Rachmawati: MPR Ibarat Macan Ompong, Enggak Jelas Tupoksinya

Selain memperebutkan posisi di pemerintahan, partai politik juga sedang bergelut untuk posisi pimpinan MPR yang hanya 5 kursi, dan diusulkan bisa bertambah jadi 10 kursi untuk menampung banyak parpol.
Namun, bagi Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Rachmawati Soekarnoputri, perdebatan itu menjadi tidak penting karena tugas pokok dan fungsi MPR saja kini tidak jelas.
"MPR kita ini kalau saya umpamakan ibarat macan ompong, karena setelah diamandemen 4 kali pada tahun 2001 zamannya Megawati itu, itu fungsi dari MPR itu sudah berubah total. Dia bukan lembaga tertinggi negara lagi, dan bahkan dalam tupoksinya dari MPR itu sendiri sudah enggak ada," ucap Rachmawati usai diskusi di Grand Sahid, Jakarta, Senin (12/8).
"Kalau menurut saya mohon maaf, (soal kursi pimpinan MPR) ini hanya berbicara secara pragmantisme saja."
Menurut Rachmawati, dulu MPR punya kewenangan besar memilih presiden dan wakil presiden, juga menetapkan GBHN. Namun, sejak diamandemen ketiga pada tahun 2001, MPR kehilangan fungsi pentingnya.
"Mau tambah berapa (pimpinan), tetapi visi dan tupoksi MPR itu harus jelas. Jadi ini bukan hanya bagi-bagi pimpinan, kekuasaan, itu bukan, tapi fungsi dari MPR ini harus jelas," kritik putri Presiden pertama RI Soekarno itu.
Selain soal tupoksi yang tidak jelas, posisi MPR juga tidak jelas. Dia dibentuk sebagai representasi DPR dan DPD, namun kini justru terkesan ketiganya sejajar. Karena itu penting dikaji apakah sistem parlemen trikameral (tiga kamar), dwikameral (dua kamar), atau unikameral (satu kamar).
"Di sini ada DPR, DPD, dan masing-masing itu sejajar. Jadi itu yang jadi pertanyaan besar, apakah masih mau dipertahankan sistem ketatanegaraan yang enggak jelas," tuturnya.
"Enggak jelas tupoksi dan kedudukannya MPR nih apa. Nah, menurut saya goal besar yg dilakukan Ketua MPR nanti pun adalah kembali ke UUD 45. Jadi fungsi dari MPR ini akan kembali seperti dulu, enggak sekarang, kita bingung ya."
