Satu Mimpi Setelah Wisuda Mengumpulkan Rezeki untuk berangkatkan Orang Tua Haji

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari abdul habib hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wisuda bagi banyak mahasiswa adalah simbol keberhasilan setelah bertahun-tahun berjuang di bangku kuliah. Namun bagi saya, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab besar sebagai seorang anak. Di balik toga dan senyum saat kelulusan nanti, ada satu mimpi yang terus saya simpan dalam hati: mengumpulkan rezeki agar suatu hari bisa memberangkatkan kedua orang tua saya ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.
Sebagai mahasiswa yang kini berada di semester akhir, saya sering merenungkan perjalanan hidup yang telah saya lalui. Pendidikan yang saya jalani hari ini tidak terlepas dari pengorbanan orang tua. Mereka bekerja keras, berhemat, dan sering kali menahan keinginan pribadi demi memastikan saya bisa tetap melanjutkan pendidikan.
Saya menyadari bahwa setiap langkah yang saya tempuh di bangku kuliah sebenarnya adalah bagian dari perjuangan mereka juga.
Tidak sedikit orang tua yang mungkin memiliki mimpi sederhana: melihat anaknya sukses dan hidup lebih baik. Namun bagi saya, mimpi itu ingin saya balas dengan sesuatu yang lebih bermakna—membantu mereka mewujudkan impian besar untuk beribadah ke Mekkah.
Ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga sebuah perjalanan yang penuh makna bagi setiap umat Muslim. Banyak orang tua yang menyimpan keinginan tersebut selama bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Namun tidak semua memiliki kesempatan karena berbagai keterbatasan, terutama masalah finansial.
Di sinilah saya merasa memiliki tanggung jawab sebagai seorang anak. Jika selama ini mereka telah berjuang untuk masa depan saya, maka sudah seharusnya saya juga berusaha memperjuangkan kebahagiaan mereka.
Lulus dari kuliah tentu bukan jaminan bahwa perjalanan hidup akan langsung menjadi mudah. Dunia kerja penuh dengan tantangan, persaingan, dan proses panjang untuk mencapai kestabilan finansial. Namun justru di situlah mimpi ini menjadi sumber motivasi bagi saya untuk terus berusaha.
Setiap pekerjaan yang akan saya lakukan nanti bukan hanya tentang mencari penghasilan untuk diri sendiri, tetapi juga tentang mengumpulkan rezeki sedikit demi sedikit demi mewujudkan mimpi orang tua.
Saya percaya bahwa rezeki bisa datang dari berbagai jalan. Dengan kerja keras, doa, dan kesabaran, tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk diwujudkan. Bahkan jika prosesnya membutuhkan waktu bertahun-tahun, mimpi tersebut tetap layak diperjuangkan.
Bagi saya, kebahagiaan terbesar bukanlah ketika memiliki banyak materi, melainkan ketika bisa melihat kedua orang tua tersenyum bahagia karena mimpi mereka akhirnya tercapai.
Bayangan melihat mereka mengenakan pakaian ihram, berjalan di sekitar Ka'bah, dan memanjatkan doa di tanah suci adalah gambaran yang selalu menjadi semangat dalam hidup saya.
Mungkin perjalanan menuju mimpi itu tidak akan mudah. Akan ada banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi. Namun selama niatnya tulus untuk membahagiakan orang tua, saya percaya setiap langkah kecil akan membawa saya lebih dekat pada tujuan tersebut.
Pada akhirnya, wisuda hanyalah sebuah awal. Gelar sarjana bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk menjalani perjalanan hidup yang lebih besar. Dan bagi saya, perjalanan itu memiliki satu tujuan yang sangat berarti mengumpulkan rezeki agar suatu hari nanti saya bisa memberangkatkan kedua orang tua saya untuk menunaikan ibadah haji.
Karena di balik setiap keberhasilan seorang anak, selalu ada doa dan pengorbanan orang tua yang tidak pernah berhenti.
