Pencarian populer

Menikmati Surga Nusa Penida dengan 'Perut Terkocok'

Manta Point, Nusa Penida. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Deru mesin speed boat memecah ombak laut. Semilir angin menerpa wajah kami. Hamparan laut biru yang bagai tak berujung terlihat seperti karpet raksasa yang terus bergejolak. Itulah yang dirasakan kumparanTRAVEL saat menuju Manta Point, Nusa Penida dari Pantai Tamarin, Nusa Lembongan, Bali.

Kami berangkat saat matahari sudah agak tinggi. Sekitar pukul 09.30 WITA. Padahal dive master sudah memperingatkan akan lebih baik jika berangkat pagi karena gelombang sedang agak besar. Snorkeling akan lebih nyaman katanya.

Tamarind Beach, Nusa Lembongan. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Ya, Rabu lalu (21/03) kumparanTRAVEL berencana snorkeling di Manta Point, Nusa Penida bersama Coral Triangle Center (CTC), organisasi konservasi laut regional yang berpusat di Bali. Manta Point terkenal sebagai lokasi diving favorit, karena penyelam sering melihat penampakan Ikan Pari Manta. Baru-baru ini Manta Point juga kerap dibicarakan karena isu arus musiman sampah plastik yang viral.

Namun, tak ada sampah plastik yang mengganggu di sepanjang perjalanan hingga kumparanTRAVEL sampai di Manta Point. Yang menganggu adalah gelombang lautnya! Saking besarnya tinggi gelombang, speed boat seperti melompat-lompat dari gelombang satu ke lainnya. Sungguh memacu andrenalin dan mengocok perut.

Perjalanan menuju Manta Point (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

“Ya begini kalau sudah lewat jam 9. Makanya harusnya kita berangkat lebih pagi. Biasanya boat sudah sampai di Manta Point sejak jam 8,” jelas Dewa Kadek Wira Sanjaya, Project Leader Learning Site Nusa Penida CTC.

Padahal sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan surgawi. Barisan tebing yang ditumbuhi vegetasi hijau di atasnya bagaikan menyambut kami. Di bawah tebing, tampak gua-gua yang terbentuk oleh ombak laut beratus-ratus tahun.

Dari Pulau Nusa Lembongan ke Nusa Penida, kami melewati Dream Beach, Devil Tears, dan Batu Donat. Sungguh pemandangan yang memanjakan. Namun, cairan yang naik ke kerongkongan sudah tak tertahan lagi. Perut mual tak karuan mengganggu kekhusyukan kami menikmati panorama ciptaan Sang Pencipta.

Menuju lokasi terumbu karang di Mangrove Point (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

“Coba berdiri sambil lihat ke pulau,” ujar I Gede Sukayadnya, dive master yang mendampingi kumparanTRAVEL.

Itulah saran Bli Gede, panggilannya, untuk mengurangi efek mabuk laut yang menyerang kami. Melihat jauh ke tebing-tebing ia yakini bisa mengalihkan rasa mual. Kami menurut.

Ia juga menyarankan kami untuk mencebur ke laut dan berpegangan pada tali kapal. Katanya mengikuti gelombang alami akan mengurangi mabuk laut daripada mengikuti gejolak kapal. Kami juga menurut. Namun, gelombang laut kali ini memang terlalu garang.

“Gelombang laut makin kuat karena menjelang full moon. Jadi gravitasinya makin kuat. Sebenarnya waktu terbaik untuk snorkeling dan diving adalah 5 hari setelah full moon,” papar Sanjaya.

Dewa Kadek Wira Sanjaya. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Ternyata Manta Point tidak bisa dinikmati hanya dengan snorkeling. Lautnya terlalu dalam. Kami harus diving untuk melihat Pari Manta dan harus memiliki lisensi. Kami akhirnya berganti lokasi, yakni Mangrove Point.

Mangrove Point adalah lokasi snorkeling favorit yang terletak dekat Desa Lembongan. Lautnya dangkal, kamu bahkan bisa melihat bayang-bayang terumbu karang dari atas kapal. Tak peduli perut yang masih mual, kami memasang snorkel mask dan fin, lalu segera mencebur.

Kondisi terumbu karang di Mangrove Point, Bali (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

Begitu menengok ke dasar laut, rasa mual kami langsung teralihkan. Kecantikan terumbu karang dan ikan warna-warni mengundang untuk berlama-lama di air. Kebanyakan terumbu karang berwarna mencolok, pertanda mereka tergolong sehat. Tapi, ada pula yang pucat.

KumparanTRAVEL bahkan sempat mengadopsi Acropora florida alias karang batang. Adopsi karang adalah salah satu program CTC untuk wisatawan. Karang yang sudah patah diberi tag nama pengadopsi untuk kemudian ditanam lagi.

Terumbu karang yang di adopsi oleh kumparan (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

“Tiap bulan kami akan kirim foto monitoring karang itu pada pengadopsi. Ini adalah satu bentuk rehabilitasi,” pungkas Sanjaya.

Entah sudah berapa kali kami memuntahkan isi perut karena gelombang laut yang kuat. Bagaimanapun, rasa menganggu itu cukup terbayar dengan pemandangan cantik Nusa Penida. Kecamatan Nusa Penida termasuk tiga pulau, yakni Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan.

Batu Bolong, Nusa Penida. (Foto: Intan Alfitry Novian/kumparan)

“Pokoknya jika ingin snorkeling dan diving dengan nyaman, lebih baik jangan di bulan Januari hingga Maret dan pertengahan Agustus. Gelombang lautnya kuat,” tutup Sanjaya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.35