Berkat Pestisida Organik, Mahasiswa UGM Raih Juara Kompetisi di Korsel

Lima mahasiswa UGM berhasil menggoreskan satu lagi prestasi bagi kampusnya. Mereka tergabung dalam tim yang memenangi Greenpreneur Competition 2018 di Seoul, Korea Selatan pada 29 Oktober hingga 2 November 2018 mendepak sekitar 196 tim lainnya.
Dalam kompetisi tersebut, tim yang terdiri dari Jonathan Kent Sorensen, Muhammad Hafish Mahdi, Albertus Alphero Tangkilisan, Natali Gupita Abhirama, dan Yohanes Susanto, merancang bisnis pestisida organik. Apa yang menarik dari rancangan bisnis ini?
“Kami membawa rancangan bisnis tentang produksi pestisida organik yang lebih tahan hujan dibanding pestisida biasa. Bahan bakunya diambil dari hasil distillation provider lokal yang tidak laku,” kata Yohanes, salah satu anggota tim, dilansir situs resmi UGM.
Kepada kumparan, Yohanes menjelaskan bahwa distillation provider ini merupakan penyedia jasa penyulingan minyak. Dalam proses penyulingan minyak, di sana pasti ada sisa minyak dan pengotor yang tidak bisa dijual ke pasaran.
“Sisa minyak yang tidak sesuai spesifikasi pasar, karena kemurniannya kurang, itulah yang kami pakai,” terang Yohanes.
Selain bisa memanfaatkan “limbah” hasil penyulingan minyak, mahasiswa Teknik Kimia UGM 2015 ini melihat manfaat lain dari rencana pembuatan produk pestisida organik ini.

“Harapan kami, sih, petani bisa pelan-pelan konversi ke pestisida organik. Soalnya kalau terus-terusan pakai sintetik, bahaya buat mereka dan bahaya buat lingkungan,” tutur Yohanes.
Menurut Yohanes ada beberapa kendala mengapa para petani di Indonesia tidak ingin pindah ke pestisida organik. Pertama karena pestisida organik mahal.
“Kedua, kalau mau ganti ke organik harus keroyokan (semuanya menggunakan organik) karena kalau enggak hama bakal pindah dari lahan yang pakai pestisida sintetik ke (lahan) pestisida organik,” jelasnya.

Para mahasiswa ini mengestimasi, biasanya petani menghabiskan biaya Rp 1.540.000 per hektar menggunakan pestisida organik. Namun dengan adanya produk pestisida organik mereka, para petani diharapkan hanya merogoh kocek sebesar Rp 1.270.500 per hektar.
Biaya penggunaaan produk mahasiswa UGM ini diklaim bakal lebih murah daripada biaya penggunaaan pestisida sintetis yang mencapai Rp 1.350.000 per hektar.
“Kami maunya petani lebih sadar lagi soal keselamatan, kesehatan, dan lingkungan ketika menggunakan pestisida. Kalau bisa menggunakan pestisida (organik) kami ini ke depannya,” tandas Yohanes.
Dalam lomba rancangan bisnis yang digelar Global Green Growth Institute itu, para mahasiswa ini mendapat pendanaan 5.000 dolar Amerika Serikat. Mereka juga bakal dapat pendampingan para pakar untuk mewujudkan bisnis pestisida organik tersebut.
Tertarik mengikuti jejak mereka?
