kumparan
8 Mei 2018 7:25 WIB

Menikmati Kicauan Burung di Tengah Kesejukan Hutan Mangrove, Jakarta

Taman Wisata Alam Angke Kapuk (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Terik sinar matahari rupanya tak cukup menghalangi niat wisatawan untuk plesiran ke Hutan Mangrove Angke Kapuk. Senin (7/5) itu, kumparanTRAVEL menyempatkan diri untuk mampir ke ekowisata seluas 99,82 hektare itu. Kami mengira tempat itu akan sangat sepi. Namun ternyata salah.
ADVERTISEMENT
Bahkan ketika matahari tepat berada di atas kepala, Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, Jakarta Utara, tidak kehilangan penggemarnya. kumparanTRAVEL kerap berpapasan dengan pengunjung yang asyik mengambil foto atau sekadar duduk santai di antara mangrove yang tumbuh rapat. Kicauan burung menemani mereka.
Turis di Taman Wisata Alam Angke Kapuk (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Menurut Gerry Legiana, pemandu sekaligus pengawas TWA Angke Kapuk, pengunjung pada hari biasa mencapai 100-200 orang. Pada akhir pekan bisa melonjak hingga 2000 orang. Pada acara tertentu seperti perayaan tahun baru, hutan bakau itu bisa menarik 9000 orang wisatawan.
“Hari biasa gini biasanya lebih ramai kalau ada rombongan sekolah, korporat, atau mahasiswa yang mau penelitian,” kata Gerry saat ditemui kumparanTRAVEL.
Kantin Taman Wisata Alam Angke Kapuk (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Suasana TWA Angke Kapuk memang cocok bagi warga Jakarta yang ingin kabur sejenak dari padatnya kota metropolitan. Polusi asap kendaraan bermotor dan suara klakson yang memekak telinga bagai terlupakan di sana. Yang ada hanya angin semilir, kicauan burung gereja, dan kecipak ikan yang hidup di antara akar-akar mangrove.
Wisata air di di Hutan Mangrove Angke Kapuk (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Salah satu tujuan pengunjung adalah berburu foto ciamik bernuansa back to nature. Itulah yang dilakukan Yani Fitrina (27) dan Tina Kristi (27) asal Cileduk. Mereka berdua sengaja mengambil cuti kerja untuk ‘kabur’ ke TWA Angke Kapuk.
ADVERTISEMENT
“Saya lihat foto teman-teman di Instagram kayaknya cantik banget. Tapi lagi panas banget, ya. Jadi enggak terlalu menikmati,” tutur Yani yang terus memakai payungnya.
Komentar Yani ada benarnya. Waktu terbaik untuk mengunjungi Hutan Mangrove Angke Kapuk adalah sore hari. Siapkan sunblock atau payung jika terpaksa harus berpanas-panasan.
Jembatan Pengamat Burung (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Selain berfoto, pengunjung bisa menikmati banyak fasilitas yang disediakan pengelola TWA Angke Kapuk. Ada taman bermain anak, kantin lesehan, jembatan pengamat burung, jembatan gantung, pondok kemah, vila, hingga pendopo untuk pertemuan.
Berbeda dengan Ekowisata Mangrove Jakarta Utara yang dikelola pemerintah provinsi DKI Jakarta, di TWA Angke Kapuk dilarang memancing. Ikan-ikan dibiarkan berkembangbiak secara alami di sana.
Barisan Pondok Kemah (Foto: Shika Arimasen Michi/kumparan)
Kamu juga hanya boleh memotret dengan kamera handphone. Jika ingin foto dengan model atau foto prewedding, pengunjung boleh membawa kamera tambahan dengan biaya Rp 1,5 juta.
ADVERTISEMENT
Tiket masuk Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk dipatok Rp 25 ribu pada hari biasa dan Rp 30 ribu untuk akhir pekan atau hari libur.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·