Tentang Wilayah di Balaroa yang Lenyap Usai Gempa Palu

Perumnas Balaroa rata tertimbun tanah bersama 1.477 rumah yang berdiri di atasnya. Ratusan jiwa juga diduga ikut tertimbun di dalamnya.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, kondisi tanah Balaroa fluktuatif sehingga menyebabkan tanah mengalami penurunan sedalam 5 meter dan kenaikan setinggi 2 meter.
Dia juga mengatakan, belum ada proses evakuasi di daerah ini karena akses yang sulit dilalui oleh alat berat. Sampai saat ini, tim SAR juga belum dapat memastikan keberadaan korban yang rata bersama tanah di Balaroa.
"Evakuasi akan terus dilakukan oleh tim SAR gabungan," ujar Sutopo, Senin (1/10).
Dalam video terlihat, Perumnas Balaroa habis ditelan oleh tanah yang mengalami naik turun.
Perumnas Balaroa menjadi jalur patahan gempa yang membuat dataran tanah naik dan turun sehingga menenggelamkan rumah di atasnya. Perumahan Balaroa terletak di atas jalur sesar Palu Koro yang menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan terparah.
Jarak Balaroa menuju pantai terdekat, yakni Pantai Talise, sekitar 4,5 km.
“Berdasarkan posisi dan kedalaman pusat gempa bumi, maka kejadian gempa bumi tersebut disebabkan oleh aktivitas sesar aktif pada zona sesar Palu-Koro yang berarah Barat Laut – Tenggara,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani kepada kumparan, Jumat (28/9).
Sebelumnya, Balaroa merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Palu. Balaroa memiliki luas 2,38 km persegi. Sementara jumlah penduduk di sana, berdasarkan tahun 2008, berjumlah 11.661 juwa.
Di Palu Barat sendiri tingkat kepadatan bangunannya cukup tinggi 182 bangunan per km persegi. Total ada 28.628 bangunan.
Nah, dengan kondisi seperti ini Palu Barat, termasuk di dalamnya Balaroa, menjadi wilayah yang rentan jika ada gempa bumi. Sebab, semakin tingginya kepadatan bangunan semakin minim lokasi evakuasi jika terjadi gempa.
Berdasarkan sejarahnya, Palu memang kerap kali mengalami gempa bumi yang diakibatkan patahan Palu Koro. Baik dari yang berskala kecil maupun besar.

Sebelum diterjang gempa dan tsunami, Balaroa merupakan daerah yang banyak ditempati warga. Jalan di Balaroa sudah banyak yang beraspal, namun ada sebagian yang belum. Rumah warga juga berjajar sepanjang jalan.
Nama Balaroa sendiri diambil dari nama pohon yang memiliki khasiat bagi kesehatan.
