Satu Peta K3: Ikhtiar Menghapus Titik Buta di Jalan Raya Bagi Driver Online

Pemerhati Kebijakan Publik. Alumni Magister Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Abdul Mukhlis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata kunci: Satu Peta K3, Driver Online, Pekerja Gig, Keselamatan Kerja, Kolaborasi Kebijakan
Pernahkah Anda memperhatikan tatapan mata seorang driver online saat mengantarkan makanan atau menjemput Anda di malam yang larut? Di balik senyum ramah dan ucapan "sesuai aplikasi ya, Pak," kerap tersembunyi rasa lelah yang teramat sangat.
Bagi ratusan ribu driver online di Indonesia, jalan raya bukan sekadar jalur lintasan, melainkan ruang kerja utama mereka. Namun, tidak seperti ruang kerja kantoran yang sejuk dan terlindungi, ruang kerja para driver ini sangat kejam.
Mereka terpapar terik matahari, hujan, menghirup polusi, membelah kemacetan berat, dan dikejar oleh tuntutan algoritma aplikasi yang tidak pernah tidur. Di ruang kerja jalan raya inilah, bahaya selalu mengintai di setiap kelokan dan lampu merah.
Anehnya, jika kita berbicara tentang keselamatan kerja, perlindungan negara seolah-olah hanya berhenti di pagar-pagar pabrik besar. Kita langsung membayangkan buruh dengan helm proyek kuning menyala atau sepatu bot tebal.
Keselamatan kerja seolah-olah menjadi barang mewah yang hanya dimiliki oleh pekerja formal. Sementara itu, realitas harian bagi driver online justru berbanding terbalik.
Mereka dibiarkan berada di area abu-abu perlindungan. Mereka sering kali terabaikan dan dianggap sebagai "mitra" yang harus menanggung sendiri setiap risiko di jalanan. Ketika terjadi kecelakaan fatal, barulah kita semua heboh, sedih, lalu melupakannya saat ada berita viral yang baru.
Membaca Tanda Bahaya Sebelum Musibah Tiba
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang yang pasif ini. Inti dari keselamatan kerja sebenarnya bukan tentang memakai alat pelindung diri yang lengkap setelah berada di zona bahaya.
Inti yang paling mendasar adalah kemampuan untuk membaca tanda-tanda bahaya dan mencegah musibah itu terjadi sebelum menjemput korban. Sayangnya, selama ini seperti berjalan di dalam kegelapan.
Data kecelakaan lalu lintas yang menimpa para pengemudi hanya berakhir menjadi angka-angka statistik yang kering di dalam laporan tahunan. Kita tahu ada ribuan kecelakaan di jalan raya, tetapi tidak pernah tahu di titik mana saja para driver ini paling sering bertumbangan.
Ini adalah titik buta terbesar dalam perlindungan tenaga kerja kita. Di sinilah teknologi pemetaan ruang atau geospasial harus hadir sebagai penyelamat.
Risiko di jalan raya selalu terikat pada lokasi dan waktu yang nyata. Melalui data pergerakan harian yang ada di aplikasi, sebenarnya bisa melihat dan memetakan "jalur-jalur merah" yang rawan di jalan raya.
Bukan hanya memetakan lokasi rawan tabrakan, teknologi ini bisa digunakan untuk melacak titik lelah yang menjadi ancaman besar bagi driver online, membaca secara presisi di rute mana dan setelah jam ke berapa seorang pengemudi biasanya mulai kehilangan fokus akibat kelelahan ekstrem.
Ketika sistem bisa mendeteksi titik lelah ini secara akurat, intervensi keselamatan bisa dilakukan secara nyata. Pihak aplikator bisa memberikan peringatan otomatis untuk rehat melalui aplikasi, atau pemerintah bersama mitra menyediakan pos-pos istirahat darurat di koordinat yang tepat.
Orkestrasi Raksasa dan Menjadikan Driver Sebagai Subjek
Ikhtiar besar untuk melindungi para pahlawan aspal ini tentu tidak akan pernah terwujud jika negara masih bekerja dalam kotak-kotak ego sektoral yang kaku dan terkadang dibuat rumit.
