Joko Widodo, baik sebelum maupun sesudah menjadi presiden,” ujarnya.
Lewat akun-akun media sosialnya, TGB juga rajin mengunggah pesan yang secara tak langsung menguntungkan Jokowi sebagai pihak yang rutin diserang identitas keislamannya.
Serangan-serangan berbau agama otomatis lebih sulit ditembakkan setelah TGB merapat ke Jokowi. Ini berkah luar biasa buat sang petahana yang kini bak memiliki tameng.
“TGB semakin memperkuat posisi Pak Jokowi. Istilahnya menetralisir serangan atau tudingan bahwa Pak Jokowi itu tidak islami atau tidak berpihak oleh kelompok Islam,” ujar pengamat politik dan Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari.

TGB cukup punya nama dan pengaruh sebagai opinion maker di tingkat lokal dan nasional. Nahdlatul Wathan yang ia pimpin di NTB seperti NU di Jawa Timur. Kalau Gus Dur skala nasional, TGB skala lokal.

- M. Qodari, pakar politik Indo Barometer

TGB sama sekali tak keberatan terlibat ‘peperangan’ meski telah panen hujatan. “Semua ada risikonya. Saya siap.”
“Beliau pernah berkata, ‘Politik juga bagian dari media dakwah.’ Dulu dia menjadi gubernur pun, niatnya untuk berdakwah,’” ujar Suruji.
Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Tuan Guru Bajang tentu telah menimbang langkahnya menyeberang.
Guru Bajang Menyeberang (Foto: Basith Subastian/kumparan)
------------------------
Ikuti aksi Guru Bajang Menyeberang di Liputan Khusus kumparan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: