Otomotif
·
19 Juli 2021 14:42
·
waktu baca 1 menit

Pakai Toyota MR2, Inilah Potret Jadul Unit Reaksi Cepat Polda Metro Jaya

Konten ini diproduksi oleh AUTOBUZZ
Pakai Toyota MR2, Inilah Potret Jadul Unit Reaksi Cepat Polda Metro Jaya (33093)
searchPerbesar
Salah satu petugas berpose dalam mobil URC Toyota MR2. Foto: dinas_indonesia/Instagram
Guna untuk menanggulangi kejahatan di jalanan, Polda Metro Jaya membentuk Unit Reaksi Cepat atau URC yang mana unit ini biasanya di tempatkan pada lokasi-lokasi yang sangat rawan kejahatan.
ADVERTISEMENT
Unit Reaksi Cepat pada jaman dulu dan jaman sekarang sangatlah berbeda. Salah satu perbedaannya adalah dalam kendaraan yang digunakan. Dalam postingan yang diunggah oleh akun Instagram dinas_indonesia terlihat beberapa foto URC pada sekitar tahun 2000-an.
Pada postingan tersebut terlihat seorang petugas Unit Reaksi Cepat yang berpose bersama mobil tugasnya, mobil hitam dengan lightbar besar tersebut merupakan Toyota MR2 SW20 atau dijuluki sebagai “Ferrari bayi.”
Pakai Toyota MR2, Inilah Potret Jadul Unit Reaksi Cepat Polda Metro Jaya (33094)
searchPerbesar
Petugas berpose di samping mobil URC Toyota MR2. Foto: dinas_indonesia/Instagram
Toyota MR2 SW20 ini menggunakan mesin 2.0-liter 3S-GTE yang mana mampu mengeluarkan tenaga 221 dk. Sayangnya, mobil bermesin tengah ini terkenal dengan snap oversteer-nya yang mana ketika mobil belok dengan kecepatan tinggi kemudian gas dilepas saat belok yang membuat ban belakang kehilangan cengkraman dan berakhir mobil berputar. Snap oversteer juga biasa dikenal dengan lift-off oversteer.
ADVERTISEMENT
Meskipun begitu, mobil ini memiliki tenaga yang cukup kuat dan pada masanya mobil buatan Jepang itu sering terlihat ditempatkan pada beberapa titik di jalan tol. Salah satunya sering terlihat di tol Jagorawi pada sekitar tahun 1998 hingga 2000-an.
Salah satu tugas dari satuan yang menggunakan Toyota MR2 ini adalah untuk membasmi dan mengejar mobil-mobil sport yang sering terlihat ngebut di jalan tol. Selain Toyota MR2, Toyota Supra MK2 kerap digunakan sebagai mobil sipil.
Karena perubahan kepemimpinan yang berarti pergantian kebijakan, mobil buatan Jepang itu terpaksa harus diistirahatkan.