Diremehkan, Tapi Saya Berhasil Lulus

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari abdul habib hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada masa ketika sebuah perkataan dari seseorang terasa begitu sederhana bagi yang mengucapkannya, tetapi meninggalkan luka yang cukup dalam bagi orang yang mendengarnya.
Saya pernah berada di posisi itu.
Sejak semester awal perkuliahan, bahkan ketika baru memasuki semester 1 hingga semester 5, pernah ada seseorang yang mengatakan bahwa saya tidak akan lulus. Kalimat tersebut mungkin bagi orang lain terdengar biasa saja. Namun bagi saya, perkataan itu tersimpan cukup lama di dalam hati.
Saya tidak selalu membalasnya dengan kata-kata.
Saya memilih diam.
Bukan karena saya tidak sakit hati, tetapi karena saya tahu bahwa membalas perkataan dengan perkataan tidak akan mengubah keadaan. Di dalam hati, saya merasa sedih, kecewa, bahkan terkadang bertanya kepada diri sendiri, “Benarkah saya tidak akan mampu menyelesaikan semuanya?”
Sebagai seorang mahasiswa, perjalanan menuju kelulusan bukanlah sesuatu yang selalu mudah. Ada tugas, laporan, revisi, ujian, tekanan, rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan berbagai persoalan yang harus dihadapi satu per satu.
Namun, saya terus berjalan.
Semester demi semester saya lewati
Waktu terus berjalan.
Semester 1 berlalu. Kemudian semester 2, semester 3, semester 4, hingga semester 5.
Perkataan bahwa saya tidak akan lulus masih teringat di dalam hati. Akan tetapi, perlahan saya belajar bahwa hidup tidak seharusnya ditentukan oleh perkataan orang lain.
Kalau ada seseorang yang meragukan kemampuan saya, saya tidak harus membuktikannya dengan perdebatan.
Saya hanya perlu terus berusaha.
Saya mulai memahami bahwa salah satu cara terbaik untuk menjawab keraguan orang lain adalah dengan menyelesaikan apa yang pernah mereka ragukan.
Bukan untuk membalas dendam.
Bukan pula untuk mempermalukan siapa pun.
Tetapi untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya ternyata mampu melewati sesuatu yang dahulu terasa begitu berat.
Sampai akhirnya saya berada di semester 8
Tidak terasa, saya sudah sampai di semester 8.
Di titik ini, perjalanan yang panjang mulai terasa nyata. Skripsi yang sebelumnya hanya terlihat sebagai sesuatu yang jauh, akhirnya harus saya hadapi.
Saya bertemu dengan pembimbing skripsi, menerima arahan, mengerjakan revisi, memperbaiki kesalahan, kembali mengerjakan, dan terus belajar sampai akhirnya skripsi tersebut dapat diselesaikan.
Ada banyak hal yang tidak terlihat oleh orang lain.
Mereka mungkin hanya melihat hasil akhirnya.
Mereka melihat seorang mahasiswa yang akhirnya lulus.
Namun di balik itu ada malam-malam panjang, rasa lelah, kekhawatiran, revisi yang harus dikerjakan, rasa takut ketika menghadapi ujian, dan doa yang terus dipanjatkan agar semuanya diberikan kelancaran.
Saya juga tidak ingin melupakan jasa para dosen pembimbing dan penguji yang telah memberikan arahan serta masukan selama proses penyelesaian skripsi.
Bagi saya, mereka bukan sekadar bagian dari proses akademik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan saya menuju satu titik yang selama ini saya perjuangkan.
Saya akhirnya lulus tepat waktu
Hari yang dahulu terasa begitu jauh akhirnya datang juga.
Saya sampai pada tahap setelah menyelesaikan proses skripsi dan memasuki fase menuju wisuda, sambil menunggu proses yudisium.
Di titik ini, perasaan saya justru campur aduk.
Ada rasa bahagia.
Ada rasa lega.
Tetapi ada juga rasa haru dan sedih ketika mengingat perjalanan dari awal kuliah sampai sekarang.
