Wamenkes Ungkap Siswa Coba Bunuh Diri Melonjak 2,7 Kali Lipat: Usia 11-17 Rentan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Spesial Jangan Bunuh Diri. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konten Spesial Jangan Bunuh Diri. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkap peningkatan pikiran dan percobaan bunuh diri pada siswa. Berdasarkan Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2015 dan 2023, persentase siswa yang berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat sekitar 1,6 kali lipat.

Dante mengatakan, persentase siswa yang berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.

“Di siswa sekolah yang berpikiran mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, itu ternyata naik 1,6 kali lipat. Hampir dua kali lipat pikiran bunuh diri yang ada di siswa,” kata Dante dalam Temu Media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9).

Tak hanya pikiran bunuh diri, persentase siswa yang mencoba mengakhiri hidup juga mengalami peningkatan. Berdasarkan data GSHS, angkanya naik sekitar 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

“Dan yang mencoba, yang sudah mencoba, itu naik 2,7 kali lipat kalau kita bandingkan kelompok umur,” ujarnya.

Dalam paparannya, Dante menyebut usia 11-17 tahun merupakan kelompok usia yang rentan mencoba bunuh diri.

“Usia 11 sampai 17 merupakan usia yang rentan untuk mencoba untuk bunuh diri di kelompok usia yang kita lihat dan kita evaluasi,” tutur Dante.

Wakil Menteri Kesehatan 1, Dante Saksono Harbuwono, dalam agenda Temu Media bertema (Rangkul Jiwa, Hapus Stigma: Layanan Kesehatan Mental Inklusif untuk Semua) di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Menurut dia, masalah kesehatan jiwa kerap tidak terlihat secara fisik. Dante menuturkan, seseorang dapat tampak sehat dari luar, tetapi sebenarnya mengalami masalah kesehatan mental.

“Jadi teman-teman sekalian, kesehatan jiwa itu adalah fenomena gunung es. Orang sebenarnya kelihatan sehat, tapi sebenarnya kalau kita evaluasi, dia punya masalah,” jelas dia.

Kondisi tersebut, lanjut Dante, dapat dialami oleh siapa saja tanpa mengenal usia, jenis kelamin, maupun status ekonomi.

“Dan ini bisa mengenai siapa saja, tidak mengenal usia, tidak mengenal jenis kelamin, dan tidak mengenal status ekonomi,” ujarnya.