Bukan Cuma Sekedar Tempat Ngopi: Kafe Estetik Memicu Tren Keren Lainnya

Belajar tentang Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebijakan Publik
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aang Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bukan sekedar ngopi atau menikmati sepotong pastry. Tapi ini tentang mengajak rasa berpetualang dalam keterdiaman. Memanjakan mata, menemukan pesona dari sekeliling dan ternyata membuat nyaman pada diri. Barangkali itulah gambaran tentang Kafe. Seseorang atau lebih, berkunjung tak hanya sekedar menikmati Kopi dan kudapan yang dipesannya namun mendapatkan berbagai hal lebih dari sebuah Kafe.
Saat melangkah menuju ke Kafe, pengunjung mendapatkan Fasad bangunan yang menggugah untuk dicerna begitu saja, tanpa dipaksa. Menarik untuk didalami, mencipta rasa penasaran, memicu emosi, bahkan mendorong orang untuk mengabadikannya dalam format foto dan video (bahkan Sebagian akan berwujud sebuah content dalam akun media sosialnya). Bangunan heritage yang direvitalisasi, rumah kaca ataupun bangunan kontemporer dan biofilik menjadi pilihan yang tersaji. Ternyata Kafe begitu dengan dengan sajian Arsitektur bangunan (1).
Memasuki ruang – ruang kafe, ketakjuban baru secara spontan juga muncul. Seolah desain interior bertugas untuk “mengikat” pegunjung dalam format memunculkan kenyamanan, emosi dan durasi kunjungan. Teman Desainer Interior menyebutnya sebagai pengalaman spasial (panggung visual). Menempatkan Bar Kopi sebagai panggung utama dengan ekspresi, kelincahan dan Gerakan atraktif para Barista. Bahkan terkadang terdapat tea smoiler yang ikut serta menjadi bagian tak terpisah. Statement Wall-pun menjadi penguat, “Urip iku Urup”, tiga kata filosofi jawa menjadi penguat dari Desain Interior (2) sebuah kafe.
Lantas Ketika ketemu barista, kita mendapatkan “fashion style” dari ppara barista dan pramusajinya. Gaya Industrial Workwear memberikan kesan maskulin, Tangguh dan penuh semangat. Enerjik dan penuh semangat anak muda. Sementara tatkala mereka mengenakan urban casual style, terasa lebih trendi dan santai. Muncul rasa happy dan asyik saja. Fashion (3) menjadi bagian yang menyatu. Tentu Cohesisiveness sangat perlu dipertimbangkan, antara gaya perpaiakan dengan tema interior kafe. Tak mudah, namun mencermati dengan detil pasti akan terwujud.
Human touch, authenticity dan barangkali nilai kemewahan tersendiri dari sebuah kafe yang itu tak dapat tergantikan oleh produk buat pabrik yang dibuat secara massal. Bagaimana sebuah piring dengan cap sederhana nama artis pemilik usaha menjadi penciri. Capnya kalua dilihat Nampak “norak” namun justru disitulah letak authenticity-nya. Ternya Craft (4) menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Dibalik semua itu, tentu yang utama adalah F&B (5) nya, karena inilah corenya, produk utama yang dicari pengunjung kafe. Bukan sekedar menawarkan tempat yang nyaman, cozy dan bikin betah. Tetapi rasa dilidah ternyata sampai “dihati”. Menciptakan produk yang “sempurna” merupakan kombinasi antara sains yang presisi, seni visual dan manajemen operasional yang konsisten.
Barangkali kafe tidak sekedar terkait dengan 5 sub sektor ekonomi kreatif itu saja, ada suk sector lainnya. Hal inilah yang akan kita dalami Bersama – sama menjadi bahan diskusi yang menarik di sela – sela kita ngopi.
