Peneliti Pelajari Otak Simpatisan Al Qaeda, Ini Hasilnya

Sekelompok peneliti mempelajari otak sejumlah simpatisan kelompok Islam radikal Al Qaeda. Tujuannya untuk mengetahui apa yang terjadi di otak para simpatisan itu ketika mereka ditanya mengenai nilai sakral yang mereka anut serta keinginan mereka untuk mati atas nilai tersebut.
Hasil penelitian mengenai hal ini telah dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science pada 12 Juni 2019. Dalam riset ini, para peneliti merekrut simpatisan dari kelompok Lashkar-et Taiba yang berafiliasi dengan Al Qaeda.
Pada 2008, kelompok ini melakukan serangan di Mumbai, India. Pemerintah AS, Rusia, dan Uni Eropa mencap kelompok ini sebagai organisasi teroris.
Para simpatisan dari kelompok itu dipilih setelah proses seleksi panjang yang berjalan selama dua tahun.
Salah satu peneliti dalam riset, Scott Atran, telah lama menginvestigasi alasan di balik "keinginan untuk berjuang" orang-orang dalam kelompok tersebut. Atran mengatakan bahwa pada 2016 Presiden Barack Obama menyebut salah satu kesalahan yang dibuat AS dalam perang di Irak adalah mereka meremehkan "keinginan untuk berjuang" para ekstremis militan di negara timur tengah tersebut.
Menurut Atran, kenapa dan sampai sejauh mana orang akan berjuang demi suatu hal dapat dikaitkan dengan tingkat nilai sakral yang mereka anut.
Sebelumnya, telah ada riset yang menemukan bahwa orang yang menganut nilai sakral cenderung lebih ingin berjuang dan mati demi nilai yang mereka anut. Tapi, riset juga menemukan bahwa tekanan sosial bisa menurunkan keinginan itu.
Meski begitu, Atran menambahkan bahwa mempelajari motivasi sosial sangatlah sulit. Para responden riset bisa menunjukkan sikap posturing atau menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan sikap asli dan merusak hasil penelitian.
"Riset penggambaran saraf dilakukan untuk menghindari posturing. Seseorang tidak akan bisa secara sadar mengontrol proses otaknya," ujar Atran.
"Riset ini juga menunjukkan bahwa keinginan untuk mengorbankan diri demi nilai sakral benar-benar berakar sangat dalam karena itu masuk ke dalam kognisi manusia dan proses otaknya," lanjut dia, seperti dilansir Newsweek.
Riset ini didukung oleh organisasi riset Artis International. Dalam riset ini para peneliti membuat agar orang-orang yang telah teradikalisasi, mau menjalani pemindaian otak secara sukarela dengan mesin fMRI.
Di dalam mesin, para responden mendapat pertanyaan mengenai keinginan mereka untuk berjuang dan mati demi nilai sakral yang mereka anut. Mereka juga ditanya apakah rela melakukan hal yang sama demi nilai-nilai yang mereka anggap tidak sakral.
Hasilnya adalah, ketika para responden menjawab pertanyaan pertama, para peneliti menemukan adanya aktivitas yang lebih rendah di area otak yang berhubungan dengan kontrol kognitif. Para periset juga menemukan bahwa ketika para peserta riset diberitahu bahwa rekan-rekannya memiliki keinginan yang lebih rendah untuk berjuang dan mati, rasa ingin berjuang pada diri mereka sendiri juga ikut menurun.
"Selama mempelajari kelompok radikal di seluruh dunia saya menemukan bahwa nyaris semua orang bisa menjadi radikal dalam situasi ideasional dan sosial yang tepat," jelas Atran.
"Orang-orang yang bergabung dengan kelompok-kelompok radikal kebanyakan adalah pemuda yang sedang mengalami fase transisi dalam hidupnya, seperti pelajar, imigran, sedang mencari kerja atau pasangan, baru meninggalkan keluarga lalu sedang mencari signifikansi dalam hidupnya serta tempat di keluarga barunya," imbuh Atran.
Ia menyimpulkan, salah satu prediktor terbaik atas siapa dan bagaimana orang bergabung ke suatu kelompok radikal bisa dilihat dari tempat tinggal serta teman-temannya.
