Konten dari Pengguna

Gadis Garut: Menguak Fakta Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Review Novel)

Abim Faqocth

Abim Faqocth

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abim Faqocth tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cover depan cetakan pertama. Sumber: Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Cover depan cetakan pertama. Sumber: Foto Pribadi
Cover Belakang cetakan pertama. Sumber: Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Cover Belakang cetakan pertama. Sumber: Foto Pribadi

Sejak abad ke-20, prosa mengalami perkembangan yang pesat terutama pada genre roman yang dikemas pada novel dan cerpen. Pada waktu itu novel jauh lebih maju dari hikayat karena cerita yang dimuat tidak lagi mengisahkan kehidupan khayali, tetapi kehidupan yang lebih realistis. Hal ini mengacu pada karya sastra sebagai cerminan dari kehidupan yang nyata.

Kelihaian penulis dalam membuat prosa tentunya memengaruhi daya tarik sendiri bagi pembaca. Semakin liar pemikiran penulis, maka akan semakin sulit ditebak dan membuat pembaca penasaran dengan jalan ceritanya

Novel Gadis Garut adalah salah satu novel roman kehidupan multietnik Indonesia abad ke-20 yang tidak kalah saing dengan novel Siti Nurbaya (1922) karangan Marah Rusli terbitan Balai Poestaka.

Gadis Garut merupakan novel terjemahan dari dua jilid buku bahasa Arab berjudul Fatat Garut, jilid pertama dicetak di Solo dan jilid kedua dicetak di Jakarta, keduanya diterbitkan pada tahun 1920.

Penulis dari novel ini adalah Sayid Ahmad Abdullah Assegaf, seorang ulama sekaligus sastrawan kelahiran kota Syihr, Yaman. Sayid Ahmad dikenal gemar melakukan perjalanan ke berbagai negeri untuk menemui ulama, menelaah keadaan negeri yang dikunjunginya, dan mengadakan dialog dengan para cendikiawan. Oleh karena itu beliau sangat dikagumi oleh beberapa lembaga ilmiah pada masa itu.

Sayid Ahmad memiliki kecintaan kepada Indonesia, bahkan beliau ikut berjuang dengan melancarkan kritikan tajam terhadap penjajah Belanda yang dimuat di berbagai penerbitan di masa kolonial. Kecintaannya terhadap Indonesia lahir karena bangsa Indonesia yang ramah serta Indonesia memiliki keindahan alam yang sangat memanjakan mata. Ini karena beliau merupakan sosok yang memiliki jiwa seni tinggi dan perasaan yang halus sehingga mudah tersentuh oleh keindahan.

Gadis Garut (Fatat Garut) adalah bukti dedikasi beliau selama berada di Indonesia. Pada BAB awal buku ini Sayid Ahmad menuliskan keindahan kota Garut yang dilihat dari berbagai sudut. Keindahan tersebut beliau sajikan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Allah SWT yang telah menciptakan keindahan yang lewat kota Garut.

Novel ini mengambil seting masa penjajahan Belanda di Indonesia di akhir tahun 20-an. Sebagian besar kisahnya berlatar di Garut. Para pelakunya terdiri dari berbagai bangsa dengan segala keunikannya masing-masing. Pemeran utama dalam novel ini adalah Neng dan Abdullah. Neng digambarkan sebagai seorang gadis Sunda kelahiran Tanah Arab yang cantik rupawan, lemah lembut, cerdas, sabar, dan berpengetahuan luas. Ia juga pandai bergaul dan pemberani, namun selalu menjaga batasan-batasan kesopanan dan menunjukan akhlak yang Islami. Sedangkan Abdullah, kekasih Nneng adalah seorang Arab kelahiran Hadramaut, yang berpendidikan cukup, berakhlak mulia, pandai bergaul, dan sangat mencintai keindahan.

Kisah cinta antara Neng dan Abdullah bercerita tentang percintaan dengan segala likunya. Dari kisah itu penulis membunyikan banyak pelajaran dan informasi berharga. Kejelian penulis terhadap masalah sosial yang terjadi pada abad ke-20, terutama tentang kehidupan multietnik. Beberapa fakta sejarah pun tak luput dari kejeliannya. Penulis menyajikan itu dalam dialog antar tokoh dan dikemas dalam bentuk yang ringan.

Pada cetakan pertama novel Gadis Garut ini terdiri dari 275 halaman dan cetakan kedua 370 halaman. Lewat jumlah halaman yang tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit ini Sayid Abdullah mengemas alur dengan segala konflik yang sangat apik. Selain kisah cinta yang membuat pembaca terbawa dalam suasana, novel ini juga mengandung nilai budaya, nilai sosial, nilai agama, dan nilai pendidikan yang membentuk kesatuan utuh dalam alur ceritanya.

Sayid Ahmad menulis novel ini sebagai media informasi dan pendidikan mengenai keilmuan yang lahir dari bangsa Arab dan mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Mungkin nilai-nilai ini jarang ditemui pada novel roman di masa ini dan menjadi yang lebih unggul pada masa itu.

Pada BAB 6 yang berjudul Antara Ilmu dan Harta penulis menyuguhkan perdebatan tentang kedudukan bangsa Eropa dan bangsa Arab. Perdebatan tersebut berlangsung antara Neng dan Van Ridijk yaitu seorang pemilik pabrik yang akan dijodohkan dengan Neng. Van Ridijk memandang bahwa bangsa Arab adalah orang-orang yang memiliki tabiat yang buruk dan tidak memiliki kemajuan, namun pendapat itu dibantah oleh Neng dengan pendapat yang cerdas serta bukti-bukti yang faktual.

