Konten dari Pengguna

Generasi Sandwich: Sibuk Bekerja, Sulit Sejahtera

Hestina Amelia

Hestina Amelia

Saat ini saya adalah mahasiswa program studi Ekonomi Syariah di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hestina Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terjepit di Tengah: Potret generasi sandwich yang harus memikul beban finansial ganda untuk menghidupi orang tua sekaligus masa depan anak-anak mereka Foto: Dibuat menggunakan Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Terjepit di Tengah: Potret generasi sandwich yang harus memikul beban finansial ganda untuk menghidupi orang tua sekaligus masa depan anak-anak mereka Foto: Dibuat menggunakan Gemini AI

Jika ditanya bagian yang paling menyenangkan dari bekerja, tentunya mayoritas individu akan menjawab gajian sebagai momen yang paling disukai dan dinantikan kehadirannya. Di momen gajian inilah, mereka yang sudah berkerja dengan susah payah hingga baju basah keringat dapat menikmati hasil kerja keras selama ini.

Akan tetapi, untuk sebagian individu khususnya generasi muda, gajian tidak lagi menjadi momen untuk menikmati kerja keras karena gaji yang didapatkan sudah harus langsung dipotong sana sini untuk biaya hidup, cicilan dan sebagainya.

Hal ini, semakin diperburuk jika ada biaya hidup dari individu lain yang juga harus mereka tanggung seperti misal biaya hidup dari anggota keluarga seperti orang tua, adik, kakak dan lain sebagainya. Kondisi itu, tentu saja dapat berujung pada terjadinya tekanan yang besar bagi seorang individu baik dari segi finansial ataupun psikologis.

Adanya hal ini, juga semakin membuat kita bertanya-tanya bahwa apakah dengan kerja keras saja sudah cukup untuk membuat hidup jadi sejahtera ?

Sandwich gen atau generasi sandwich merujuk pada istilah untuk individu yang harus menanggung biaya hidup ganda yakni untuk dirinya sendiri dan anggota keluarga inti. Munculnya generasi sandwich atau sandwich gen ini, didorong oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi keluarga yang belum stabil, terbatasnya tabungan atau dana pensiun orang tua, meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut, biaya hidup yang tinggi, budaya keluarga, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, fenomena generasi sandwich dapat disebut terus mengalami peningkatan. Hal tersebut salah satunya, dapat dilihat dari meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai sekitar 33 juta jiwa pada tahun 2025 dan meningkat menjadi sekitar 35 juta jiwa pada tahun 2026.

Kondisi ini menunjukkan bahwa beban ekonomi keluarga juga berpotensi semakin besar, khususnya bagi generasi usia produktif. Selain itu, dapat juga dilihat dari tingkat inflasi yang semakin tinggi, seperti di tahun 2026 tingkat inflasi sempat meninggi diawal bulan, khususnya di bulan Februari dengan angka 4,76%, adanya peningkatan angka ini dapat menjadi indikasi bahwa biaya hidup juga semakin meninggi.

Melihat adanya perkembangan fenomena generasi sandwich, tentunya menjadi hal yang cukup mengkhawatirkan. Sebab, dengan menjadi generasi sandwich berarti seorang individu harus mau tidak mau menanggung sejumlah dampak yang akan terjadi pada dirinya sendiri, khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan pribadi.

Dampak-dampak tersebut diantaranya seperti tekanan finansial yang tinggi, stres dan cemas, menurunnya kinerja, serta kesulitan untuk menabung atau investasi sebab pendapatan yang hanya bisa diinvestasikan pada kebutuhan jangka pendek. Hal ini, jika dibiarkan dalam jangka panjang, tentu dapat menjadi siklus yang terus berputar dan tidak akan ada habisnya, untuk itu masalah ini bukan hanya berada di ranah individu saja, tetapi juga melebar menjadi masalah pembangunan.

Dalam konteks tersebut, pembangunan seharusnya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada bagaimana masyarakat dapat hidup layak dan sejahtera. Adanya, fenomena generasi sandwich justru menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat usia produktif yang kesulitan mencapai kestabilan ekonomi meskipun telah bekerja keras.

Hal itu disebabkan oleh beban ganda yang dimiliki, di mana dari pendapatan yang diperoleh hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dan juga sampai tidak dapat digunakan untuk menabung. Oleh karena itu, kesejahteraan seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan, tetapi juga dari besarnya tanggungan ekonomi yang harus dipenuhi.

Dalam perspektif Islam, kesejahteraan atau falah merupakan tujuan utama dalam pembangunan ekonomi. Kesejahteraan di sini tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan materi, tetapi juga dari terciptanya keadilan serta kemaslahatan sosial bagi masyarakat. Selain itu, konsep falah juga tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan generasi saat ini, tetapi juga keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Jika dikaitkan dengan fenomena generasi sandwich, kondisi ini menunjukkan bahwa kesejahteraan belum sepenuhnya tercapai. Sebab, tekanan finansial yang dialami generasi sandwich berpotensi melahirkan siklus serupa pada generasi berikutnya karena individu kesulitan menyiapkan tabungan, investasi, maupun jaminan masa depan bagi keluarganya.

Meskipun dalam beberapa pandangan Islam fenomena ini sering dianggap sebagai bentuk birrul walidain atau berbakti kepada orang tua, kondisi tersebut tetap perlu mendapat perhatian serius. Jika beban yang ditanggung terlalu besar, maka dapat menimbulkan tekanan finansial maupun psikologis yang pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan individu itu sendiri.

Untuk itu, menurut penulis fenomena generasi sandwich tidak bisa dianggap sebagai persoalan individu semata ataupun hanya dianggap sebagai bentuk tuntutan budaya keluarga. Sebab, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa adanya perhatian yang serius maka generasi muda akan terus berada dalam tekanan finansial dan kesulitan mencapai kesejahteraan.

Bahkan, kondisi tersebut juga berpotensi membentuk siklus generasi sandwich berikutnya karena individu akan kesulitan menyiapkan tabungan, investasi, maupun dana masa depan bagi keluarganya.

Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya agar fenomena ini tidak terus berkembang. Pemerintah perlu lebih memperhatikan penciptaan lapangan kerja yang layak, stabilitas biaya hidup, serta perlindungan sosial bagi masyarakat usia produktif. Selain itu, peningkatan literasi dan perencanaan keuangan juga penting agar generasi muda mampu mengelola pendapatannya dengan lebih baik. Sedangkan untuk solusi dari sisi islam, dapat dilakukan dengan optimalisasi pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) juga dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.

Pada akhirnya, pembangunan tidak cukup hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi. Pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang mampu membuat masyarakat hidup layak, merasa aman secara ekonomi, dan memiliki harapan terhadap masa depannya. Sebab, kerja keras seharusnya mampu menghadirkan kesejahteraan, bukan justru mempertahankan masyarakat dalam tekanan finansial yang berkepanjangan.