Saya teringat kembali kepada perkataan orang yang dahulu mengatakan bahwa saya tidak akan lulus.
Dulu perkataan itu membuat saya sedih.
Sekarang, saya tidak lagi ingin marah.
Saya hanya tersenyum dan berkata dalam hati:
“Ternyata saya bisa sampai di sini.”
Saya tidak perlu membalas dengan kemarahan.
Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
Karena perjalanan saya sendiri sudah menjadi jawabannya.
Saya yang dulu diragukan, akhirnya dapat menyelesaikan pendidikan hingga semester 8 dan lulus tepat waktu.
Terima kasih kepada diri sendiri yang tidak menyerah
Ada satu orang yang mungkin sering terlupakan ketika kita berhasil mencapai sesuatu: diri kita sendiri.
Karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada diri saya sendiri.
Terima kasih karena tetap bertahan ketika merasa lelah.
Terima kasih karena tetap mengerjakan tugas ketika rasanya ingin berhenti.
Terima kasih karena tetap mencoba ketika merasa tidak yakin.
Terima kasih karena tidak menyerah hanya karena ada orang yang mengatakan bahwa saya tidak akan berhasil.
Mungkin perjalanan saya tidak sempurna.
Mungkin saya pernah melakukan kesalahan.
Mungkin saya pernah merasa tertinggal dibandingkan orang lain.
Tetapi saya belajar bahwa setiap orang mempunyai waktunya masing-masing.
Yang terpenting adalah terus berjalan.
Ada satu alasan terbesar saya ingin berhasil
Setelah semua perjuangan ini, saya memiliki satu tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar mendapatkan gelar.
Saya ingin bekerja.
Saya ingin mendapatkan penghasilan dari hasil usaha saya sendiri.
Dan ketika saya mendapatkan gaji pertama nanti, saya ingin memberikan sebagian dari hasil kerja tersebut kepada ibu saya.
Bukan karena jumlahnya besar.
Bukan karena saya sudah menjadi orang sukses.
Tetapi karena saya ingin ibu merasakan bahwa perjuangan dan doa yang selama ini diberikan kepada saya tidak sia-sia.
Saya ingin suatu hari nanti bisa mengatakan kepada ibu:
“Bu, ini hasil dari perjuangan saya. Terima kasih karena selama ini selalu mendoakan saya.”
Bagi saya, kebahagiaan orang tua adalah salah satu keberhasilan terbesar yang ingin saya capai.
Impian saya tidak berhenti di wisuda
Wisuda bukanlah akhir.
Kelulusan bukanlah garis finis.
Justru setelah lulus, perjalanan yang sebenarnya akan dimulai.
Saya ingin mencari pekerjaan, membangun karier, terus belajar, dan menjadi seseorang yang lebih baik dari hari ke hari.
Saya tahu dunia kerja tidak akan selalu mudah.
Akan ada tantangan baru.
Akan ada kegagalan baru.
Akan ada orang yang mungkin kembali meragukan saya.
Tetapi kali ini saya sudah belajar satu hal:
Saya tidak harus berhenti hanya karena seseorang tidak percaya kepada saya.
Saya akan terus berusaha.
Saya akan membuktikan semuanya melalui proses dan hasil, bukan melalui perdebatan.
Saya ingin mengajak ibu berziarah ke Hadramaut, Yaman
Ada satu impian yang saya simpan setelah nanti mulai bekerja dan memiliki penghasilan.
Saya ingin menabung.
Saya ingin menyisihkan sebagian penghasilan saya sedikit demi sedikit.
Bukan hanya untuk membeli sesuatu untuk diri sendiri, tetapi untuk membawa ibu melakukan perjalanan yang sudah lama saya impikan.
Saya ingin mengajak ibu berziarah ke Hadramaut, Yaman.
Bagi saya, perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan ke tempat yang jauh.
Saya membayangkannya sebagai sebuah bentuk rasa syukur.
Saya ingin berjalan bersama ibu, melihat tempat-tempat yang selama ini mungkin hanya saya kenal melalui cerita, dan menikmati perjalanan tersebut bersama orang yang selama ini menjadi salah satu alasan terbesar saya untuk terus berjuang.
