Pencarian populer

Meremehkan Perubahan Iklim, ‘Membakar’ Bumi

KTT G20 Jerman. (Foto: Laily Rachev - Biro Pers Setpres)

Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Hamburg, Jerman, 7-8 Juli 2017, berakhir dengan penegasan komitmen negara-negara anggotanya (minus Amerika Serikat) terhadap Perjanjian Paris --kesepakatan yang dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2015 di Paris untuk mereduksi emisi kabon dioksida dunia demi menahan laju peningkatan temperatur global di bawah 2 derajat Celcius.

Mengabaikan bujuk rayu 19 rekannya, Presiden AS Donald Trump berkukuh dengan keputusannya membawa AS keluar dari Perjanjian Paris. Ia menjadi satu-satunya pemimpin negara G20 yang menolak mengerem laju pemanasan global.

1 Juni 2017, empat bulan setelah dilantik menjadi Presiden AS, Trump mengumumkan AS keluar dari Perjanjian Paris dengan alasan kesepakatan itu membahayakan perekonomian dan kedaulatan AS.

“Mematuhi Perjanjian Paris dapat mengakibatkan hilangnya 2,7 juta pekerjaan di Amerika pada tahun 2025,” kata Trump dalam lansiran The New York Times.

“Saya terpilih untuk mewakili warga Pittsburgh, bukan Paris,” kata Trump lagi, berkeras menolak mengurangi penggunaan bahan bakar fosil pada industri-industri di AS.

Pittsburgh yang disebut Trump ialah salah satu kota di timur AS yang memiliki kawasan industri baja raksasa.

Perubahan iklim, pemanasan global. (Foto: Pixabay)

Menanggapi keputusan Trump yang dicerca dunia tersebut, fisikawan dan kosmolog paling terkenal sejagat, Stephen Hawking, mengatakan bahwa jika manusia tak menahan laju perubahan iklim, maka suhu Bumi bisa mencapai 250 derajat Celcius! Melampaui titik didih 100 derajat Celcius.

Bumi masa depan tanpa upaya manusianya menghentikan pemanasan global, ujar Hawking, bakal nyaris serupa dengan planet tetangganya, Venus --yang lebih dekat dengan Matahari dan memiliki suhu permukaan 462 derajat Celcius.

“Perubahan iklim adalah satu dari sekian banyak bahaya besar yang kita hadapi, dan itu merupakan salah satu yang bisa kita cegah jika kita bertindak dari sekarang,” kata Hawking seperti dikutip dari BBC, Minggu (2/7).

Hawking menyatakan, “Dengan menolak bukti dari perubahan iklim dan keluar dari Perjanjian Iklim Paris, Donald Trump akan menyebabkan kerusakan lingkungan yang tak dapat dihindari pada planet cantik kita, membahayakan alam bagi kita dan anak-anak kita.”

Lebih jauh lagi, Hawking menggambarkan lautan di Bumi akan mendidih dan permukaan Bumi bakal diguyur oleh hujan asam. Itu jika manusia abai dengan planetnya.

Intinya: jangan anggap Bumi abadi; kiamat bisa lebih cepat datang di Bumi bila penghuninya kaum perusak.

Planet bumi. (Foto: Wikimedia Commons)

Kebanyakan ahli iklim menganggap pendapat Hawking yang menyebut Bumi akan mencapai suhu 250 derajat Celcius seperti Venus, adalah berlebihan. Namun, mereka mengatakan tren menuju bencana besar akibat perubahan iklim, memang merupakan sesuatu yang menjadi perhatian nyata saat ini.

“Bumi berjarak lebih jauh dari Matahari ketimbang Venus, dan tak dapat mengalami efek rumah kaca (proses pemanasan permukaan planet) yang sama seperi Venus,” kata Micahel Mann, ilmuwan iklim Pennsylvania State University kepada Live Science, Rabu (5/7).

“Namun begitu, poin yang lebih penting dari pendapat Hawking --bahwa kita dapat membuat sebagian besar Bumi tak layak dihuni manusia jika kita tidak bertindak untuk menghindari bahaya perubahan iklim-- adalah sesuatu yang valid,” ujarnya.

Efek rumah kaca (Foto: Pixabay)

Pemanasan global yang mengubah ritme iklim dunia merupakan akibat efek rumah kaca. Fenomena efek rumah kaca sendiri telah diketahui sejak 1824 ketika Joseph Fourier mengkalkulasi Bumi akan lebih dingin jika tak memiliki atmosfer.

