Kumparan Logo

BPS Catat Harga Beras Premium di Penggilingan Melonjak 10 persen dalam Setahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja (kanan) memindahkan karung beras ke atas sepeda motor di kawasan Pasar Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja (kanan) memindahkan karung beras ke atas sepeda motor di kawasan Pasar Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan rata-rata harga beras di tingkat penggilingan maupun eceran masih mengalami kenaikan pada Juli 2026.

Kenaikan terjadi baik secara bulanan maupun tahunan, dengan beras kualitas premium di tingkat penggilingan mencatat lonjakan paling tinggi secara tahunan.

​Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Juli 2026 naik 0,94 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan meningkat 5,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

​“Rata-rata harga beras di penggilingan pada kondisi Juli 2026 secara total naik 0,94 persen atau secara mtm dan naik sebesar 5,11 persen secara yoy,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (3/8).

​Menurut BPS, jika dirinci berdasarkan kualitasnya, beras premium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan 0,44 persen secara bulanan dan melonjak 10,02 persen secara tahunan.

"Pada Juli 2026, harga rata-rata beras di penggilingan kualitas premium sebesar Rp 14.880 per kilogram (kg). Sementara untuk penggilingan beras medium sebesar Rp 13.694 per kg," tulis catatan BPS.

Sementara itu, harga beras medium di tingkat penggilingan naik 1,25 persen secara bulanan dan 3,24 persen secara tahunan.

​Selain kenaikan harga di tingkat penggilingan, BPS juga mencatat inflasi harga beras di tingkat grosir maupun eceran sepanjang Juli 2026.

​Di tingkat grosir, inflasi beras mencapai 0,61 persen secara bulanan dan 4,11 persen secara tahunan. Adapun di tingkat eceran, inflasi tercatat sebesar 0,49 persen secara bulanan dan 3,10 persen secara tahunan.

​Ateng menegaskan bahwa angka tersebut merupakan rata-rata harga beras nasional yang dihitung dari berbagai kualitas beras di seluruh wilayah Indonesia.

​“Sebagai informasi, teman-teman media, harga beras yang kami sampaikan yang tadi saya sebutkan merupakan rata-rata harga beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia,” katanya.

NTP Naik Tipis

Ilustrasi petani mengumpulkan beras. Foto: Shutterstock

​Selain melaporkan perkembangan harga beras, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 sebesar 127,84 atau naik 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan NTP terjadi karena penurunan indeks harga yang dibayar petani lebih dalam dibandingkan penurunan indeks harga yang diterima petani.

​Ateng menjelaskan, penurunan indeks harga yang diterima petani terutama dipengaruhi oleh melemahnya harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah. Kondisi tersebut membuat subsektor hortikultura menjadi sektor dengan penurunan NTP terdalam pada Juli 2026.

​“Subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP sebesar 8,49 persen. Kondisi ini disebabkan karena indeks harga yang diterima oleh petani hortikultura turun sebesar 8,74 persen. Turun lebih dalam jika dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar yaitu turun 0,28 persen,” ungkap Ateng.

​Di sisi lain, BPS mencatat nilai tukar perikanan meningkat 1,01 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh membaiknya nilai tukar nelayan maupun pembudidaya ikan, dengan komoditas seperti rajungan, tongkol, rumput laut, bandeng, dan udang menjadi penyumbang utama kenaikan indeks harga yang diterima.