Mungkin perjalanan itu belum bisa saya lakukan sekarang.
Mungkin membutuhkan waktu yang panjang.
Mungkin saya harus bekerja dan menabung bertahun-tahun.
Tidak apa-apa.
Saya akan menjadikannya sebagai salah satu tujuan hidup yang ingin saya perjuangkan.
Karena saya percaya, tidak semua impian harus diwujudkan dengan cepat.
Sebagian impian justru menjadi lebih bermakna ketika kita memperjuangkannya sedikit demi sedikit.
Untuk orang-orang yang pernah meragukan saya
Kepada siapa pun yang pernah mengatakan bahwa saya tidak akan lulus, saya tidak menyimpan kebencian.
Dulu mungkin saya merasa sakit hati.
Sekarang saya memilih menjadikan semuanya sebagai pelajaran.
Perkataan tersebut justru menjadi salah satu bagian dari perjalanan yang membuat saya semakin ingin berusaha.
Saya tidak ingin membalasnya dengan kebencian.
Saya hanya ingin menunjukkan bahwa seseorang tidak pernah benar-benar tahu seberapa jauh orang lain mampu berjalan.
Jangan terlalu cepat menentukan bahwa seseorang akan gagal.
Karena orang yang hari ini terlihat kesulitan, bisa saja menjadi orang yang suatu hari nanti berhasil melewati semua yang pernah dianggap mustahil.
Dan bagi saya, keberhasilan bukan tentang membuat orang lain merasa kalah.
Keberhasilan adalah ketika saya mampu berdiri di atas kaki sendiri, mendapatkan pekerjaan, membahagiakan orang tua, dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.
Dari satu langkah menuju langkah berikutnya
Hari ini saya mungkin baru sampai pada tahap menuju yudisium dan wisuda.
Besok saya akan menghadapi dunia kerja.
Setelah itu mungkin akan ada banyak perjalanan lain yang belum saya ketahui.
Saya tidak tahu apakah semuanya akan berjalan sesuai rencana.
Tetapi saya tahu satu hal.
Saya sudah pernah melewati masa ketika saya diragukan.
Saya sudah pernah merasa sedih.
Saya sudah pernah merasa lelah.
Dan saya tetap sampai di sini.
Karena itu, saya ingin terus melangkah.
Saya ingin menjadikan kelulusan ini bukan sebagai akhir dari perjuangan, tetapi sebagai awal dari perjuangan yang baru.
Suatu hari nanti, ketika saya menerima gaji pertama dari pekerjaan saya, saya ingin mengingat kembali semua perjalanan ini.
Saya ingin melihat ibu dan berkata:
“Bu, dulu kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Sekarang, sedikit demi sedikit, kita mulai bisa mewujudkan impian kita.”
Dan mungkin pada saat itu saya akan kembali teringat kepada diri saya yang dulu, seorang mahasiswa yang pernah merasa sedih karena diragukan.
Kepada diri saya yang dulu itu, saya ingin mengatakan:
“Terima kasih karena tidak menyerah.”
Karena ternyata, kalimat “kamu tidak akan lulus” bukanlah akhir dari cerita saya.
Itu hanya salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang yang akhirnya membawa saya sampai pada hari ini.
Saya belum menjadi siapa-siapa.
Saya belum menjadi orang sukses.
Saya baru saja menyelesaikan satu tahap dalam kehidupan.
Tetapi saya akan terus berusaha.
Saya akan bekerja.
Saya akan belajar.
Saya akan membahagiakan ibu.
Dan suatu hari nanti, saya berharap dapat membawa ibu berziarah ke Hadramaut, Yaman, dengan uang yang saya kumpulkan dari hasil kerja keras saya sendiri.
Karena bagi saya, kesuksesan yang paling indah bukan ketika orang lain mengakui bahwa saya berhasil, tetapi ketika saya mampu membuat orang tua tersenyum dan berkata bahwa perjuangan saya tidak sia-sia.
