Antara Dunia dan Akhirat : Hati Kita Sedang Berpihak ke Mana?

Mahasiswa Hukum Pidana Islam UIN SYARIFHIDAYATULLAH JAKARTA
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adjimushthafa ahsan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari, kita selalu dihadapkan dengan urusan dunia, mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, target yang harus dicapai , dan pengakuan yang ingin diraih. Tanpa kita sadari, urusan dunia mengambil alih perhatian dan hati kita. Kita berlari begitu cepat, namun jarang berhenti dan bertanya “ke mana sebenarnya arah langkah ini?”.
Islam tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama akan tetapi dunia perlu di upayakan, begitupun urusan akhirat harus diperhatikan secara serius. Hal ini sejalan dengan perkataan Rasulullah SAW “mengingatkan bahwa kita hidup di dunia layaknya seorang musafir, yang beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Namun, banyak dari kita yang terlena dengan dunia dan menganggap seakan-akan tidak ada kehidupan selanjutnya.
Ketika Dunia Menguasai Hati
Tanpa kita sadari hati kita terlalu berpihak pada dunia. Kita tidak merasakan penyesalan ketika meninggalkan shalat demi pekerjaan, dan mengorbankan kejujuran demi mendapatkan keuntungan. Sebaliknya kita merasakan kegelisahan ketika kehilangan harta dan merasa tenang ketika kehilangan waktu untuk beribadah.
Pada posisi tersebut, dunia bukan lagi menjadi sarana melainkan telah menjadi tujuan. Sedangkan, Allah tidak melarang hambanya untuk mengejar dunia, akan tetapi Allah melarang jika sampai melalaikan akhirat. Dunia yang seharusnya berada di tangan, justru menetap di hati. Mengakibatkan kita mudah lelah, cemas, dan merasa hampa meskipun mempunyai banyak hal.
Akhirat yang Sering Dilupakan
Akhirat seringkali disebut, tetapi jarang dipersiapkan. Banyak orang yang membicarakan surga, tetapi tidak mau menempuh jalannya. Kita takut akan kematian, tetapi tidak mengetahui bahwa kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Pada setiap harinya usia semakin berkurang, tetapi persiapan untuk bertemu Allah sering kali tidak bertambah.
Nyatanya, kesadaran untuk memikirkan akhirat bukan untuk membuat kita takut, akan tetapi untuk menangkan. Orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, hidupnya akan merasa lebih Ikhlas, lebih sabar, dan lebih jujur. Sesungguhnya kemenangan sejati bukan dimenagkan di dunia akan tetapi dihadapan Allah.
Menata Ulang Arah Hati
Islam mengajarkan kepada kita tentang keseimbangan. Bekerja adalah ibadah, mencari nafkah adalah kewajiban, dan menikmati rezeki adalah bagian dari Syukur. Tetapi semua itu harus seimbang dengan akhirat. Niat menjadi penentu dari semua itu, apakah dunia digunakan untuk mendekat kepada Allah, atau justru menjauh dari Allah.
Menata hati tidak selalu dimulai dari perubahan besar. Tetapi bisa dimulai dari shalat yang lebih khusyuk, sedekah yang lebih Ikhlas, dan kejujuran dalam hal-hal kecil. Ketika hati mengarah kepada akhirat, dunia akan mengikuti dengan sendirinya, tanpa harus mengejar secara berlebihan.