Dari sudut pandang Fourier, efek rumah kaca inilah yang sebenarnya menjaga iklim Bumi agar tetap layak huni. Tanpa efek rumah kaca, rata-rata permukaan Bumi akan bersuhu 15,5 derajat Celsius lebih dingin ketimbang saat itu

Berselang 70 tahun kemudian, pada 1895, ahli kimia Swedia Svante Arrhenius menghitung bagaimana tingkat karbon dioksida di atmosfer dapat mengubah suhu permukaan Bumi melalui efek rumah kaca.

Karbon dioksida ialah salah satu jenis gas penyebab efek rumah kaca selain uap air, metana, nitrogen oksida, ozon, dan lain-lain.

Jadi bisa dibilang, Svante Arrhenius lah yang memulai 100 tahun penelitian iklim yang kini memberikan manusia pemahaman luar biasa tentang pemanasan global akibat fenomena efek rumah kaca.

Sederhananya, tanpa atmosfer, Bumi akan menjadi sangat dingin. Di sisi lain, dengan adanya atmosfer, Bumi akan mengalami efek rumah kaca sehingga semakin panas.

Nah, agar pertambahan panas pada permukaan Bumi tak terjadi secara berlebihan, manusia kemudian mencoba mengatur keberadaan jumlah gas-gas efek rumah kaca, salah satunya melalui Perjanjian Iklim Paris.

Konferensi Perubahan Iklim PBB 2015 di Paris. (Foto: Wikimedia Commons)

Perjanjian Paris yang disepakati Desember 2015 berisi komitmen bersama dunia untuk memerangi perubahan iklim. Sebanyak 195 negara peserta KTT Perubahan Iklim PBB di Paris saat itu telah setuju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secepat mungkin.

Mereka semua, termasuk AS yang ketika itu diwakili Presiden Barack Obama, berkomitmen untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu Bumi pada abad ke-21 ini di bawah 2 derajat Celcius, bahkan berupaya menekan hingga 1,5 derajat Celcius.

Dalam KTT yang berlangsung 30 November-12 Desember 2015 itu, AS ikut sepakat untuk mengurangi emisi gas buang hingga 28 persen pada 2025. Itu sebelum Trump datang dan mengacaukan segalanya.

Komitmen AS atas Perjanjian Paris yang kini dibatalkan Trump, akan memberi dampak signifikan karena AS merupakan penyumbang gas buang terbesar kedua di dunia (14 persen) setelah China (29 persen).

Penggunaan bahan bakar fosil untuk kepentingan industri di AS dan China tersebut ialah penyebab utama meningkatnya jumlah gas buang yang menjadi bagian dari gas penyebab efek rumah kaca.

Dan gas-gas rumah kaca itulah yang menjadi penyebab pemanasan global hingga terjadi fenomena perubahan iklim dunia.

Komitmen bersama untuk menekan kenaikan suhu udara dunia di bawah 2 derajat Celcius hingga 1,5 derajat Celcius bukanlah tanpa alasan.

Peter deMenocal, seorang ilmuwan iklim purba di Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, New York, menjelaskan kenaikan suhu rata-rata di Bumi ialah persoalan besar meski hanya beberapa derajat.

“Seseorang yang tinggal di satu lokasi bisa mengalami perubahan besar pada cuaca dan iklim, tetapi hal itu biasanya terkompensasikan oleh perubahan di belahan Bumi lainnya,” kata deMenocal, dilansir Live Science, Sabtu (29/4).

Angin dan arus laut memindahkan panas di seluruh dunia sehingga dapat mendinginkan beberapa daerah, menghangatkan daerah yang lain, serta mengubah jumlah hujan dan salju yang turun. Oleh sebab itu para ilmuwan lebih sering menggunakan istilah “perubahan iklim” ketimbang “pemanasan global”.

Meski begitu, perubahan iklim yang terjadi secara berbeda di dunia berakar dari satu sebab serupa: peningkatan suhu rata-rata Bumi.

Kenaikan Suhu Bumi

Pemanasan global (Foto: Pixabay)

Peter deMenocal menuturkan, suhu Bumi saat ini 1,2 derajat Celcius lebih panas dibanding sebelum masa industrialisasi atau Revolusi Industri pada tahun 1750 atau 267 tahun lalu.

