Pulau Libukang (Harapan): Pesona Bahari dan Eksotisme Matahari Terbenam

Dari Kab. Jeneponto, Sulawesi Selatan. Pernah belajar di UIN Alauddin Makassar.
Tulisan dari Abd Rahmat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kami menunggu di bawah bantaran pohon keapa. Di area pekarangan rumah Adatt Balla Lompoa Punagaya yang luas, setelah menempuh perjalanan menunggunakan sepeda motor kurang lebih dua puluh menit. Saya sedang asyik melihat arsitektur dan posisi Balla Lompoa menghadap persis ke pantai Biring Kassi. Berjalan ke depan sedikit dekat pembatas antara pekarangan dan pantai. Berdiri, memandangi perahu lalu-lalang. Melewati petakan-petakan lokasi rumput laut. Sebagian mengangkuti rumput laut ke daratan untuk di panen dan sebagian dijadikan bibit untuk kembali ditanam di lokasi. Setiap rumput laut sepanjang dua puluh sampai tiga puluh meter dibantu mengapung lima belas botol plastik. Ratusan rumput laut dibantu ribun botol lastik. Dan laut itu terlihat seperti daratan botol plastik.
Tak lama beridiri di atas pembatas, seseorang datang menghampiri dan menanyakan maksud kedatangan kami. Usianya kurang lebih lima puluh tahun. Rambutnya putih, memakai songkok warna hitam, baju kaos berkerah warna putih dan celana kain warna krem. Ia menerangkan bahwa area ini adalah area terbatas, bukan untuk umum dan ia mengklaim ditugaskan untuk menjaga tempat ini. Di luar, di samping pagar besi ada spanduk dua kali tiga berisi larangan memasuki tempat ini bagi yang tidak berkepentingan, lengkap dengan undang-undang dan hukumannya. Apa kalian tidak membaca poster itu sebelum masuk? tanyanya. Benar saja, bahwa kami salah memahami informasi awal setelah memastikan kepada Toni. Harusnya kami menunggu di Balla Lompoa yang ada di sebelah utara tempat orang-orang menyimpan kendaraan. Kami pun keluar dari area Balla Lompoa dan menuju dermaga yang tak jauh dari pintu masuk dan poster yang di terangkan oleh bapak tadi.
Perjalanan ke Pulau Libukang sudah kami rencanakan satu bulan sebelumnya. Siang itu matahari sangat terik saat kami menghubungi Toni dan memastikan akan berangkat. Kami berangkat lima orang. Toni adalah orang yang akan kami datangi dan ia menjanjikan ikan hasil pancingannya untuk disantap bersama ketika kami sampai dan berjanji akan memasang jaring di malam hari.
Tidak lama kemudian, Toni berlari dari arah pintu masuk Balla Lompoa, sambil berteriak kami tetap duduk. Ia pikir kami masih di dalam. Ia juga sudah bercerita kepada bapak tadi bahwa yang ia tegur adalah teman saya. Perahunya ia tinggalkan di depan dermaga kecil Balla Lompoa. Kami menitip motor ke salah satu rumah warga dan kembali masuk ke area Balla Lompoa, melewati pagar besi dan poster larangan itu lagi. Toni bercerita, bahwa tempat ini memang bukan untuk umum. Tetapi iparnya Ac, dikenal baik oleh pemilik Balla Lompoa dan semua yang jaga di tempat ini. Aci bukan hanya di kenal tetapi juga bekerja merawat empang atau budidaya lobster yang ada di samping dermaga kayu. Nilainya mencapai ratusan juta. Ia terus bercerita dan menunjukkan cctv yang di pasang di Balla Lompoa dan sebagian dipasang sepanjang dermaga menghadap ke empang. Itu menunjukkan bahwa tempat ini memang bukan untuk umum.
Kami berjalan melewati dermaga kayu, turun melewati gundukan batu penyanggah empang. Karena air sedang surut kami mesti berjalan lagi ke perahu sampai air setinggi lutut. Kami naik perahu dan Buci menyalakan mesin. Saat kami semua di atas, Toni masih menarik perahu ke depan sebelum melompat naik. Perahu melawan arah angin dan perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit sebelum sampai di Pulau Libukang. Sambil merekam dan mengambil gambar. Kami melewati petakan-petakan lokasi rumput laut yang sedang sekarat. Berlumut, terkontaminasi dengan cairan dan tidak berkembang. Sialnya, kondisi rumput laut yang sakit justru saat harga lagi tinggi-tingginya. Ini pukulan yang cukup keras bagi para pelaku budidaya rumput laut.
Pulau Libukang terlihat jelas di depan kami, semakin dekat saat perahu melaju. Ia berada di antara dua teluk, Mallosoro dan Kalumpang. Angin bertiup kencang dan baling-baling kincir angin yang ada di Desa Kalumpang Loe, Kecamatan Arungkeke, berputar pelan-pelan mengikuti arah jarum jam. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) itu tingginya mencapai 135 meter dan diamaeter 5,4 meter bagian bawah sedangkan atasnya 3,4 meter. Ini yang membuat kincir angin itu terlihat jelas dari perairan Mallasoro meski dari jarak yang sangat jauh. PLTB ini juga berubah menjadi detinasi wisata baru dan banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan bahkan dari luar kota.
