KAI Usul Impor KRL Bekas Jepang untuk Tambal Defisit Pasokan INKA

PT Kereta Api Indonesia (KAI Persero) berencana mengimpor trainset KRL bekas dari Jepang sebagai solusi transisi mengatasi keterbatasan kapasitas produksi industri dalam negeri di tengah lonjakan penumpang.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan pihaknya sedang berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mendapatkan izin dispensasi impor barang bukan baru.
"Kementerian Perindustrian, Perdagangan, dan Perhubungan sudah kami koordinasikan untuk penerbitan dispensasi proses impor barang bukan baru," ujar Bobby dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (23/9).
Langkah ini mendesak dilakukan karena kapasitas produksi PT INKA belum sebanding dengan kebutuhan armada.
KAI memproyeksikan akumulasi defisit pasokan mencapai puluhan trainset (TS) pada periode 2026–2031, dengan puncak defisit terbanyak sebesar 45 TS pada 2029.
Bobby menjelaskan KRL bekas Jepang dipilih karena spesifikasi teknisnya sudah cocok dengan infrastruktur nasional.
"Sistem perkeretaan kita identik dengan Jepang, mulai dari lebar rel hingga Listrik Aliran Atas (LAA)," terangnya.
Rencananya, KAI akan mengimpor 7 trainset formasi 12 kereta (SF12) dan 16 trainset formasi 8 kereta (SF8) yang diproyeksikan mampu beroperasi hingga 10 tahun ke depan.
"Harus segera kita eksekusi untuk menambal kebutuhan operasional harian," tegas Bobby.
Selain pembelian KRL impor dari Jepang, KAI juga berencana memulai reaktivasi beberapa jalur kereta api di Sumatera tahun ini, khususnya pada rute yang sudah memiliki trase lama seperti Medan–Banda Aceh (hingga Besitang sepanjang 400 km) dan Sumatera Barat. Sementara untuk rute baru, KAI masih melakukan studi kelayakan.
