Konten dari Pengguna

Mengurai Fenomena Foreign Fighter di Perang Rusia-Ukraina Melalui Konstruktivism

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI Sumber: Dokumen Pribadi

Perang Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak Februari 2022 tidak hanya menciptakan perang antarnegara, tetapi juga memunculkan fenomena keterlibatan individu lintas batas dalam konflik bersenjata. Ribuan warga asing, baik mantan personel militer maupun warga sipil tanpa pengalaman tempur, bergabung dalam konflik melalui berbagai mekanisme.

Keterlibatan pasukan dari luar negeri ini kerap diidentikkan dengan kepentingan strategis atau keuntungan material. Tapi, jika hanya berhenti disitu, ini belum menjelaskan mengapa individu dari berbagai negara rela meninggalkan kehidupan normalnya sampai rela mengambil risiko kematian di medan perang. Dari hal tersebut, perspektif konstruktivisme menawarkan penjelasan alternatif bahwa tindakan politik tidak hanya didorong oleh kepentingan material, tetapi juga oleh identitas, norma, nilai, dan konstruksi makna.

Konstruktivisme berangkat dari asumsi bahwa realitas politik internasional tidak bersifat alamiah, melainkan dibentuk melalui interaksi sosial, gagasan, norma, dan identitas. Alexander Wendt (1992) menyatakan bahwa "anarchy is what states make of it" yang artinya kondisi anarki internasional memperoleh makna berdasarkan bagaimana aktor memahami dan membangun hubungan satu sama lain. Dalam perspektif ini, kekuatan material tetap penting, tetapi cara aktor memaknai kekuatan tersebut menentukan perilaku politiknya. Dengan demikian, perang tidak hanya menghasilkan kalkulasi mengenai keuntungan dan kerugian, tetapi juga menciptakan pertanyaan mengenai siapa yang dianggap sebagai "kawan", "lawan", "pahlawan", atau "agresor".

Individu yang memasuki perang asing harus lebih dahulu memberikan makna terhadap konflik tersebut. Seorang warga negara Eropa dapat melihat perang Ukraina sebagai perjuangan mempertahankan demokrasi dan kedaulatan. Sebaliknya, individu lain dapat melihat Rusia sebagai kekuatan yang mempertahankan tatanan konservatif atau melawan dominasi Barat. Ada pula individu yang tidak memiliki keterikatan ideologis kuat dan memandang perang terutama sebagai kesempatan ekonomi.

Dari Solidaritas hingga Fanboyism

Pada pihak Ukraina, sejumlah relawan asing bergabung karena merasa punya kewajiban moral untuk membantu negara yang dianggap sebagai korban agresi. Pertimbangan normatif dan etis menjadi faktor penting dalam keputusan sejumlah relawan. Tapi motivasi ini bukan berarti mengesampingkan motif lainnya atau mengeneralisasi. Karena ada juga yang sekedar memerlukan uang dari menjadi relawan.

Ini juga terjadi di pihak Rusia. Sebagian relawan pasukan asing dapat memiliki keterikatan ideologis atau identitas yang kuat terhadap Rusia. Mereka mungkin melihat Rusia bukan sekadar negara asing, tetapi sebagai representasi nilai, identitas geopolitik, nasionalisme, atau perlawanan terhadap Barat. Dalam bentuk ekstrem, keterikatan tersebut dapat menyerupai seperti fanboy. Individu kerap mengidentifikasi dirinya secara emosional dengan suatu negara atau pemimpin sehingga konflik yang sebenarnya jauh dari kehidupan mereka dipersepsikan sebagai perjuangan kelompok mereka sendiri.

Konsep collective identity menjelaskan fenomena tersebut. Identitas tidak harus selalu berasal dari kewarganegaraan. Individu dapat membangun identitas berdasarkan ideologi, nilai politik, agama, nasionalisme, atau pandangan mengenai tatanan dunia. Karena itu, seseorang dapat merasa memiliki kepentingan terhadap kemenangan negara lain meskipun tidak memiliki kewarganegaraan negara tersebut.

Ketika Uang Juga Menjadi Motif

Namun, menjelaskan seluruh foreign fighter sebagai produk identitas juga akan menghasilkan bias. Perlu dicatat bahwa perang Rusia-Ukraina terdapat individu yang bergabung terutama karena pertimbangan material. Rusia, misalnya, menggunakan insentif berupa gaji, bonus perekrutan, dan peluang memperoleh kewarganegaraan untuk menarik warga asing.

Rusia menunjukkan bahwa uang dan kewarganegaraan merupakan motivasi penting bagi sejumlah perekrut dari negara ketiga. Perbedaan tersebut penting karena menunjukkan bahwa motivasi material dan normatif tidak selalu saling meniadakan. Seorang individu dapat sekaligus percaya pada suatu perjuangan dan memperoleh keuntungan finansial dari keterlibatannya.

Pertarungan Label dan Legitimasi

Konstruktivisme juga membantu menjelaskan mengapa istilah yang digunakan untuk menyebut foreign fighter menjadi bagian dari perang itu sendiri. Ukraina cenderung menggunakan istilah seperti International Legion dan Foreign Volunteers, yang mengonstruksi mereka sebagai bagian dari pertahanan Ukraina. Sebaliknya, Rusia dapat menggambarkan sebagian pejuang asing di pihak Ukraina sebagai mercenaries atau instrumen negara-negara Barat.

Begitupun di pihak Rusia juga, Foreign Fighter dikonstruksi sebagai sukarelawan, sekutu, patriot, atau tentara bayaran tergantung siapa yang berbicara. Dengan demikian, label bukan sekedar deskripsi objektif. Ia juga instrumen untuk menentukan legitimasi. Hal ini memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina terjadi tidak hanya di medan fisik, tetapi di medan konstruksi makna.

Setiap pihak berusaha menentukan narasi mengenai siapa yang berjuang karena keyakinan, siapa yang berjuang karena uang, dan siapa yang dianggap sebagai agen kepentingan asing. Dengan demikian, foreign fighter bukan hanya persoalan siapa yang membayar atau siapa yang menawarkan senjata, tetapi juga mengenai mengapa seseorang merasa bahwa perang milik orang lain dapat menjadi perjuangannya sendiri. Perang bukan hanya pertarungan mengenai wilayah dan kekuatan, tetapi juga pertarungan identitas dan legitimasi.