Pulau Libukang adalah satu-satunya pulau yang ada di Kab. Jeneponto. Tepatnya berada di Kelurahan Bontorannu, Kecamatan Bangkala. Akses paling dekat menuju ke tempat ini yakni lewat dermaga penyeberangan Biring Kassi. Jarak tempuh penyeberangan sampai ke pulau lima belas sampai dua puluh menit. Pulau ini dihuni oleh seratus lima puluh kepala keluarga. Aktivitas dan mata pencaharian utama penduduk adalah budidaya rumput laut dan mencari ikan.
Matahari begitu menyengat, saat kaki kami menginjak pasir putih membentang panjang. Anak-anak melongok kami seperti turis dari jauh dan saya melihat mereka dengan penuh harapan. Meski dandanan kami sama seperti mereka tetap saja mereka menerka-nerka, siapa yang datang dan apa yang mereka cari.
Rombongan kami langsung menuju ke tempat tinggal Toni. Tepatnya, di depan perahu yang jaraknya barangkali kurang dari lima puluh meter. Ia, rumah yang kami datangi sangat dekat dengan pantai. Rumahnya nampak baru selesai dibangun. Di dalam, hanya ada satu kamar di belakang pojok kiri rumah berdekatan dapur. Di depan pojok kanan ada satu tempat tidur yang belum dipetak. Masih bersambung dengan ruangan tamu. Di tengah-tengah ruangan tamu, Aci ipar Toni sedang memperbaiki jaring yang akan dipasang sebentar malam untuk menangkap ikan. Ia juga berencana akan menyelam dengan tombak di pinggiran pulau, cara tradisonal untuk menangkap ikan yang masih lestari di pulau ini.
Saat Toni membakar ikan dan Nunu adiknya sedang menyiapkan makanan untuk kami, saya justru mengajak dua orang teman ke ujung pulau sebelah barat, bagian paling menarik dari pulau ini. Toni seringkali mengirim foto ke WA grup. Foto-foto yang selalu diambil saat petang. Potret pulau saat sore, deretan-deretan perahu yang kelelahan dan matahari terbenam, sinarnya jatuh di atas permukaan laut dan bayang-bayang kepak sayap burung bangau ikut terbang rendah di atas petak lokasi rumput laut. Ini salah satu alasan saya berkunjung ke tempat ini.
Di sebelah barat, cerobong PLTU Punagaya menyemburkan asap pekat. Barangkali sama pekatnya dengan nasib karyawan yang bekerja dari pagi sampai sore tetapi diupah murah. Meski awan hitam menutupi sebagian matahari. Sore itu juga tak bisa disebut mendung. Matahari tetap terlihat istimewa, sinarnya menarik bayang-bayang perahu, bayang-bayang pohon ek dan bayangan kami sendiri ikut saat berjalan di atas pasir putih. Ia, memberikan kedamaian dan ketenangan.
Saat masuk magrib kami pun kembali ke rumah. Tidak lama setelah sholat magrib, Aci membawa jaring menuju ke perahu. Ia menyalakan mesin perahu lalu turun mendorong perahu sampai lepas di pantai. Ia menurunkan baling-baling mesin perahu dan jalan sendiri, ia hilang dari pandangan, larut dengan gelap malam meski deru mesinnya terdengar jelas. Tak jauh dari pulau ia mematikan mesin, dan menurunkan jaring pelan-pelan untuk dibentangkan sepanjang dua puluh meter. Setelah memasang jaring, Aci memastikan jaring terpasang dengan baik. Saat memeriksa ke hilir, ikan-ikan terperangkap dalam jaring. Saat ikan disaring dan dinaikkan ke perahu, ikan yang diperoleh dari jaring yang baru dipasang beberapa menit, hasilnya hampir satu ember sedang atau kurang lebih dua puluh ekor. Saat datang membawa ikan, Aci kemudian memutuskan untuk batal menyelam dan kami kehilangan kesempatan melihat Aci menyelam. Karena ikan yang diperoleh lebih dari cukup.
Benar saja, pulau Libukang bukan hanya langit sorenya yang selalu menawan, pantainya membikin kita terkagum-tagum. Tetapi kekayaan laut juga memberikan kehidupan bagi penduduk. Penduduk pulau Libukang memang diberkati dengan potensi dan sumber daya alam yang luar biasa.
Kami mengumpulkan potongan-potongan kayu kering, lalu menyalakan api sambil menunggu kayu menjadi bara. Di atas bara api kami menaruh ikan-ikan segar hasil tangkapan jaring. Sementara ombak kecil berkejaran, menghantam pantai dan suaranya mengganggu orang-orang yang tidur dan terjaga. Saya ingin merayakan malam ini dengan mengutik kalimat Pramoedya Ananta Toer,”Berterima kasihlah pada setiap yang memberimu kehidupan.”
