Aurora 1859 yang Luar Biasa dan Jangan Sampai Terulang

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Badai matahari pada 2 Septemnber 1859 yang dikenal sebagai Peristiwa Carrington merupakan badai matahari dengan semburan terbesar sepanjang sejarah. Layanan komunikasi telegraf menjadi lumpuh di seluruh Amerika Utara dan Eropa karena kabel sambungan mengeluarkan percikan api sehingga kertas telegraf menjadi terbakar. Tetapi setelah kejadian itu fenomena alam menakjubkan tampak di langit wilayah kutub bumi.
Fenomena alam yang dimaksud pada tahun tersebut adalah aurora atau cahaya utara (northern lights). Aurora yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer tercipta karena adanya interaksi medan magnetik bumi yang menyerap partikel yang dipancarkan matahari saat sedang bergejolak.
Ketika matahari sudah tenggelam ke barat, aurora dengan paduan warna biru, hijau, ungu dan terkadang merah muncul membentang di atas angkasa langit di belahan bumi bagian utara. Banyak yang belum tahu fenomena alam apa yang terjadi saat itu, mereka mengira terjadi kebakaran di suatu tempat atau bahkan mengira akan terjadi malapetaka untuk menghukum manusia.
Kejadian aurora memang berhubungan dengan badai matahari. Sebelum fenomena alam itu terjadi, ahli perbintangan Richard Carrington mengamati matahari lewat teleskopnya. Teleskop milik Carrington sudah dirancang khusus mengamati matahari dengan memproyeksikan gambar matahari selebar 11 inci. Carrington terus mengamati secara berkala dua bintik matahari yang bersinar terang dan semakin membesar sebesar kacang merah di dalam teleskopnya.
Ketika sudah mencapai intensitas maksimum, titik bercahaya tadi perlahan meredup dan menghilang lima menit kemudian. Carrington tidak tahu apa itu, tetapi ia sadar sesuatu yang luar biasa dan penting sudah terjadi. "Saya buru-buru memanggil seseorang untuk melihat peristiwa itu dengan saya. Sekembalinya 60 detik, saya malu karena
sudah sangat berubah dan menjadi bahan cibiran," ungkap Carrington. Beruntung, Carrington mengabadikan peristiwa tersebut lewat sebuah sketsa.
Atraksi dari alam berupa aurora yang muncul karena semburan matahari saat itu tak hanya terjadi di belahan bumi bagian utara saja. Orang-orang yang tinggal di wilayah tropis seperti Kuba, Bahama, Jamaika, El Salvador, dan Hawaii juga dapat menyaksikannya.
Namun untuk berharap fenomena alam aurora yang tercipta karena bantuan semburan matahari terjadi kita mesti berpikir ulang. Dampak yang besar akan diterima semua orang di bumi yang bergantung dengan barang-barang elekronik.
"Jika badai matahari dengan intensitas sebesar itu menghantam bumi hari ini, akan terjadi gangguan yang meluas dari berbagai infrastruktur modern yang kita gunakan mulai dari internet, jaringan telepon, sinyal televisi, bahkan saluran air. Satelit juga akan gagal berfungsi, termasuk GPS, yang akan mengganggu layanan penerbangan dan navigasi kapal. Pesawat tidak dapat terbang, transaksi bank terhambat, dan bahkan perangkat rumah sakit akan terganggu. Badai atau semburan matahari yang disaksikan Carrington secara efektif akan membuat dunia kembali ke zaman kegelapan," begitulah yang disampaikan Science Alert.
Sumber: science.nasa.gov | news.nationalgeographic.com | amusingplanet.com