Mengurus keselamatan di jalan raya membutuhkan orkestrasi yang melibatkan lintas kementerian, lembaga, aplikator hingga pemerintah daerah. Kita membutuhkan sebuah payung besar terintegrasi yang konkrit dan nyata dalam konsep "Satu Peta K3 Nasional".
Kementerian Ketenagakerjaan tidak bisa lagi berjalan sendirian. Mereka harus berangkulan dengan Kementerian Perhubungan untuk mengatur tata tertib keselamatan transportasi jalan dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) guna mengawasi sisi kepatuhan algoritma aplikasi milik korporasi jasa digital.
Di sisi lingkungan dan jaminan sosial, Kementerian Lingkungan Hidup memantau indeks kualitas udara di jalur padat, sementara BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan berdiri siaga mengunci bantalan perlindungan saat risiko terburuk terjadi di lapangan.
Alur kolaborasi ini harus mengalir deras hingga ke level Pemerintah Daerah. Dinas Perhubungan dan Dinas Tenaga Kerja di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota adalah ujung tombak yang paling memahami karakteristik wilayah mereka.
Merekalah yang merekam data riil di lapangan, mengeksekusi pembangunan pos-pos istirahat darurat di koordinat yang rawan, serta memfasilitasi pemeriksaan kesehatan berkala bersama puskesmas setempat.
Seluruh data geospasial dan pergerakan dari daerah ini kemudian dihimpun secara akuntabel oleh Wali Data nasional untuk dikunci dalam satu sistem informasi tunggal yang bebas intervensi sepihak.
Menariknya, kontributor data untuk Satu Peta K3 ini kelak bukan cuma aparatur negara yang duduk di belakang meja atau petugas yang melakukan pengoperasian. Jiwa sejati dari peta keselamatan ini justru berada di tangan para driver online itu sendiri.
Melalui sistem pelaporan berbasis komunitas, para pengemudi di jalan raya bisa bertindak sebagai agen pelapor. Mereka bukan lagi sekadar objek yang dipantau, melainkan subjek aktif yang menggerakkan sistem keselamatan.
Ketika seorang driver melihat ada kecelakaan, kemacetan parah yang memicu stres, lubang jalan yang menganga, atau kejadian darurat di suatu titik koordinat, mereka bisa langsung mengirimkan laporan instan melalui sistem. Laporan dari "mata di lapangan" ini tentu tidak langsung mentah-mentah disebarkan.
Sebelum disampaikan kembali ke driver lain atau dilempar ke publik, sistem cerdas Wali Data bersama tim teknis di daerah akan melakukan verifikasi dan validasi cepat demi memastikan akurasi informasi. Pola ini membuat data K3 menjadi sangat hidup, organik, dan demokratis.
Ketika Satu Peta Keselamatan lintas sektoral yang partisipatif ini terwujud, negara akan memiliki mata digital yang tajam sekaligus jaring pengaman yang kokoh. Kita tidak lagi bertindak seperti pemadam kebakaran yang baru bergerak setelah ada nyawa driver yang melayang di jalanan.
Begitu peta digital memvalidasi adanya titik merah kerawanan, klaster kelelahan ekstrem, atau laporan bahaya dari komunitas di satu jalur, kolaborasi kebijakan dari pusat hingga daerah bisa langsung ditembakkan secara presisi untuk mengintervensi titik tersebut.
Memetakan risiko keselamatan dengan teknologi geospasial pada akhirnya bukan soal pamer kecanggihan dasbor di kantor kementerian. Ini adalah wujud nyata dari kemanusiaan yang adil dan beradab bagi ratusan ribu pengemudi yang telah menggerakkan urat nadi ekonomi digital kita.
Sudah saatnya kita hapus titik buta di jalan raya melalui kerja kolaboratif yang nyata dan inklusif. Karena siapa pun pekerjanya, dan dengan cara apa pun mereka berkontribusi menjaga keselamatan sesamanya, mereka berhak berangkat dengan semangat dan pulang ke rumah dengan selamat.
