Di Balik Yudisium: Perjuangan, Doa Ibu, dan Sahabat

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari abdul habib hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Selasa menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Hari itu, saya mengikuti yudisium bersama teman-teman seperjuangan. Di tengah rasa haru dan bahagia, ada satu perasaan yang paling besar dalam hati saya: rasa syukur.
Saya sangat bahagia bisa sampai di titik ini. Perjalanan menyelesaikan skripsi bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya. Ada banyak kesulitan, kebingungan, tekanan, bahkan rasa ingin menyerah yang pernah saya rasakan. Namun, di balik semua itu, ada orang-orang baik yang hadir dan membantu saya ketika saya benar-benar membutuhkan pertolongan.
Teman-teman saya yang baik menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Ketika saya mengalami kesulitan mengerjakan skripsi, mereka tidak tinggal diam. Mereka membantu, memberikan masukan, menjelaskan hal-hal yang belum saya pahami, dan menemani saya melewati masa-masa sulit. Bantuan mereka mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi bagi saya, itu sangat berarti.
Saya menyadari bahwa dalam hidup, tidak semua orang yang kita anggap teman akan selalu ada ketika kita membutuhkan mereka. Ada pula orang-orang yang pernah menghina, meremehkan, atau membuat saya merasa tidak mampu. Saat saya sedang berjuang, mereka memilih untuk tidak membantu.
Awalnya, hal itu membuat saya sedih. Saya pernah bertanya kepada diri sendiri, mengapa ketika saya kesulitan, justru orang-orang yang saya harapkan tidak ada di samping saya? Namun seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa tidak semua orang harus tinggal dalam perjalanan hidup kita.
Saya tidak ingin terus menyimpan kesedihan atau dendam. Saya memilih untuk mengambil pelajaran dari semuanya. Dari orang-orang yang menyakiti saya, saya belajar menjadi lebih kuat. Dari teman-teman yang membantu saya, saya belajar arti ketulusan dan persahabatan yang sesungguhnya.
Dan tentu saja, ada sosok yang paling utama dalam perjalanan saya: ibu saya.
Kebahagiaan terbesar saya saat mengikuti yudisium bukan hanya karena berhasil menyelesaikan pendidikan, tetapi karena saya bisa membuat ibu saya bangga. Saya tahu, di balik setiap langkah saya, ada doa, pengorbanan, dan harapan seorang ibu yang selalu menginginkan anaknya berhasil.
Ibu adalah alasan saya terus bertahan ketika merasa lelah. Ibu adalah seseorang yang mungkin tidak selalu memahami setiap detail perjuangan skripsi saya, tetapi selalu memahami bagaimana cara memberikan kekuatan ketika saya hampir menyerah.
Hari yudisium menjadi bukti bahwa semua perjuangan itu tidak sia-sia. Air mata, rasa lelah, revisi yang tidak ada habisnya, malam-malam panjang mengerjakan skripsi, semuanya menjadi bagian dari cerita yang akhirnya membawa saya sampai ke titik ini.
Hari ini, 14 September 2026, saya melihat kembali perjalanan yang telah saya lalui dengan perasaan penuh syukur. Saya mungkin belum menjadi orang yang sempurna. Saya masih memiliki banyak kekurangan dan masih harus belajar untuk menghadapi kehidupan yang lebih besar setelah lulus.
Namun, satu hal yang saya yakini: saya telah berhasil melewati salah satu fase terberat dalam hidup saya.
Untuk teman-teman baik yang telah membantu saya, terima kasih. Terima kasih karena hadir ketika saya membutuhkan bantuan. Terima kasih karena tidak membiarkan saya berjuang sendirian. Kebaikan kalian akan selalu saya ingat, bahkan ketika nanti kita sudah memiliki jalan hidup masing-masing.
Untuk mereka yang pernah meremehkan saya, terima kasih juga. Tanpa kalian sadari, mungkin kalian telah mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah dan untuk membuktikan bahwa seseorang yang pernah dianggap tidak mampu juga bisa mencapai garis akhir.
Saya tidak ingin membalas hinaan dengan kebencian. Cukup keberhasilan ini menjadi jawaban bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk bersinar.
Dan untuk ibu tercinta, terima kasih atas segala doa dan kasih sayang yang tidak pernah habis. Jika hari ini saya bisa berdiri di titik ini, salah satu alasan terbesarnya adalah karena ada seorang ibu yang selalu percaya bahwa anaknya mampu melewati segala kesulitan.
Yudisium bukanlah akhir dari perjalanan. Ini adalah awal dari babak baru dalam kehidupan.
Saya mungkin pernah merasa sendirian, pernah merasa tidak mampu, dan pernah menangis karena keadaan. Tetapi hari ini saya belajar satu hal penting: selama kita mau terus berjuang, selalu ada jalan untuk sampai pada tujuan.
Saya bersyukur pernah mengalami kesulitan, karena dari sanalah saya belajar menghargai bantuan. Saya bersyukur pernah diremehkan, karena dari sanalah saya belajar membangun kekuatan. Dan saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik, karena dari merekalah saya belajar bahwa ketulusan masih nyata.
Hari ini saya tersenyum bukan karena perjalanan saya mudah, tetapi karena saya berhasil melewati semuanya.
Saya sudah sampai di titik akhir yudisium.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama berjuang, saya ingin mengatakan kepada diri sendiri:
Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah tidak menyerah. Kamu berhasil sampai di sini.