Penulis menyuguhkan perdebatan tersebut dengan menghadirkan tokoh De Mould seorang misionaris Amerika sebagai penengah, namun Neng menganggap bahwa De Mould hanyalah menjadi musuh keduanya karena selalu beranggapan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan Industri lahir dari orang-orang barat.

Dengan kecerdasannya, Neng tidak mengingkari bahwa kelebihan orang-orang barat atau yang lainnya. Neng menjelaskan bahwa kemajuan teknologi pada masa itu adalah hasil kemajuan ilmu fisika dan industri di Eropa di abad-abad akhir. Neng juga menjelaskan bahwa kebanyakan orang-orang Barat mengingkari bahwa orang-orang Arab adalah guru dari orang-orang Barat.

Seandainya bukan karena jasa orang-orang Arab dalam mengemban ilmu pada masa kemajuan mereka, maka orang-orang Barat tidak akan menjadi seperti sekarang. Pelayanan orang-orang Arab terhadap ilmu merupakan rantai terkuat dalam pemindahan ilmu dari orang-orang terdahulu kepada orang-orang kemudian.

Bukti sejarah yang didapat De Mould dijelaskan dalam dialognya yaitu: “Sesungguhnya ilmu-ilmu yang sekarang dipelajari di sekolah-sekolah tinggi di Eropa dan di Amerika sebagian besar adalah baru. Mungkin sebagiannya ada yang berakar dari ilmu-ilmu orang-orang Yunani dan yang lainnya. Tetapi akar-akar itu dan pemikiran-pemikiran yang lama tersebut tidak memiliki manfaat yang berarti bagi orang-orang Eropa dalam perkembangannya yang sekarang. Sedangkan mengenai orang-orang Arab, kami belum pernah membaca seorang pun ahli Sejarah Barat atau yang lainnya yang menyebut bahwa mereka memiliki peranan dalam menyebarkan ilmu atau meningkatkannya walaupun di negeri mereka sendiri apalagi di negeri-negeri yang jauh dari mereka. Ya, saya memang melihat di sebagian buku-buku sejarah Arab bahwa penduduk Andalusia belajar ilmu-ilmu sulap dan mantra-mantra dari orang-orang Arab. Apakah ini yang membuat orang-orang Arab menjadi guru bagi orang-orang Barat? Manfaat apa yang diambil orang-orang Eropa dalam hal itu? Inilah yang diketahui tentang orang-orang Arab”. Demikian kata De Mould.

Setelah perkataan De Mould tersebut Neng membantah dengan menyertakan beberapa bukti. “Sesungguhnya kita banyak berhutang kepada orang-orang Arab walaupun orang lain mengatakan sesuatu tang bertentangan dengan hal itu. Sesungguhnya mereka itu merupakan rantai yang menyambungkan kemajuan orang-orang Eropa dahulu dengan kemajuan, keberhasilan, dan ketinggian semangat mereka sekarang. Orang-orang Eropa beralih untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan bangkit dari tidurnya yang nyenyak pada abad-abad kegelapan. Kita berhutang budi pada mereka dalam hal pengembangan ilmu alam, ilmu seni yang berguna”. Ujarnya.

Sejarah telah mengatakan orang-orang Eropa telah mengambil ilmu dari orang-orang Arab tentang pembuatan kertas, mesiu, gula, tembikar, obat-obatan, tenunan, serta penyamakan kulit dan pengeringannya. Ulat sutera, biji-bijian, hasil tanaman, serta barang-barang yang tidak ada di Eropa dimasukan oleh orang-orang Arab dan barang-barang itu masih dikenal sampai sekarang dalam bahasa Eropa yang mengalami sedikit perubahan dari bahasa Arabnya seperti ruz menjadi rice, sukar menjadi sugar, za’faron menjadi saffron, dan quthn menjadi cotton.

Dalam novel Gadis Garut ini Neng juga mengemukakan bahwa ilmu kimia yang berkembang sekarang dibangun berdasarkan susunan kimia yang ditemukan oleh orang-orang Arab dan sebagiannya masih menggunakan nama Arabnya seperti alcohol, alkalies, dan borac.

Ensiklopedi-ensiklopedi Barat juga menyebutkan faedah-faedah ilmiah, kedokteran, kimia, dan yang lainnya diperoleh orang-orang Barat dari orang-orang Arab. Keterangan-keterangan tersebut dapat diperoleh dalam buku; Dr. Gustave Le Bon - La civilisation des arabes par le yang diterbitkan di Paris tahun 1884, S. P. Scott - History of the Moorish Empire in Europe 3 vol yang diterbitkan di London tahun 1904, dan Die Ubersetzungen arabisccher Werke in das Lateinischevon Wustenfeld yang diterbitkan di Gottingen tahun 1871.

Selain itu, orang-orang Arab juga berperan dalam perkembangan filsafat dan melahirkan para filosof terkenal seperti Al- Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali dan lainnya. Sejarah filsafat dan filosof dari Arab tersebut dapat didapat pada buku; Boer - The History of Philosophy in Islam yang diterbitkan di London tahun 1903, Dietrici - Die Philosiphie der Araber in x Jahrhundert n. Chr. Yang diterbitkan di Leipzig tahun 1897, Dugat - Histoire des Philoshophes et des theologiens muselmans yang diterbitkan di Paris tahun 1878, dan Leclerc - Histoire de la medicine arabe 2 vol yang diterbitakan di paris tahun 1876.

Buku-buku barat tersebut membuktikan bahwa akar dari kemajuan ilmu pengetahuan dan industri berasal dari orang-orang Arab sehingga kebenaran tersebut tidak bisa dipungkiri apalagi ditutupi. Sejarah merupakan disiplin multifaset yang bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran budaya serta pemahaman moral dan budi pekerti. Suatu bangsa yang tidak melupakan sejarah akan mudah bangkit karena memiliki pegangan yang kuat.