Kumparan Logo

Bullying pada Remaja Bisa Sebabkan Otak Berubah Bentuk

kumparanSAINSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tindakan bullying pada remaja (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Tindakan bullying pada remaja (Foto: Thinkstock)

Kasus bullying yang menimpa dua anak artis Ussy Sulistiawati sedang menjadi sorotan publik. Bahkan Ussy telah menemui pelaku perundungan alias bullying terhadap kedua anak dari hasil pernikahan pertamanya itu.

Istri dari Andhika Pratama tersebut mengatakan bahwa anaknya merasa sedih dan mudah melamun gara-gara komentar negatif yang bermunculan mengenai mereka di akun Instagram ibunya. Melihat kondisi putinya demikian, Ussy yang sempat ingin membuat akun Instagram untuk Ara dan Amel, jadi berubah pikiran.

"Padahal sebelumnya saya sudah punya kepikiran untuk izinin anak punya Instagram, tapi gara-gara ini no. Anak-anak saya belum sekuat itu ternyata. Ara saja sekarang bengang-bengong, ‘Kenapa kak?’ Terus tadi dia lagi libur sekolah, ‘Mama mau ke polda?’ Terus dia bilang, ‘Masih masalah yang itu ya?’ Dia tahu karena aku juga bilang ke anak-anak," tutur Ussy.

Ussy bertemu netizen yang bully anaknya di Ditreskrimsus PMJ. (Foto: Ainul Qalbi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ussy bertemu netizen yang bully anaknya di Ditreskrimsus PMJ. (Foto: Ainul Qalbi/kumparan)

Bullying pada remaja memang membawa banyak dampak negatif baik secara psikologis maupun secara fisik. Studi yang dipublikasikan di Archives of Disease in Childhood pada 2015 menunjukkan bahwa bullying yang menimpa anak usia enam hingga 17 tahun dapat membuat mereka lebih mudah terkena penyakit seperti flu, sakit kepala, sakit perut, hingga masalah saat tidur.

Mereka juga cenderung akan menderita depresi dan kecemasan, serta lebih mungkin untuk kecanduan rokok.

Yang paling berbahaya, bullying disebut dapat menyebabkan korbannya berpikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Studi terbaru yang dilakukan pada 682 anak muda di Inggris, Irlandia, Prancis, dan Jerman menunjukkan bahwa bullying yang dilakukan pada remaja dapat mempengaruhi otak, bahkan hingga mengubah bentuk otak.

Ilustrasi Bully (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bully (Foto: Pixabay)

Dari 682 anak berusia 14 hingga 19 tahun, 36 di antaranya mengalami bullying tingkat berat. Saat otak mereka dibandingkan dengan peserta studi lain yang mengalami bullying tapi tidak separah mereka, peneliti menemukan bahwa otak mereka ternyata berbeda. Ukuran otak anak yang mengalami bullying berat terlihat menyusut.

Dua wilayah pada otak yang menyusut terlihat pada wilayah yang disebut putamen dan caudate. Perubahan tersebut disebut mirip dengan perubahan otak yang terjadi pada orang dewasa yang mengalami tekanan di masa kecil, misalnya karena ia menerima perlakuan tidak baik saat masih kecil.

Dilansir Science Alert, penulis studi tentang hal ini, Erin Burke Quinlan dari King’s College, mengatakan penyusutan otak tersebut bisa menjadi tanda munculnya masalah mental atau setidaknya menjelaskan mengapa anak-anak tersebut mengalami kecemasan tingkat tinggi.

Kampanye Anti Bullying (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kampanye Anti Bullying (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Studi yang dipublikasikan di Molecular Psychiatry ini menunjukkan bagaimana bullying membawa efek yang berbahaya bagi perkembangan otak remaja. Penulis studi juga mencurigai penyusutan otak akan terus terjadi seiring dengan bertambahnya usia mereka.

Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui efek bullying lebih lanjut pada otak. Namun, peneliti sudah mengeluarkan imbauan untuk mengurangi praktik bullying karena dapat mengganggu kesehatan mental dan bahkan menyebabkan kerusakan pada otak remaja.