kumparan
15 Sep 2019 11:55 WIB

Hipoksia akibat Kabut Asap Karhutla Bisa Merusak Organ Dalam Tubuh

Ojek perahu menembus kabut asap pekat dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Pekanbaru. Foto: ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan dapat menyebabkan hipoksia atau kondisi kekurangan oksigen di dalam tubuh. Yang mengkhawatirkan, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, mengatakan hipoksia akibat kabut asap ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ dalam tubuh.
ADVERTISEMENT
"Penelitian membuktikan bahwa kondisi hipoksia sistematik kronik dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal, jantung dan lambung," ujar Ari di Jakarta, Sabtu (14/9), seperti dikutip dari Antara.
Ari menambahkan bahwa keseimbangan oksigen di dalam tubuh dijaga oleh sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Hipoksia harus dihindari terjadi, terutama pada orang-orang yang sudah mempunyai permasalahan pada pembuluh darah, baik pada pembuluh darah otak maupun pembuluh darah jantung.
Kadar oksigen yang rendah menyebabkan jantung akan mengalami penurunan pasokan oksigen yang berat yang dapat menyebabkan terjadinya infark atau kematian jaringan. Begitu pula pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pembuluh darah otak, kekurangan oksigen dapat memperburuk kondisi pasien hingga mengakibatkan pasien tidak sadarkan diri.
Seorang penjual koran mengenakan masker medis saat berjualan di tengah asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang makin pekat menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro
Ari menyebut perlu dilakukannya perhitungan berapa banyak penurunan kadar oksigen yang terjadi akibat kabut asap di Pekanbaru dan wilayah-wilayah lain di Tanah Air. Di sisi lain, komponen asap akibat kebakaran hutan juga harus dianalisis sehingga dapat diprediksi dampaknya buat kesehatan.
ADVERTISEMENT
Guru Besar FK-UI itu menekankan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai kandungan asap yang ada dan dampak penurunan kadar oksigen. Hal ini penting dilakukan sehingga dampak kabut asap akibat karhutla pada masyarakat dapat diprediksi dan diantisipasi.
"Untuk sementara memang masyarakat dianjurkan untuk tidak menghirup asap dan mencegah untuk tidak berada di luar rumah saat jumlah asap masih tinggi," tegas Ari.