Penguatan Kembali Hubungan Beijing-Pyongyang dan Dampaknya bagi Asia Pasifik

Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Upaya Beijing untuk merajut kembali hubungan erat dengan Pyongyang muncul di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks di Asia Timur, dan terlebih setelah beberapa tahun mengalami perenggangan terutama saat Covid-19. Di satu sisi, Korea Utara semakin dekat dengan Rusia sejak perang di Ukraina. Di sisi lain, rivalitas strategis antara Tiongkok dan Amerika Serikat semakin tajam di kawasan Asia Pasifik. Bagi Tiongkok, Korea Utara punya arti penting, karena secara historis Korea Utara menjadi buffer state yang memisahkan kehadiran militer AS di semenanjung Korea. Dan itu terbukti saat Perang Korea (1950-1953), Korea Utara menjadi buffernya sebelum pasukan koalisi PBB yang dipimpin AS mendekati wilayah Tiongkok.
Maka, Tiongkok punya kepentingan untuk memastikan Korea Utara tetap di orbit geopolitiknya. Penguatan kembali hubungan ekonomi, pembukaan jalur perdagangan, serta interaksi diplomatik yang lebih intens menunjukkan bahwa Tiongkok berupaya mengembalikan pengaruhnya. Namun, bukan berarti Korea Utara sepenuhnya dipengaruhi Tiongkok. Korea Utara memanfaatkan rivalitas yang terjadi antara tiga kekuatan besar dengan Tiongkok dijadikan mitra ekonomi utara, Rusia di kemitraan militer dan politik, dan Amerika Serikat yang menjadi aktor untuk mendapatkan konsesi strategis melalui diplomasi dan menyatukan persepsi masyarakat Korea Utara tentang ancaman terhadap negara. Strategi ini memungkinkan Korea Utara memaksimalkan bantuan ekonomi dan dukungan militer sambil tetap mempertahankan kemandirian strategisnya.
Jika hubungan ini semakin erat, sudah tentu akan memicu respon AS dan sekutunya seperti Korea Selatan dan Jepang, yang kemungkinan akan memperkuat kerja sama pertahanan mereka dengan Washington. Hubungan Korea Utara dan Rusia saja sudah memperkuat blok strategis untuk menantang dominasi Barat di kawasan, sehingga dengan eratnya hubungan Tiongkok-Korea Utara akan memperdalam polarisasi geopolitik di Asia Pasifik. Jika dinamika ini terus berkembang, Asia Pasifik dapat memasuki fase baru di mana politik keseimbangan kekuatan kembali menjadi faktor dominan dalam hubungan internasional kawasan. Ini juga berpotensi memperdalam rivalitas antara blok yang dipimpin AS dan blok aliansi yang lebih dekat dengan Tiongkok, termasuk Rusia.
Maka, bisa dikatakan bahwa masa depan stabilitas Asia Pasifik akan bergantung di bagaimana dinamika hubungan ini akan berkembang serta respon lanjutannya. Negara-negara seperti di Asia Tenggara mesti mengantisipasi perubahan aliran perdagangan dan investasi yang kerap dipengaruhi dari kawasan di Asia Timur itu. ASEAN mesti menjadi mediator atau penyeimbang pengaruh yang terjadi di Asia Pasifik sambil terus memperkuat kapabilitas internal kawasannya.
Negara-negara ASEAN dapat memanfaatkan momen ini untuk memperkuat peran diplomasi regional, misalnya melalui mekanisme seperti ASEAN Regional Forum atau East Asia Summit. Dengan tetap menjaga netralitas strategis, ASEAN bisa menjadi penyeimbang di tengah rivalitas besar, sekaligus memastikan stabilitas ekonomi dan tentunya keamanan maritim tetap terjaga khususnya isu Laut China Selatan.
