Kumparan Logo

Pendapatan KAI Group Naik jadi Rp17,96 Triliun Semester I 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi penumpang kereta api. Foto: Dok. KAI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penumpang kereta api. Foto: Dok. KAI

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan kinerja positif pada Semester I 2026.

Berdasarkan laporan keuangan KAI Group (unaudited), pendapatan perusahaan mencapai Rp17,96 triliun atau naik 6,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp16,85 triliun.

Kenaikan pendapatan tersebut diikuti pertumbuhan laba bruto sebesar 18,81 persen menjadi Rp6,79 triliun dari sebelumnya Rp5,72 triliun. Sementara itu, laba usaha meningkat 25,79 persen dari Rp3,71 triliun menjadi Rp4,66 triliun.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut mencerminkan penguatan bisnis inti perusahaan yang ditopang peningkatan layanan, produktivitas, efisiensi biaya, dan sinergi antarentitas di lingkungan KAI Group.

“Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang,” ujar Anne dalam keterangan resminya, Minggu (2/8).

Sepanjang Januari–Juni 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau meningkat 7,55 persen dibandingkan Semester I 2025 yang sebanyak 240.805.920 pelanggan. Layanan tersebut mencakup kereta berskema Public Service Obligation (PSO), KA Perintis, penugasan pemerintah, hingga layanan komersial.

Dari total pelanggan tersebut, sekitar 235,14 juta atau 90,79 persen berasal dari layanan yang menjalankan PSO, KA Perintis, maupun penugasan pemerintah.

Menurut Anne, tingginya porsi layanan bersubsidi menunjukkan peran KAI sebagai penyedia transportasi publik yang menjangkau masyarakat luas dengan tarif terjangkau.

“Kepercayaan Pemerintah melalui PSO, KA Perintis, dan berbagai penugasan memberi ruang bagi KAI untuk melayani masyarakat secara lebih luas. KAI menjaga agar layanan tersebut tetap selamat, andal, tertib, dan sesuai kebutuhan pelanggan,” kata Anne.

Selain angkutan penumpang, bisnis logistik juga menjadi penopang pendapatan perusahaan. Selama Semester I 2026, KAI mengangkut 32.498.043 ton barang, terdiri atas 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton komoditas nonbatu bara.

Untuk memperkuat layanan tersebut, KAI telah mendatangkan 1.080 gerbong datar hingga Semester I 2026 guna meningkatkan kapasitas angkutan barang di Sumatra. Perseroan juga mengembangkan layanan KA Brumbung Cargo dengan kapasitas hingga 800 ton per rangkaian.

Adapun volume angkutan peti kemas mencapai sekitar 2,62 juta ton pada Semester I 2026 sebagai bagian dari pengembangan distribusi logistik berbasis rel.

“Layanan barang memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan ekonomi nasional. Penguatan sarana dan layanan terus dilakukan agar kereta api dapat melayani kebutuhan dunia usaha secara lebih efisien sekaligus membantu menjaga kelancaran distribusi komoditas strategis,” ujar Anne.

Dari sisi neraca, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp104,79 triliun. Liabilitas turun menjadi Rp65,11 triliun dari Rp66,14 triliun pada akhir 2025, sedangkan ekuitas meningkat menjadi Rp39,69 triliun dari sebelumnya Rp39,29 triliun.

Aset lancar juga naik menjadi Rp21,04 triliun dari Rp19,40 triliun pada akhir tahun lalu. Di sisi lain, kewajiban jangka pendek turun menjadi Rp15,17 triliun dari Rp16,20 triliun, sehingga posisi aset lancar masih lebih tinggi dibandingkan kewajiban jangka pendek perusahaan.

Meski demikian, laba sebelum pajak turun menjadi Rp842,69 miliar dari Rp1,86 triliun pada Semester I 2025. Laba tahun berjalan juga menurun menjadi Rp314,03 miliar dibandingkan Rp1,18 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya pencatatan bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan yang naik dari Rp948,20 miliar menjadi Rp3 triliun. Di luar faktor tersebut, KAI menyebut bisnis utamanya tetap mencatat pertumbuhan pendapatan, laba bruto, dan laba usaha.

KAI juga menyatakan terus menjalankan transformasi bersama Danantara Indonesia melalui peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, penguatan tata kelola, modernisasi layanan, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia.

“Transformasi dan sinergi bersama Danantara mendorong KAI untuk semakin disiplin dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat tata kelola, dan mengembangkan kompetensi pekerja. Setiap penguatan kinerja perusahaan diarahkan kembali untuk menghadirkan layanan transportasi yang selamat, andal, mudah diakses, serta memberi manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” tutup Anne.