Pencarian populer

Tuntutan Ekonomi, Alasan Klasik Bisnis Prostitusi

Prostitusi di rumah sendiri (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Bagi Yayah, menjadi PSK adalah pilihan hidup yang harus ia jalani. PSK bukan hal tabu yang harus ditutupi, karena dari situlah sumber penghasilan utamanya berasal.

Yayah santai duduk di dalam kamar sambil membenahi rambut panjangnya yang tergerai. Mengenakan baju putih lengan panjang, warga salah satu desa di Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini meladeni pertanyaan kumparan. Dia menolak wajahnya dieskpos dan namanya dipublikasi. Yayah adalah nama samaran.

Malam itu Yayah tampil dengan wajah polos tanpa make up. Penampilannya sederhana. Tuturnya santun dan cenderung malu-malu, tak seperti PSK pada umumnya yang biasanya lebih 'berani'.

Video

Umurnya baru 21 tahun, tapi Yayah sudah punya seorang anak. Tiga tahun lalu dia bercerai dengan suaminya, dan beberapa bulan kemudian ibunya meninggal dunia. Kondisi itu sempat membuatnya frustrasi sehingga memutuskan menjadi PSK.

Tiga bulan kemudian Yayah memberanikan diri memberi tahu ayahnya dari mana sumber penghasilan yang ia terima selama ini. Rupanya sang ayah tak keberatan dengan keputusan yang ia ambil.

“Yasudahlah enggak apa-apa asal bisa jaga diri, jaga kesehatan gitu aja dia,” kata Yayah menirukan pesan ayahnya, Kamis (16/8).

Maraknya bisnis prostitusi rumahan ini bukan rahasia lagi. Program Manager Infeksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS Dinas Kesehatan Subang, Suwata, mengatakan kegiatan prostitusi itu sudah ada sejak lama. Faktor ekonomi menjadi alasan seorang rela anaknya menjadi PSK.

"Nah terkait banyak anak-anak yang dipekerjakan sebagai pelaku prostitusi oleh orang tuanya langsung itu memang banyak alasan, terutama ekonomi tadi," ujar Suwata saat ditemui kumparan di Grand Hotel, Subang, Jumat (17/8).

Tuntutan gaya hidup menjadi faktor pendukung lainnya seseorang terjun di dunia kelam itu. Pendidikan yang kurang juga menjadi penyebab maraknya bisnis ini.

Menurut Suwata, kemudahan mendapatkan uang dalam semalam itulah yang menjadi candu bagi para pelaku. Mereka bisa mengangkat perekonomian keluarga dan juga menaikkan status sosial dan gaya hidupnya.

"Terbiasa mendapat uang dengan mudah akhirnya menjadi suatu gaya hidup yang itu mereka berlanjut sampai hari ini," tutur Suwata.

Suwata menyebut banyaknya pekerja seks komersial di Subang menyebabkan angka tingkat orang dengan infeksi HIV dan AIDS tinggi, yakni mencapai 90 persen. Ada 1.766 kasus di Subang, mulai dari usia 15 tahun hingga 49 tahun. Hal ini menyebabkan Subang termasuk kota tertinggi ke empat dengan kasus HIV di Jawa Barat.

Simak selengkapnya dalam konten spesial Prostitusi di Rumah Sendiri dengan follow topik Kampung Prostitusi

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.53