Hendra Setiawan: Saya Ingin Anak-anak Melihat Ayahnya sebagai Juara

Setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (27/8/2019) lalu, Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan disambut bak pahlawan. Tak berlebihan, mereka pulang ke Tanah Air dengan status juara dunia 2019.
Ahsan/Hendra merebut medali emas pada sektor ganda putra di Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2019 usai mengalahkan wakil Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Ini menjadi gelar juara dunia ketiga dalam kabinet trofi duo beralias The Daddies itu.
Dari sekian banyak yang hadir menyambut di pintu kedatangan terminal 3, Ahsan/Hendra melangkahkan kaki mereka kepada lima orang bocah yang menunjukkan wajah semringah lantaran pahlawan olahraga itu merupakan ayah mereka.
Ya, bocah-bocah itu bernama Russell, Richele, Richard Setiawan yang merupakan anak dari Hendra. Kemudian ada juga Maritza Chayra dan King Arsakha Ahsan, buah hati Ahsan.
Satu fragmen di tempat penyambutan saat itu menunjukkan betapa besar andil keluarga dalam keberhasilan Ahsan/Hendra mencatatkan prestasi. Sebuah aspek yang juga disebut pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi, sebagai faktor lain mengapa Ahsan/Hendra bisa konsisten.
Ada rasa tanggung jawab yang kian terpupuk sebagai ayah, begitu kata Herry. Hendra mengamini. Bagi pemain berusia 35 tahun itu, keinginan menunjukkan kepada buah hati bahwa ayahnya seorang jawara kerap memberi dorongan morel di atas lapangan.
"Mungkin ada juga (pengaruh sebagai Ayah), karena sebagai orang tua, penginnya anak saya melihat papanya menjadi juara. Pola pikir seperti itu dibawa ke setiap pertandingan," kata Hendra seusai menerima bonus dari PB Jaya Raya, Selasa (3/9/2019).
Tentu saja ada faktor lain yang bikin Ahsan/Hendra masih kompetitif dengan pasangan lain yang berusia lebih muda. Fokus, mentalitas, menjaga fisik adalah salah tiga lain dari kunci kesuksesan itu.
Terdekat, Ahsan/Hendra dijadwalkan turun di China Terbuka 2019, 17-22 September. Ketika ditanya soal target, Hendra menjawab sembari berkelakar seperti biasanya: Minimal mencapai semifinal, syukur-syukur final.
"Jadi memang ada target dari diri sendiri dulu. Penginnya masuk semifinal, makanya harus all out sampai semifinal dulu," ujarnya.
Kenapa tidak target final? "Realistis saja, saya sudah usia 35 tahun," timpalnya.
Tapi, usia 35 tahun kemarin bisa jadi juara dunia? "Sama saja, semifinal saja dulu," kelakar Hendra yang tentu saja disusul gelak tawa para pewarta.