Sebagai perbandingan, sejak zaman es 15.000 tahun yang lalu, perubahan suhu Bumi hanya 5 derajat Celcius. Perubahan 5 derajat itu menyebabkan permukaan air laut naik 106 meter dan membuat permukaan es di Bumi berkurang dari 32 persen menjadi hanya 10 persen saat ini.

Tak hanya soal kenaikan suhu Bumi dan tinggi permukaan air laut, perubahan iklim juga mengancam ketersediaan makanan, tempat tinggal, energi, dan kesehatan.

Kelangkaan Sumber Makanan

Ilustrasi perubahan iklim. (Foto: Pixabay)

Ketahanan pangan dunia terancam, salah satunya karena lautan yang menyediakan 20 persen makanan untuk manusia menjadi lebih asam akibat meningkatnya karbon dioksida yang terserap.

Hal tersebut membuat ribuan spesies seperti tiram, kepiting, dan terumbu kesulitan untuk membuat cangkang pelindung, dan itu pada akhirnya akan menganggu sistem jaring-jaring makanan.

Sementara kenaikan dua derajat Celcius pada daratan, seperti dilansir NASA dalam situsnya, 29 Juni 2016, dapat melipatgandakan kekeringan air dan menurunkan hasil panen para petani.

Temperatur yang terlalu panas dapat menghambat pertumbuhan tanaman seperti jagung, gandum, dan tanaman biji-bijian lainnya sehingga menyebabkan kelangkaan makanan atau setidaknya kenaikan harga-harga pangan karena pasokan yang berkurang.

Kehilangan Tempat Tinggal

Ilustrasi Perubahan Iklim (Foto: Pixabay)

Peter deMenocal menyebut sebanyak 40 persen populasi dunia hidup pada jarak 100 kilometer dari laut. Padahal dengan meningkatnya temperatur dunia, permukaan air laut jadi naik akibat es yang meleleh.

Kenaikan permukaan air laut ini dapat menghancurkan kota dan tempat tinggal manusia, terutama yang berada di dataran rendah dekat laut.

Sumber Energi Berkurang

Ilustrasi perubahan iklim. (Foto: Pixabay)

Perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim dapat memengaruhi tenaga air untuk pembangkit listrik. Menurut Departemen Energi AS, sekitar 7 persen sumber listrik di AS berasal dari pembangkit listrik tenaga air, yang juga merupakan 52 persen sumber energi terbarukan nasional Negeri Paman Sam tersebut.

Bukan cuma sumber dan ketahanan energi di AS yang terancam, tapi juga di Eropa dan tentu saja seluruh dunia --di manapun negara yang menggunakan energi pembangkit listrik bertenaga air (hydropower).

Ancaman Kesehatan

Ilustrasi wabah. (Foto: mn.cis.iwate-u.ac.jp)

Peningkatan temperatur dan perubahan pola hujan berkaitan dengan penyebaran penyakit menular oleh vektor hewan seperti penyakit lyme oleh kutu dan malaria oleh nyamuk.

“Bahkan, ketika penyakit menular akibat vektor tersebut berhasil dihilangkan dari suatu area, perubahan cuaca akibat perubahan iklim dapat membuatnya bermigrasi ke area lain,” kata deMenocal.

Tak cuma itu, beberapa area di dunia, misalnya sebagian kawasan Timur Tengah dan Amerika Barat, di masa depan tak bisa lagi ditinggali manusia karena suhu udara yang ekstrem.

Kondisi tak layak huni ini disebabkan oleh kelembapan yang tinggi seiring tingginya juga suhu udara. Tingginya ukuran kedua sifat udara tersebut dapat membuat keringat manusia tak bisa menguap untuk mendinginkan tubuh.

“Jika keringatmu tak dapat menguap, kamu dapat mati akibat paparan panas itu,” ujar deMenocal.

Semua ancaman di atas dapat terjadi seiring perubahan iklim dunia yang kini nyata dirasakan dengan kenaikan suhu rata-rata Bumi.

Suhu Bumi diprediksi akan naik melebihi 2 derajat Celcius antara tahun 2050 dan 2100, atau pada akhir abad ke-21 ini.

Apakah semua itu, bagi Trump, sekadar hoaks?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: