Pencarian populer

Per Oktober 2019, Turis Akan Dilarang Daki Batu Uluru, Australia

Ilustrasi berkemah di Uluru-Kata Tjuta National Park Foto: Shutter Stock
Tingginya jumlah turis yang berkunjung di suatu daerah rupanya tak selamanya berdampak baik. Setelah muncul wacana Amsterdam menutup kawasan red light district pada 2020 mendatang akibat overtourism, kini Uluru-Kata Tjuta National Park di Australia melakukan penutupan permanen bagi turis yang hendak mendaki.
ADVERTISEMENT
Dilansir ABC, penutupan pendakian Gunung Batu Uluru atau yang dikenal pula sebagai Ayers Rock dilakukan, karena pihak berwenang mendapati kawasan taman nasional ini mulai dipenuhi sampah. Sampah-sampah tersebut berasal dari wisatawan yang berkemah secara ilegal, menyalakan api, dan membuang sampah sembarangan.
Uluru-Kata Tjuta National Park. Foto: Flickr/Cesar8150
Stephen Schewer, kepala eksekutif Tourism Central Australia mengatakan, bahwa turis harusnya mampu merencanakan perjalanan sebelum melakukan keberangkatan. Apalagi karena berkemah secara ilegal di Uluru-Kata Tjuta National Park dianggap sebagai pelanggaran tingkat tinggi.
"Turis berpikir bahwa mereka bisa saja traveling secara gratis di sepanjang jalan dan hal itu dianggap sebagai hal yang baik. Mereka tidak sadar kalau aktivitas tersebut dianggap masuk dalam kategori masuk tanpa izin ke kawasan yang dilindungi," kata Schewer.
Turis mengunjungi Uluru-Kata Tjuta National Park Foto: Flickr/Martin Cooper
Berkemah secara ilegal diakui Schewer dapat membahayakan lingkungan, karena turis tidak dapat mengakses fasilitas yang sesuai dan akan membuang sampah mereka di tempat yang tak seharusnya. Padahal, jika mau, kamu bisa merencanakan perjalanan dengan cara menghubungi pusat informasi yang tersedia.
ADVERTISEMENT
Sehingga wajar saja, kamu akan dengan mudah menemukan berbagai jenis sampah di tempat ini, termasuk sampah organik yang berasal dari kotoran manusia dan juga tisu toilet. Selain soal sampah yang tak seharusnya ditinggalkan oleh pengunjung, pendakian Ayers Rock atau Gunung Batu Uluru dinilai tidak menghormati kearifan dan budaya lokal.
Sering kali wisatawan datang ke sana, mendaki, dan sekadar mengambil foto untuk menunjukkan eksistensinya tanpa peduli makna batu tersebut. Bagi suku Aborigin, Uluru adalah lokasi keramat karena memiliki banyak mata air, gua, dan juga lukisan-lukisan primitif.
Uluru-Kata Tjuta National Park tahun 1992 Foto: Flickr/Ken Hodge
Salah seorang Suku Aborigin yang dikenal sebagai Anangu, atau pemilik Uluru-Kata Tjuta National Park mengungkapkan, bahwa aktivitas memanjat atau mendaki menunjukkan rasa tidak hormat pada budaya mereka. Tidak hanya itu saja, kepadatan jumlah turis di Uluru-Kata Tjuta National Park juga disebabkan eksistensi sosial media dalam masyarakat.
ADVERTISEMENT
Sebab, beberapa waktu lalu, sempat ada pula pasangan yang menikah dan melakukan resepsi di sana. Alhasil, Uluru-Kata Tjuta National Park dikunjungi wisatawan dalam jumlah banyak.
"Orang-orang datang seperti ulat yang tengah mengadakan prosesi. Karavan demi karavan datang terus menerus," kata sumber yang tak disebutkan namanya tersebut.
Bagaimana menurutmu?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86