Facebook Diminta Jual WhatsApp dan Instagram, Apa Kata Zuckerberg?

23 September 2019 13:31 WIB
comment
19
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Logo Facebook di Facebook Cafe yang nebeng selama 3 hari di Filosofi Kopi, Melawai. Foto: Aulia Rahman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Logo Facebook di Facebook Cafe yang nebeng selama 3 hari di Filosofi Kopi, Melawai. Foto: Aulia Rahman/kumparan
ADVERTISEMENT
Pendiri perusahaan Facebook, Mark Zuckerberg, melakukan pertemuan dengan presiden AS Donald Trump dan sejumlah anggota parlemen AS pada Kamis (19/9) lalu. Pertemuan tersebut terkait langkah Facebook menyelesaikan masalah regulasi yang berpusat pada kompetisi pasar, privasi, sensor, dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Salah satu anggota parlemen AS dari Partai Republik, Josh Hawley, berbagi isi pembicaraan saat Zuckerberg bertemu dengan parlemen. Selain itu, ia juga menantang bos perusahaan raksasa itu untuk menjual WhatsApp dan Instagram.
Selain itu, Hawley memberikan usul lain kepada Facebook agar perusahaan itu lebih kredibel mengatasi sensor konten, dengan menyerahkan auditnya kepada pihak ketiga yang independen.
"Baru saja melangsungkan pertemuan dengan CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Kami berdiskusi jujur. Saya menantangnya untuk melakukan dua hal untuk menunjukkan Facebook serius menangani bias, privasi dan kompetisi. Pertama, menjual WhatsApp dan Instagram. Kedua, memberi wewenang sensor kepada auditor pihak ketiga yang independen. Dia mengatakan tidak untuk keduanya," sebutnya di Twitter.
Mark Zuckerberg tentu saja menolak tanpa ragu usulan tersebut. Setelah pertemuan selesai, Zuckerberg bergegas pergi tanpa menghiraukan pertanyaan awak media dan fotografer yang mengadangnya di jalan keluar.
ADVERTISEMENT
“Perusahaan itu banyak berbicara. Saya bisa saja percaya kalau ada aksinya,” kata Hawley lebih lanjut mengomentari Facebook.
Facebook dianggap monopolistik karena kepemilikan dua produk yang memiliki basis pengguna sangat besar, WhatsApp dan Instagram. Tak sedikit pihak yang menginginkan raksasa teknologi itu untuk dipecah. Terlebih lagi gara-gara kasus skandal privasi data pengguna selama beberapa tahun terakhir.
Perusahaan juga masih dipertanyakan terkait keseimbangan antara kepentingan pasar perusahaan dengan orang-orang dari audiens yang luas.
Seseorang memotret logo Instagram. Foto: Charles Platiau/Reuters
Hingga saat ini, badan antimonopoli AS sedang menjajaki tindakan anti-persaingan yang berpotensi dilakukan oleh Facebook. Anggota parlemen saat ini bekerja pada undang-undang privasi komprehensif.
Undang-undang tersebut diharapkan bisa memperkecil monopoli pasar oleh perusahaan seperti Facebook, Google, Amazon, dan Apple, serta mencegah mereka memperoleh keuntungan dari data pribadi pengguna.
ADVERTISEMENT