Kumparan Logo

Trotoar Dekat MRT Lebak Bulus Bau Pesing, Apa Efeknya ke Kesehatan?

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Menutup Hidung Melewati Trotoar di Stasiun MRT Lebak Bulus yang Bau Pesing yang Menyengat. Foto: Andesta Herli Wijaya/ kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Warga Menutup Hidung Melewati Trotoar di Stasiun MRT Lebak Bulus yang Bau Pesing yang Menyengat. Foto: Andesta Herli Wijaya/ kumparan.

Bau pesing menyeruak dari trotoar di dekat Stasiun MRT Lebak Bulus. Mega (21), salah satu pejalan kaki, mengeluhkan adanya bau pesing itu saat dirinya melewati trotoar menuju Stasiun MRT Lebak Bulus tersebut.

“Bau sekali. Kok bisa bau kencing, ya, padahal ini tempat orang jalan. Kan mengganggu orang,” ujar Mega.

Bukan hanya Mega, bau pesing yang menyeruak di sekitar trotoar MRT Lebak Bulus juga diakui petugas loket armada bus Damri. Menurutnya, bau tersebut bukanlah ulah sopir bus Damri, melainkan para sopir angkot. “Kalau orang bus mah enggak ada (kencing di dekat trotoar). Mereka biasanya ada botol, kencing di sana,” ungkap petugas yang enggan disebutkan namanya.

Lantas, selain bisa mengganggu, apakah bau pesing dari bekas air kencing atau urine dapat memiliki efek buruk terhadap kesehatan manusia?

Agus Haryono, peneliti kimia sekaligus Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menjelaskan bahwa urine manusia mengandung beberapa zat kimia. Secara umum, urine terdiri dari air, garam, dan bahan kimia yang disebut urea dan amonia. Urea dan amonia ini adalah hasil dari metabolisme tubuh dari asam amonia dan protein yang dikonsumsi manusia.

Warga Menutup Hidung Melewati Trotoar di Stasiun MRT Lebak Bulus yang Bau Pesing yang Menyengat. Foto: Andesta Herli Wijaya/ kumparan.

“Jadi, zat yang terkandung dari urin manusia itu adalah urea dan sedikit amonia. Amonia ini yang menyebabkan bau pesing,” ujar Agus, saat dihubungi kumparanSAINS, Kamis (15/8).

Menurut Agus, ada beberapa dampak kesehatan yang bisa ditimbulkan dari bau pesing urine, kendati dampak tersebut tergolong tidak terlalu berbahaya. Beberapa dampak yang bisa ditimbulkan adalah pusing, sakit kepala, hingga kehilangan nafsu makan.

“Amonia dapat menyebabkan pusing kepala dan menurunkan nafsu makan, jika konsentrasi amonia melebihi 40 ppm. Tapi umumnya konsentrasi setinggi ini ada di lingkungan industri yang menggunakan amonia sebagai bahan baku industri. Sedangkan amonia dalam urine manusia umumnya hanya ada dalam konsentrasi rendah, dan tidak terlalu berpengaruh pada kesehatan,” ujar Agus.

Warga Melewati Trotoar di Stasiun MRT Lebak Bulus yang Bau Pesing yang Menyengat. Foto: Andesta Herli Wijaya/ kumparan.

Lebih lanjut, Agus mengatakan, berada di lokasi yang memiliki tingkat konsentrasi amonia melebihi 25 ppm selama lebih dari 5 jam, bisa menyebabkan gangguan sakit kepala.

Selain itu, bau pesing juga bisa memengaruhi pengidap asma. “Secara umum, penyakit asma bisa kambuh oleh penyebab yang sifatnya personal. Ada yang disebabkan oleh dingin, debu, bau, dan lain-lain. Tapi ini tergantung orangnya,” papar Agus.

Bagaimanapun, kata Agus, daerah yang tidak higienis bisa menjadi sumber penyebaran penyakit, begitu juga dengan trotoar di sekitar MRT Lebak Bulus yang dicemari urine manusia.

Maka dari itu, ia menyarankan agar masyarakat selalu menjaga kesehatan dan sadar akan kebersihan lingkungan, salah satunya tidak membuang air kencing sembarangan. Sebab, selain mengganggu estetika, lokasi tersebut bisa menjadi sarang penyakit.

embed from external kumparan