• 3

Cerita Gran Adventure, Backpacker yang Keliling Asia Bersama Neneknya

Cerita Gran Adventure, Backpacker yang Keliling Asia Bersama Neneknya


Gran Adventure

Gran Adventure (Foto: Instagram/thegranadventure)
Traveling bersama teman atau pasangan pasti terasa sangat menyenangkan, tapi bagaimana apabila bepergian dengan nenek? Membayangkannya saja mungkin terasa agak tak biasa.
Bayangkan saja, meski punya semangat yang sama, dari segi stamina nenek pasti tidak sekuat kamu yang masih muda.
Wajar saja ketika ingin traveling, kamu akan lebih memilih untuk mencari teman yang sebaya, sehingga lebih mudah untuk menyesuaikan pace traveling atau memilih tempat wisata yang akan dituju.

The Gran Adventure

The Gran Adventure (Foto: Instagram @thegranadventure )
Namun, berbeda dengan Nathanel Creson. Pria asal Swedia ini justru membuat perjalanan keliling Asianya terasa anti-mainstream dan istimewa, karena ia turut serta membawa sang nenek, Edna Nahari (74), sebagai travel mate-nya.
Selama empat bulan, Nathanel dan Safta (panggilan nenek dalam bahasa Ibrani) menghabiskan waktu mereka menyambangi China, Korea Selatan, Jepang, Filipina, Taiwan, dan Sri Lanka.

The Gran Adventure

The Gran Adventure (Foto: Instagram @thegranadventure )
Berbagai pengalaman mereka lewati bersama. Mulai dari mendaki pegunungan yang curam, menginap di hostel bersama, berkuda, mengunjungi tembok besar China, hingga berkunjung ke cat cafe di Tokyo telah mereka lewati.
Safta adalah nenek dari keluarga ibu Nathanael. Ia merupakan keturunan Yaman-Israel dan nenek terakhir di keluarga mereka. Nathanel merupakan cucu kedua dari 24 orang cucu yang dimiliki Safta.
Menurut penuturan Nathanel, ia dan Safta memiliki hubungan yang sangat dekat, serta memiliki banyak kesamaan dengan dirinya.
"Kami sudah sangat dekat sejak aku masih bayi. Aku selalu bilang bahwa Safta dan aku seperti berbagi jiwa yang sama," tutur pria 26 tahun itu ketika dihubungi kumparanTRAVEL lewat email beberapa waktu lalu.
Backpacking keliling Asia ini bukanlah perjalanan pertama Nathanel. Ia mengatakan bahwa sebelumnya dirinya telah sering melakukan traveling. Namun untuk saat ini, ia ingin sesuatu yang lebih istimewa, yang bukan hanya sekadar melihat dunia.
"Aku bertanya apa beliau ingin ikut backpacker bersama, dan untungnya beliau menjawab 'iya'. Dan setelahnya, ide tersebut berubah jadi kenyataan," katanya.

The Gran Adventure

The Gran Adventure (Foto: Instagram @thegranadventure )
Untuk perjalanan bersama Safta, Nathanel memutuskan melakukan backpacking bersama. Dengan cara ini, ia ingin memberikan Safta pengalaman traveling yang berbeda. Dan ternyata perjalanannya kali ini membuat Safta merasa semakin 'hidup'.
"Beberapa waktu lalu beliau berkata bahwa traveling kali ini membuat hidupnya semakin kaya serta membukakan banyak 'pintu' untuknya," ujar pria campuran Swedia dan Israel ini.
"Aku tahu bahwa ini akan menjadi sebuah petualangan dalam kehidupannya. Meskipun dari satu sisi, kami merasakan ada kesedihan, karena antara aku atau dia mungkin saja tidak akan memiliki kesempatan seperti ini lagi," tambahnya.

The Gran Adventure

The Gran Adventure (Foto: Instagram @thegranadventure )
Asia menjadi benua yang mereka pilih, karena Safta memiliki kecintaan tersendiri pada benua tersebut. Sedangkan Nathanel memilih Asia, karena ia merasa ada hal yang 'ajaib' dari benua ini.
"Sebelumnya aku pernah jalan-jalan ke Kamboja, Vietnam, dan Jepang. Dan yang aku lihat, penduduk di tempat tersebut sangat ramah terhadap orang-orang asing. Alamnya ajaib dan makanannya pun luar biasa. Ke mana pun kamu pergi, kamu akan diperlakukan dengan baik," ceritanya.

The Gran Adventure

The Gran Adventure (Foto: Instagram @thegranadventure )
Melalui perjalanannya dengan Safta, Nathanel berharap orang-orang dapat terinspirasi dengan kisah mereka. Setiap bukti perjalanan diabadikan oleh Nathanel lewat postingan Facebook dan Instagram mereka.
"Kami berharap dengan adanya The Gran Adventure, kami bisa mempersempit jarak antar generasi," harapnya.
Selain keenam negara di atas, ternyata Nathanel dan Safta juga ingin berkunjung ke Indonesia.
Sayangnya, kebijakan paspor di Indonesia yang melarang masuknya penduduk asing berpaspor Israel mengurungkan niat tersebut.
"Karena Safta punya paspor Israel jadi ia tidak dapat datang berkunjung ke Indonesia. Tapi ke depannya tidak ada yang tahu, siapa tahu banyak penduduk Indonesia yang senang dengan cerita kami dan kemudian kami dapat kesempatan diundang untuk berkunjung," tutupnya sambil bercanda.

TravelLiburanInspirasiTravel BloggerGran Adventure

presentation
500

Baca Lainnya