Wisuda Bukan Akhir Perjuangan

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari abdul habib hasibuan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang memandang wisuda sebagai puncak keberhasilan setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan. Ruangan dipenuhi senyum, bunga, hadiah, foto, dan ucapan selamat. Semua itu adalah bentuk kebahagiaan yang wajar karena berhasil menyelesaikan perjalanan akademik.
Namun, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah makna wisuda hanya berhenti pada bunga dan perayaan?
Bagi saya, bunga akan layu dalam beberapa hari. Foto akan tersimpan di galeri. Perayaan pun akan selesai. Akan tetapi, tanggung jawab sebagai seorang lulusan justru dimulai setelah toga dilepas.
Di balik keberhasilan seorang mahasiswa, ada orang tua yang sejak semester pertama telah berjuang membiayai pendidikan. Mereka bekerja tanpa mengenal lelah, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kebutuhan pribadi demi memastikan anaknya tetap bisa melanjutkan kuliah. Pengorbanan sebesar itu tentu tidak dapat dibalas hanya dengan bunga, hadiah, atau satu hari perayaan.
Karena itu, momen yang paling berharga setelah dinyatakan lulus bukanlah menerima buket bunga atau berfoto sebanyak mungkin, melainkan pulang menemui kedua orang tua, mencium tangan mereka, memeluk mereka, dan mengucapkan terima kasih atas setiap doa, pengorbanan, serta kasih sayang yang telah diberikan sejak awal kuliah hingga akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan.
Rasa syukur juga seharusnya diwujudkan dengan berdoa kepada Allah SWT agar ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi jalan menuju rezeki yang halal. Doa orang tua adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada hadiah apa pun.
Setelah wisuda, tantangan sesungguhnya adalah memasuki dunia kerja. Gelar akademik memang menjadi modal awal, tetapi bukan jaminan untuk langsung memperoleh pekerjaan. Kesempatan datang kepada mereka yang terus belajar, meningkatkan keterampilan, membangun pengalaman, serta tidak menyerah ketika menghadapi penolakan.
Seorang lulusan hendaknya tidak hanya menunggu kesempatan datang. Mulailah menyusun CV yang baik, membangun portofolio, memperluas relasi, mengikuti pelatihan, melamar ke berbagai perusahaan, dan terus mengembangkan kemampuan sesuai kebutuhan dunia kerja. Setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Tidak semua orang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Ada yang harus mengirim puluhan bahkan ratusan lamaran sebelum memperoleh kesempatan pertama. Hal itu bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses yang harus dijalani dengan kesabaran, doa, dan usaha yang konsisten.
Wisuda bukan sekadar tentang mengenakan toga atau menerima ijazah. Wisuda adalah awal dari tanggung jawab baru untuk mengamalkan ilmu, menjadi pribadi yang bermanfaat, serta berusaha membahagiakan orang tua yang telah berjuang tanpa henti.
Merayakan kelulusan tentu tidak salah. Namun, akan jauh lebih bermakna jika kebahagiaan itu diiringi dengan rasa syukur, bakti kepada orang tua, serta tekad untuk segera mandiri melalui pekerjaan yang halal. Sebab kebahagiaan terbesar bukanlah ketika menerima bunga di hari wisuda, melainkan ketika suatu saat nanti kita mampu membuat orang tua tersenyum bangga karena hasil dari kerja keras kita sendiri.
Pada akhirnya, bunga akan layu, dekorasi akan dibongkar, dan pesta akan berakhir. Namun, doa orang tua, kerja keras, akhlak yang baik, serta semangat untuk terus berjuang akan menjadi bekal yang terus menyertai perjalanan hidup.
Wisuda bukan akhir perjuangan. Wisuda adalah awal perjalanan untuk membalas jasa orang tua, mengamalkan ilmu, dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
