Konten dari Pengguna

Manusia Air dari Atap Dunia: Mengenal Suku Ngalum di Pegunungan Bintang

Abenong Yumarlita D Sitokmabin

Abenong Yumarlita D Sitokmabin

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Advent Indonesia. Tertarik pada isu budaya dan masyarakat adat Indonesia.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abenong Yumarlita D Sitokmabin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hutan lebat Papua. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hutan lebat Papua. Foto: Shutterstock

Di antara punggung pegunungan tertinggi Papua, tersembunyi sebuah suku yang begitu dalam menghayati makna air—bukan sekadar sebagai sumber kehidupan, melainkan juga sebagai identitas paling mendasar dari siapa mereka.

Ketika Nama adalah Takdir

Bayangkan sebuah masyarakat yang menamai dirinya berdasarkan elemen paling purba di Bumi. Itulah yang dilakukan oleh suku Ngalum, sebuah kelompok etnis yang mendiami Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, di ketinggian yang membuat udara terasa tipis dan langit terasa bisa direngkuh dengan tangan.

Kata "Ngalum" sendiri bukan sekadar label. Ia adalah cerminan dari cara hidup. Antropolog mencatat bahwa istilah "Ok" yang juga digunakan untuk menyebut kelompok etnis ini secara lebih luas berarti air dalam bahasa mereka sendiri.

Hal itu bukanlah suatu kebetulan. Suku Ngalum selalu memilih untuk bermukim di dekat sumber air : sungai, mata air, aliran kecil yang mengalir dari lereng-lereng Pegunungan Bintang. Bahkan, nama-nama tempat di wilayah mereka hampir semuanya diawali dengan kata "ok": sungai ini, sumber itu, aliran yang satu lagi.

"Air bukan hanya tempat mereka minum. Air adalah alamat rumah mereka."

Puncak Mandala: Gunung yang Melahirkan Manusia

Puncak Mandala dari barat laut. Foto: Christian Stang/Flickr

Untuk memahami suku Ngalum, seseorang harus terlebih dahulu memandang ke arah Puncak Mandala, salah satu puncak tertinggi di Papua yang menyentuh ketinggian lebih dari 4.700 meter di atas permukaan laut. Bagi dunia luar, ini adalah puncak yang ditaklukkan oleh para pendaki berpengalaman. Bagi suku Ngalum, ini adalah tempat kelahiran.

Mitologi mereka yang dikenal sebagai mitos Aplim Apom Sibilki, berkisah bahwa sang pencipta alam semesta, yang mereka sebut Atangki, menciptakan leluhur pertama suku Ngalum bernama Kaka I Onkora dan Kaka I Ase tepat di atas puncak keramat itu. Dalam kepercayaan ini, setiap batu dan setiap embusan angin di Puncak Mandala menyimpan memori tentang asal muasal manusia Ngalum.

Nama Aplim Apom sendiri menyimpan falsafah yang kaya. "Ap" berarti rumah, "Lim" bermakna darah atau api, dan "Om" adalah keladi, tanaman umbi yang menjadi tulang punggung kehidupan mereka. Laki-laki dilambangkan oleh Aplim; perempuan oleh Apom. Secara bersama-sama, mereka membentuk seluruh eksistensi manusia: api dan tanah, rumah dan pangan, lelaki dan perempuan.

Atangki, sang pencipta, dipercaya tidak bersemayam jauh di langit ketujuh. Ia hadir dalam alam itu sendiri dalam desiran angin, dalam aliran air sungai, dalam setiap makhluk yang bernapas. Ketika misionaris Katolik tiba pada tahun 1956, konsep Atangki akhirnya bertaut dengan konsep Allah dalam Kekristenan, sebuah pertemuan dua semesta kepercayaan yang berjalan damai.

Di Batas Dua Negara, Satu Jiwa

Garis perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini yang ditarik oleh tangan-tangan kolonial pada abad ke-19 membelah banyak hal: hutan, sungai, bahkan suku bangsa. Suku Ngalum adalah salah satu yang terbelah itu. Dari total populasi yang diperkirakan lebih dari 53.000 jiwa, sekitar 29.000 berada di sisi Indonesia, dan sekitar 24.000 lainnya hidup di Provinsi Sandaun, Papua Nugini.

Ilustrasi Papua Nugini. Foto: IG @papuanewguineans

Namun, garis itu, bagi suku Ngalum, adalah goresan di atas kertas. Bahasa mereka tetap satu. Mitologi mereka tetap sama. Dan yang paling abadi: ikatan mereka dengan air, dengan lereng Puncak Mandala, dengan ritual-ritual yang telah dijalankan oleh nenek moyang mereka jauh sebelum ada peta yang membagi dunia.

Di sisi Indonesia, mereka adalah kelompok mayoritas di Kabupaten Pegunungan Bintang yang mencakup lebih dari 42 persen total penduduk. Sebuah kehadiran yang bukan sekadar angka, melainkan juga sebuah peradaban yang terus berdenyut di jantung salah satu hutan tropis paling terpencil di bumi.

Warisan yang Terus Mengalir

Seperti sungai-sungai yang mengaliri tanah mereka, kebudayaan Ngalum tidak pernah diam. Masyarakat mereka terorganisasi dalam sistem iwolmai klan-klan patrilineal yang saling menopang, dipimpin oleh tokoh-tokoh yang dipilih bukan semata-mata karena darah, melainkan juga karena melewati serangkaian inisiasi yang panjang dan berat. Tercatat ada 417 iwolmai yang tersebar di seluruh Pegunungan Bintang, sebuah jaringan sosial yang rapat dan saling menjaga.

Hari ini, mayoritas suku Ngalum telah memeluk agama Katolik, sebuah transformasi yang dimulai tujuh dekade lalu, tetapi tidak menghapus lapisan-lapisan kearifan lokal yang lebih tua. Di banyak sudut kehidupan mereka, Atangki dan Allah berjalan berdampingan, seperti dua anak sungai yang akhirnya bertemu di muara yang sama.

Dan di saat dunia bergerak semakin cepat, suku Ngalum tetap ingat dari mana mereka berasal: dari puncak gunung yang menyentuh awan, dari tepi sungai yang mengalir tanpa henti, dari sebuah kata kecil, tetapi dalam maknanya.