Konten dari Pengguna

Petani Tak Perlu Lagi Menebak Tanah Kering, Mahasiswa MMD UB Hadirkan Alat SENTA

Amelia Nadya Sakanti

Amelia Nadya Sakanti

Mahasiswi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amelia Nadya Sakanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Dusun Aran-Aran, para petani biasanya menyiram tanaman saat “rasa-rasanya sudah kering.” Tanpa alat, tanpa data. Tapi kini, akan hadir perubahan, Kabupaten Malang (22/7/2025).

Dokumentasi pribadi, demonstrasi SENTA bersama warga.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi, demonstrasi SENTA bersama warga.

Lewat Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2025, mahasiswa Universitas Brawijaya hadir menciptakan perubahan melalui inovasi. Salah satunya, menciptakan alat SENTA (Sensor Tanah), sebuah prototipe sederhana namun berdampak besar untuk kehidupan petani desa.

“Selama ini petani pakai feeling buat nyiram. Sekarang, datanya bisa dibaca langsung di HP. Lebih akurat, lebih yakin,” ujar Bagas Burhanudin, mahasiswa Teknik Elektro UB yang merancang alat tersebut.

Dokumentasi pribadi, Bagas Burhanuddin dan alat SENTA.

SENTA bekerja dengan cara sederhana tapi efektif. Sensor ditancapkan ke tanah untuk membaca tingkat kelembapan, suhu, dan kelembapan udara. Informasi dikirim secara real-time ke aplikasi ponsel. Bahkan dilengkapi buzzer sebagai alarm jika tanah terlalu kering.

Pada kegiatan demonstrasi alat SENTA, hadir pula narasumber dari Universitas Brawijaya yang memberikan kontribusi penting dalam proses edukasi.

Dosen Fakultas Pertanian, Adi Setiawan, SP., MP., Ph.D., hadir sebagai pemateri utama penyuluhan pertanian.

Bukan Sekadar Alat, Tapi Awal dari Kesadaran Baru

“Petani di sini antusias banget. Alatnya simpel, bisa dipahami. Bahkan ada dua petani langsung minta kebunnya diukur,” cerita Bagas.

Dokumentasi pribadi, Pak Sugeng Ketua Kelompok Tani Sumberejo.

Pak Sugeng, Ketua Kelompok Tani Sumberejo, mengaku terkesan.

“Kalau bisa semua kelompok tani punya alat kayak gini. Biar nyiram itu jelas kapan waktunya,” katanya.

SENTA bukan hanya menjawab masalah klasik soal irigasi. Kehadirannya memantik kesadaran baru, bahwa petani juga bisa melek data, melek teknologi, dan belajar mengandalkan akurasi, bukan sekadar intuisi.

Kini, SENTA telah terpasang dan berfungsi dengan baik di lahan warga. Petani mulai terbiasa membaca data kelembapan dan suhu melalui aplikasi. Mahasiswa berharap alat ini bisa digunakan bersama dan disediakan di balai desa agar manfaatnya meluas.

“Kalau ada sinyal internet susah, kita juga kepikiran mau bikin versi LoRa atau pakai panel surya. Lebih fleksibel,” kata Bagas tentang rencana pengembangan selanjutnya.

SDGs 9 dan Masa Depan Inovasi Desa

Inisiatif ini sejalan dengan SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Masyarakat desa kini tidak lagi jauh dari teknologi. Mereka mulai terbiasa memanfaatkan inovasi untuk efisiensi pertanian, meningkatkan hasil panen, dan membuat keputusan berbasis data.

Dokumentasi pribadi, Mahasiswa MMD kelompok 33 dan warga.

Selain itu, kegiatan juga didampingi langsung oleh Arief Setiawan, S.IP., MPS., selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) MMD UB. Kehadiran beliau menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis teknologi yang dijalankan oleh mahasiswa.

Mahasiswa merakit alat ini dari nol, menguji, lalu mengedukasi petani untuk menggunakannya secara mandiri. Mereka juga menyusun buku panduan sebagai pegangan jangka panjang.

Program MMD UB 2025 di Aran-Aran menunjukkan bahwa mahasiswa bisa jadi agen perubahan, bukan hanya pengabdi harian. Mereka datang, mendengar, mencipta, dan meninggalkan jejak yang membekas, inovasi yang hidup di tangan rakyat.

#MMDUB2025

#MMDUB33

#SDGs 9

#SENTA

#InovasiTeknologi

#PertanianDigital

#UniversitasBrawijaya