Pro dan Kontra Paskibraka Putri Wajib Bercelana Panjang

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Foto:  ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
zoom-in-whitePerbesar
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memberlakukan aturan baru terkait pakaian Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2019. Dalam aturan yang diwacanakan itu, Paskibraka putri tak lagi dibolehkan menggunakan rok dan harus memakai celana panjang.

Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Asrorun Niam, mengatakan, kebijakan ini merupakan upaya penyeragaman pakaian pasukan Paskibraka Nasional 2019. Menurutnya, aturan ini bertujuan untuk memudahkan personel Paskibraka wanita dalam kegiatan baris berbaris.

"Kebijakan baru ini adalah bagian mekanisme penyeragaman. Selama ini, anggota putri Paskibraka pakai rok, lalu ditarik dengan kaus kaki. Tapi tahun ini kita gunakan celana panjang," kata Niam dilansir Antara, Sabtu (27/7).

kumparan post embed

Tak hanya itu, penggunaan celana panjang juga untuk menyelaraskan dengan personel putri yang berkerudung. "Hasil rapat koordinasi, penggunaan celana panjang putri sudah dua kali rapat terbatas dan simulasi dengan lintas sektor. Kebijakan ini juga sudah diterapkan di lingkungan TNI dan Polri," tuturnya.

Belakangan, Ni'am meluruskan kebijakan tersebut. Dia memastikan aturan ini menjadi salah satu keputusan dalam rapat koordinasi pelaksanaan diklat Paskibraka pada 12 Juli.

"Diikuti oleh pihak-pihak terkait. Bukan keputusan sepihak. Ini juga didasarkan pada Perpres yang baru," kata Ni'am.

Sebelum Diklat Paskibraka 2019 dilaksanakan, lanjut Ni'am, sejumlah pihak yang terdiri dari panitia, pembina, dan pelatih dari Garnisun, dari Setpres, Kementerian Kominfo, PPI, dan Kemenpora membahas soal pelaksanaan pelatihan, pendidikan, sampai waktu bertugas. Salah satunya soal seragam anggota Paskibraka Nasional 2019 putri.

"Rapat saya pimpin langsung. Agendanya adalah persiapan diklat paskibraka. Salah satu subagenda pembahasan adalah soal seragam. Soalnya, dulu pernah ada yang kebesaran, dan ada yang ngepres. Makanya perlu diperhatikan secara serius. Mulai dari aspek persiapan baris-berbaris sampai uniform. Harus sempurna," tuturnya.

"Saya sebagai penanggung jawab program maunya perfect. Hal ini juga menjadi konsen Pak Kasetpres. Beliau sangat detil dan teliti. Saya harus mengimbangi dengan upaya maksimal. Dan harus melakukan koordinasi agar diperoleh pertimbangan yang utuh dari seluruh pihak. Saat itulah diinformasikan dari Garnisun kemungkinan penggunaan celana panjang bagi yang putri. Dan ini juga sudah berjalan di TNI/POLRI," ujarnya.

kumparan post embed

Pro dan Kontra

Kebijakan tersebut tentunya ramai dibicarakan dan menjadi pro kontra di tengah masyarakat. Ada yang setuju karena dirasa lebih sopan dan selaras dengan personel berhijab, ada pula yang menolak karena alasan gerakan.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PPP Reni Marlinawati menjadi pihak yang mendukung kebijakan tersebut. Ia mengapresiasi ide Kemenpora yang dinilainya baik.

"Mau pakai rok dan celana tidak masalah. Buat saya yang pernah jadi Paskibraka di tingkat kecamatan, enggak terganggu juga kalau pakai celana," kata Reni saat dihubungi, Minggu (28/7).

"Memang sesungguhnya kalau pakai rok, walaupun pakai rok di lutut ketika jalan di tempat, paha itu bisa tampak. Walaupun ada celana di dalam," tuturnya.

kumparan post embed

Sementara penolakan datang dari mantan anggota Paskibraka Nasional tahun 2016, Gloria Natapradja Hamel. Perempuan berusia 19 tahun itu mengaku terkejut ketika pertama kali mendengar adanya aturan baru tersebut.

"Ada pride tersendiri sebagai seorang wanita bisa melakukan gerakan yang sama dengan pria, meskipun kita pakai rok, bukan celana. Keleluasaan kita bergerak pun bisa angkat kaki (seperti) yang laki-laki. It's another pride, gitu, lho," kata Gloria.

Meski begitu, ia tak melarang aturan Kemenpora. Terlebih, aturan berpakaian Paskibraka memang beberapa kali mengalami perubahan. "(Tapi) secara estetika, aku lebih suka rok," ucapnya.

Gloria membantah jika ada orang beranggapan pemakaian rok menjadi tak leluasa dan sulit bergerak. Ia memastikan rok untuk Paskibraka sudah didesain untuk memudahkan gerakan baris berbaris.

kumparan post embed

"Roknya memang didesain stretch, bahkan bisa naik kakinya 90 derajat. Karena roknya memang didesain seperti itu. Kalau misal alasannya biar lebih gampang geraknya, pakai celana atau rok pun sama saja," jelas Gloria.

"Itu secure banget. Masih pakai celana dalaman lagi, kok, dan kaos kakinya sampai lutut. Enggak risih juga, it's cover everything. Selama ini enggak ada masalah pakai rok," imbuhnya.

Di sisi lain, Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Jakarta mengaku tetap akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Termasuk jika nantinya Paskibraka nasional putri harus bercelana panjang.

Suasana pengukuhkan Paskibraka 2018 di Istana Negara, Rabu (15/8/2018). Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan

"Kalau kita nurutin dari pusat dan Kemenpora, sebelumnya masih dibahas di Kemenpora, kan. Nah, kalau emang aturan itu dirumuskan, provinsi, sih, ikut, ya, karena enggak bisa menolak," ujar Ketua Pengurus Provinsi PPI DKI Jakarta, Armijn Navaro Soedjati, kepada kumparan, Minggu (28/7).

"Kecuali kalau hal itu negatif, selama masih positif, ya, enggak apa-apa," lanjutnya.

Armijn menuturkan, ia juga telah membicarakan wacana ini ke rekan PPI provinsi lainnya. Pendapat senada pun ia terima.

"Rekan-rekan lain juga enggak ada masalah kalau ke arah lebih baik, kita tunggu saja surat dari nasional, dari Istana. Kalau emang akhirnya paskibraka bagusnya seperti itu kita ikuti saja," ungkapnya.

Kendati demikian, Armijn mengaku belum menerima surat edaran tersebut. "Karena belum ada surat edaran resmi, kita tetap pake rok saat ini," tuturnya.

kumparan post embed