Konten dari Pengguna

Asia Tengah Yang Masih Dalam Bayang-Bayang Rusia

Abdullah Akbar Rafsanjani
Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia
16 September 2025 9:30 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com
ADVERTISEMENT
Asia Tengah yang terdapat negara seperti Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan, dulunya merupakan bagian dalam Uni Soviet. Walau Uni Soviet sudah lama runtuh tetapi warisan administrasi, militer, hingga jaringan elitenya membuat Rusia tetap relevan di kawasan tersebut. Secara keamanan, Rusia masih memperlihatkan pengaruh pentingnya lewat organisasi keamanan kolektifnya yaitu CSTO. Intervensi yang pernah dilakukan CSTO di Kazakhstan telah menggambarkan bagaimana Rusia memobilisasi aliansi regionalnya ketika stabilitas terancam, akan tetapi juga menunjukkan suatu keterbatasan pengaruh. Intervensi lebih bersifat singkat dan selektif, bukan suatu jaminan kendali penuh untuk seluruh agenda keamanan kawasan. Dan ini memperlihatkan peran Rusia yang juga agak-agak rentan terhadap tekanan internal.
ADVERTISEMENT
Untuk sektor ekonomi, hubungan Rusia bersifat pragmatis dan saling mengikat. Terlihat, dimana jutaan migran dari Tajikistan, Kyrgyzstan, dan Uzbekistan bekerja di Rusia. Remitansi dari pekerja inilah yang jadi penyangga makroekonomi, terutama untuk Tajikistan yang menerima proporsi remitansi sangat besar untuk PDB. Ketergantungan ekonomi ini memberikan Rusia pengaruh non-militer mulai dari akses pasar, tenaga kerja, visa, dan kebijakan migrasi menjadi alat leverage ekonomi dan politik. Semakin kuat ketika Rusia terkena sanksi akibat invasi ke Ukraina, karena Moskow mencari jalur perdagangan alternatif melalui Asia Tengah sehingga menciptakan hubungan ekonomi yang dalam antara Rusia dan Asia Tengah.
Dalam projek strategis seperti kesepakatan Rusia untuk membangun pembangkit listrik tenga nuklir di Uzbekistan, menjadi langkah yang tidak hanya memperkuat ketergantugan teknologi atau enegri, tetapi menegaskan posisi diplomatik Rusia. Dan kesepakatan semacam itu menunjukkan meski pesaing seperti China, Turki, hinga Uni Eropa juga aktif menawarkan alternatif, Rusia mampu menawarkan proyek-proyek bernilai tinggi yang akhirnya memperkuat bayang-bayangnya di Asia Tengah.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, bayang-bayang Rusia ini tidak bersifat absolut. Terlihat semenjak Rusia melakukan aneksasi ke Krimea pada 2014 dan invasi Ukraina pada 2022, Asia Tengah lebih mengedepankan kebijakan yang berarah ke mempertahankan hubungan keamanan dan kultural dengan Rusia, tetapi di satu sisi juga sambil memperdalam kerja sama dengan Tiongkok, hingga membuka relasi baru ke Turki dan negara Barat. Langka ini dapat dibilang strategi hedging yang merupakan pemanfaatan maksimal dari banyak mitra sekaligus meminimalkan ketergantungan tunggal.
Sehingga hubungan Asia Tengah dengan Rusia bisa dibilang dilema, karena disatu sisi Asia Tengah perlu menjaga stabilitas domestik karena mereka kerap kali butuh dukungan keamanan dan ekonomi dari Rusia. Dan disatu sisi Asia Tengah mesti menjaga kedaulatan strategisnya dan melakukan diversifikasi mitra untuk membangkitkan ekonominya. Hingga saat ini, realita Asia Tengah masih ada ketergantungan signifikan terlebih untuk migrasi dan proyek energi. Tapi, masih ada ruang manuver untuk mengurangi bayang-bayang Rusia melalui kebijakan ekonomi dan diplomasi proaktif. Maka, masa depan Asia Tengah akan ditentukan melalui kemampuan mereka untuk menegosiasikan kepentingan domestik, kebutuhan pembangunan sambil perlahan menghilangkan unsur-unsur korup dan otoritarianisme, dan menghadapi tekanan geopolitik dari kekuatan eksternal.
ADVERTISEMENT