kumparan
15 Mar 2019 16:12 WIB

Kominfo Minta Medsos Hapus Video Penembakan Jemaah Masjid Christchurch

Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru. Foto: Facebook/@dudi.susanto.7
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) selaku regulator konten Internet, mengeluarkan arahan kepada pengelola platform media sosial di Indonesia untuk menghapus konten video penembakan jemaah Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood Ave di Kota Christchurch, Selandia Baru, yang terjadi pada Jumat (15/3).
ADVERTISEMENT
Kominfo juga mengimbau kepada publik untuk tidak membagikan ulang video penembakan tersebut.
"Imbauan kepada masyarakat Indonesia untuk tidak menyebarkan video tersebut. Imbauan kepada platform untuk men-take down content tersebut," kata Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kominfo.
Konten video yang mengandung aksi kekerasan, disebutnya, merupakan konten yang melanggar Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kominfo sendiri terus melakukan pemantauan dan pencarian situs dan akun yang terdeteksi mempublikasi konten penembakan di Chirstchurch, dengan menggunakan mesin AIS setiap dua jam sekali.
Sejumlah platform media sosial besar seperti Facebook, Twitter, dan YouTube, bertindak cepat mengawasi keberadaan konten tersebut dan menghapusnya. Facebook juga menghapus komentar dukungan terhadap pelaku.
ADVERTISEMENT
Konten video yang beredar itu berasal dari rekaman yang diunggah secara live streaming di Facebook oleh salah satu pelaku.
Polisi telah menangkap empat orang yang teridentifikasi sebagai penyerang. Tiga orang pria, satu wanita. Pelaku melakukan penyerangan ketika waktu salat Jumat di Christchurch.
Salah satu pelaku adalah Brenton Tarrant, pria 28 tahun berdarah Australia yang mengaku fanatik supremasi kulit putih. Tarrant kerap mempublikasi status di media sosial yang menyatakan dirinya seorang fasis dan pendukung Oswald Mosley, politisi Inggris pendiri Serikat Fasis Inggris pada 1930-an.
Tangkapan layar dari video yang menunjukkan wajah salah satu tersangka yang bertanggung jawab atas serangan di salah satu masjid, di Christchurch, Selandia Baru. Foto: Reuters
Dia juga pernah mempublikasi tulisan dengan judul: "Anti-imigran, anti-Muslim". Di sini dia menjelaskan sudah merencanakan penembakan sejak dua tahun lalu. Ia juga menulis tentang keluarga dan dirinya yang tidak tertarik dengan dunia pendidikan, tidak pernah mendapat nilai bagus, dan pernah berinvestasi mata uang virtual di BitConnect yang hasilnya dipakai untuk jalan-jalan.
ADVERTISEMENT
“Saya hanyalah seorang kulit putih biasa dengan umur 28 tahun. Saya lahir di Australia dari keluarga dengan penghasilan menengah. Orang tua saya keturunan Skotlandia, Irlandia, dan Inggris. Tidak ada masalah dalam masa kecil saya.”
Hingga berita ini ditayangkan, dilaporkan ada 49 orang yang menjadi korban dari penembakan sadis di Christchurch. Sekitar 48 orang dilaporkan terluka dalam peristiwa itu.
Video
Pada saat penembakan berlangsung, diketahui ada 6 orang WNI di lokasi kejadian, 3 di antaranya berhasil menyelamatkan diri sementara 3 lainnya masih belum dapat terkonfirmasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir, mengkonfirmasi ada dua WNI yang terkena tembak di lokasi. Keduanya adalah ayah dan anak. Sang ayah tengah dirawat di ICU dan anaknya di ruangan biasa. Belum diketahui usia dan identitas kedua korban tersebut. Korban, kata Arrmanatha, belum lama bekerja di kota itu.
ADVERTISEMENT
"Baru saja masuk informasi terdapat dua WNI yang terkena tembak di masjid tersebut, ayah dan anak," katanya.
Dengan informasi dua WNI ayah-anak yang terluka, berarti tinggal 1 WNI lagi yang belum ada kabarnya.
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan pada konferensi pers bahwa penembakan ini merupakan "salah satu hari paling gelap di Selandia Baru." Dia juga bilang ini adalah "aksi teroris."
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan